KOLAKA — Gelombang investasi Proyek Strategis Nasional (PSN) yang membanjiri Sulawesi Tenggara kini mendapat atensi khusus dari Presiden RI, Prabowo Subianto.
Di tengah ambisi besar menjadikan daerah itu sebagai pusat hilirisasi nasional, negara memastikan satu hal krusial: stabilitas keamanan tidak boleh terganggu.
Sebagai bentuk konkret, Polri bergerak cepat dengan membangun tiga Markas Komando (Mako) Brimob di titik-titik strategis. Langkah ini menjadi bagian dari desain besar pengamanan investasi yang terintegrasi dengan agenda pembangunan nasional.
Wakil Kepala Kepolisian RI, Dedi Prasetyo, menegaskan bahwa penguatan Brimob merupakan respons langsung atas meningkatnya aktivitas industri dan investasi di wilayah tersebut.
“Tiga Mako ini adalah wujud kehadiran negara untuk menjamin keamanan masyarakat sekaligus mengawal proyek strategis nasional agar berjalan tanpa hambatan,” ujarnya saat meresmikan pertapakan Mako Brimob di jalur strategis poros Kolaka–Kendari, Selasa (21/4/2026).
Asta Cita dan Arah Besar Hilirisasi
Dalam kerangka Asta Cita, Presiden Prabowo Subianto menempatkan hilirisasi sebagai kunci kedaulatan ekonomi nasional. Tujuannya jelas: meningkatkan nilai tambah dalam negeri, mengurangi ekspor bahan mentah, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Pulau Jawa.
Sulawesi Tenggara menjadi salah satu wilayah prioritas dalam agenda tersebut. Dengan kekayaan nikel dan aspal alam, daerah ini didorong menjadi basis industri terintegrasi dari hulu ke hilir.
Untuk mengawal ambisi besar itu, Polri menempatkan kekuatan di tiga simpul utama: Kolaka (10 hektare), Konawe (8 hektare) dan Buton Tengah (10 hektare).
Penempatan ini menegaskan bahwa keamanan bukan hanya pelengkap, tetapi bagian dari strategi utama menjaga keberlanjutan investasi.
Sultra Jadi Episentrum PSN
Dalam peta nasional, Sultra tampil sebagai salah satu magnet utama hilirisasi mineral. Sejumlah kawasan industri besar yang baru kini sedang dikembangkan antara lain:
– Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP)
– Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP)
– Indonesia Giga Industry Park (IGIP)
– Kolaka Resources Industrial Park (KRIP)
– Kawasan Industri Kendari, Motui, hingga Konasara
Dari Nikel ke Aspal Buton: Implementasi Asta Cita
Transformasi ekonomi Sultra mencerminkan implementasi nyata Asta Cita di sektor industri.
Jika dulu Sultra hanya dikenal sebagai daerah penghasil bahan mentah, kini rantai industri mulai dibangun dari hulu ke hilir.
Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikembangkan oleh sejumlah korporasi seperti PT Virtue Dragon Nickel Industry dan PT Obsidian Stainless Steel telah menjadi motor awal.
Kini, PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria Corp) telah berproduksi memperkuat rantai produksi nasional melalui industri nikel hijau .
Di sisi lain, proyek besar oleh PT Vale Indonesia di Pomalaa terus dikembangkan dan telah memasuki fase konstruksi.
Tak berhenti di nikel, hilirisasi juga merambah komoditas strategis lain: aspal alam dari Pulau Buton.
Pemerintah mendorong industrialisasi aspal Buton sebagai bagian dari kemandirian infrastruktur nasional—sejalan dengan semangat Asta Cita untuk memperkuat ekonomi berbasis sumber daya domestik.
Dampak dan Tantangan
Sekitar 60 ribu tenaga kerja diproyeksikan terserap dari proyek-proyek ini. Infrastruktur pun dikebut untuk mendukung konektivitas kawasan industri.
Namun, tantangan tetap ada: tekanan lingkungan, kesiapan SDM, serta kebutuhan memastikan manfaat ekonomi yang inklusif.
Stabilitas sebagai Pilar Asta Cita
Dalam konteks Asta Cita, stabilitas keamanan menjadi pilar penting. Tanpa keamanan, hilirisasi dan industrialisasi tidak akan berjalan optimal.
“Sinergi antara Polri, pemerintah daerah, dan dunia usaha adalah kunci,” tegas Wakapolri.
Dengan dukungan visi besar Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita, Sulawesi Tenggara kini melangkah ke fase baru: dari daerah penghasil bahan mentah menjadi pusat industri strategis nasional.
Investasi triliunan rupiah, ekspansi kawasan industri, serta hilirisasi dari nikel hingga aspal Buton menunjukkan arah yang semakin jelas.
Negara hadir tidak hanya untuk mendorong—tetapi juga menjaga.
Karena di balik ambisi besar menjadikan Indonesia sebagai kekuatan industri global, stabilitas tetap menjadi fondasi utama. (Newsroom)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini


Comment