KENDARI — Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Sulawesi Tenggara menunjukkan tren positif di awal 2026.
Hingga 31 Maret 2026, realisasi belanja negara telah mencapai Rp5.338,74 miliar atau 25,37% dari pagu, tumbuh signifikan 33,38% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Sulawesi Tenggara, Iman Widhiyanto, menyebut capaian ini menjadi sinyal kuat akselerasi fiskal di daerah.
“Realisasi APBN yang tumbuh signifikan ini menunjukkan adanya percepatan belanja negara di awal tahun 2026, sekaligus menjadi motor penggerak bagi penguatan ekonomi daerah, khususnya dalam mendukung kedaulatan pangan, energi, dan ekonomi,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Secara makro, ekonomi Sultra juga mencatat kinerja solid.
Pada triwulan IV 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,94% (year-on-year), meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tercatat Rp55,03 triliun atas dasar harga berlaku.
Sementara itu, inflasi pada Maret 2026 berada di angka 3,37% (y-on-y). Tekanan harga terutama berasal dari kelompok perumahan, energi rumah tangga, serta perawatan pribadi.
Smelter Nikel Picu Lonjakan Penerimaan
Dari sisi pendapatan negara, penerimaan perpajakan hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp967,58 miliar. Penerimaan pajak tumbuh 46,58%, sementara penerimaan kepabeanan melonjak tajam hingga 715,43%.
Menurut Iman Widhiyanto, lonjakan ini tidak lepas dari aktivitas industri pengolahan nikel di Sultra.
“Peningkatan signifikan pada penerimaan kepabeanan didorong oleh tingginya impor peralatan untuk pembangunan smelter. Ini menunjukkan geliat investasi industri hilirisasi, khususnya nikel, yang semakin kuat di Sulawesi Tenggara,” jelasnya.
Selain itu, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) juga melonjak hingga 441,95%, didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR).
Namun demikian, ia mengakui penerimaan dari sektor pertambangan masih belum optimal.
“Kami melihat potensi penerimaan dari sektor tambang masih bisa ditingkatkan, terutama setelah kepastian dokumen RKAB bagi pelaku usaha,” tambahnya.
PNBP Tumbuh, BLU Pendidikan Melejit
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di Sultra mencapai Rp246,98 miliar atau 33,81% dari target, tumbuh 29,50% secara tahunan. Kontributor terbesar berasal dari Badan Layanan Umum (BLU) sektor pendidikan yang melonjak 730,51%, dipicu pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Belanja dan TKD Dorong Ekonomi, Dana Desa Masih Lambat
Dari sisi belanja, realisasi Belanja Pemerintah Pusat mencapai Rp1.427,24 miliar atau 19,18% dari pagu, didominasi belanja pegawai.
Sementara itu, penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp3.911,50 miliar atau 28,75% dari alokasi, tumbuh 34,89% dibandingkan tahun lalu. DAK Nonfisik menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi.
Meski demikian, penyaluran Dana Desa masih belum optimal. Hingga akhir Maret 2026, realisasinya baru Rp22,67 miliar atau 4,23% dari alokasi, turun 76,51% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Menurut Iman Widhiyanto, keterlambatan ini disebabkan faktor administratif.
“Petunjuk teknis penyaluran Dana Desa baru terbit pada Maret 2026, sehingga proses pengajuan dari desa masih terbatas di awal tahun,” jelasnya.
Momentum Akselerasi Ekonomi
Dengan tren positif ini, pemerintah berharap APBN dapat terus menjadi instrumen utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Sulawesi Tenggara.
Dorongan dari belanja negara, konsumsi masyarakat, serta investasi industri seperti smelter nikel diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi daerah ke depan—meski tantangan pemerataan masih perlu segera diatasi. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini


Comment