KENDARI — Gelombang pembangunan smelter nikel di Sulawesi Tenggara terbukti menjadi titik balik (game changer) bagi penerimaan negara.
Hingga 31 Maret 2026, realisasi APBN di wilayah ini mencapai Rp5.3 triliun, dengan lonjakan signifikan pada sektor perpajakan dan kepabeanan.
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Sulawesi Tenggara, Iman Widhiyanto, menegaskan bahwa hilirisasi nikel memberi dampak langsung terhadap kas negara.
“Peningkatan penerimaan, khususnya dari kepabeanan, sangat dipengaruhi oleh tingginya impor peralatan untuk pembangunan smelter. Ini menunjukkan investasi di sektor hilirisasi nikel semakin masif,” ujarnya Senin (27/4/2026).
Bea Masuk Melejit, Target Terlampaui di Triwulan I
Penerimaan kepabeanan di Sultra tercatat Rp178,89 miliar atau tumbuh 715,43% (year-on-year). Bahkan, capaian ini telah melampaui target hingga 111,72% hanya dalam tiga bulan pertama 2026.
Lonjakan tajam ini tidak lepas dari kebutuhan impor besar-besaran untuk pembangunan fasilitas smelter, mulai dari mesin utama hingga infrastruktur pendukung yang sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri.
Pajak Ikut Terdongkrak
Dampak hilirisasi juga menjalar ke sektor perpajakan. Hingga akhir Maret 2026, penerimaan perpajakan mencapai Rp967,58 miliar, tumbuh 46,58%.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi penyumbang terbesar dengan lonjakan hingga 441,95%, dipicu oleh meningkatnya aktivitas ekonomi, baik dari sisi investasi maupun konsumsi masyarakat.
Namun demikian, penerimaan dari sektor pertambangan hulu masih belum optimal. Sejumlah perusahaan tambang masih menunggu terbitnya dokumen RKAB, sehingga kontribusinya terhadap penerimaan negara belum maksimal.
“Kami melihat potensi dari sektor tambang masih besar, dan akan semakin optimal seiring percepatan perizinan,” tambah Iman Widhiyanto.
APBN Dorong Akselerasi Ekonomi
Di sisi belanja, realisasi APBN Sultra mencapai Rp5,3 triliun atau 25,37% dari pagu, tumbuh 33,38% dibandingkan tahun sebelumnya. Belanja negara ini menjadi pendorong utama aktivitas ekonomi daerah.
Penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) juga mencapai Rp3.911,50 miliar atau 28,75% dari alokasi, memperkuat peran fiskal dalam mendukung pembangunan daerah, termasuk kawasan industri berbasis nikel.
Hilirisasi Nikel Ubah Wajah Ekonomi
Fenomena ini menegaskan bahwa smelter nikel bukan hanya proyek industri semata, tetapi telah mengubah struktur ekonomi Sulawesi Tenggara. Dari lonjakan investasi, peningkatan impor, hingga melesatnya penerimaan negara—semuanya terhubung dalam rantai hilirisasi.
Ke depan, optimalisasi sektor hulu dan penguatan industri dalam negeri menjadi kunci agar dampak ekonomi dari smelter tidak hanya besar, tetapi juga berkelanjutan dan merata. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini


Comment