JAKARTA – Proses restrukturisasi raksasa industri nikel asal China, Jiangsu Delong Nickel Industry, resmi memasuki fase akhir setelah disahkan Pengadilan Rakyat Kabupaten Xiangshui, Provinsi Jiangsu, pada 24 Maret 2026.
Keputusan ini sekaligus menandai berakhirnya proses panjang restrukturisasi yang mencakup 30 perusahaan dalam satu grup besar.
Pengesahan tersebut membuka jalan bagi masuknya Zheshang Development sebagai investor inti dalam skema restrukturisasi. Perusahaan milik negara Provinsi Zhejiang ini kini mengambil peran strategis, termasuk dalam pengelolaan anak usaha Delong di Indonesia, PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) yang beroperasi di Morowali, Sulawesi Tengah.
Berdasarkan rencana restrukturisasi, Zheshang Development atau entitas yang ditunjuk akan mengakuisisi 75% dari porsi 99,84% saham GNI yang sebelumnya dimiliki secara tidak langsung oleh Jiangsu Delong.
Akuisisi ini menandai perubahan besar dalam struktur kepemilikan dan arah bisnis perusahaan.
Zheshang bersama mitra strategisnya juga telah mulai terlibat dalam aktivitas produksi dan operasional GNI. Dengan kekuatan pada integrasi rantai pasok dan pengalaman di sektor logam, mereka diharapkan mampu meningkatkan efisiensi serta memperkuat daya saing perusahaan di pasar global.
GNI selama ini dikenal sebagai salah satu produsen nikel dan feronikel berbasis modal China terbesar di Indonesia, dengan kapasitas produksi besar dan posisi penting dalam rantai pasok industri logam.
Proses restrukturisasi Jiangsu Delong sendiri dimulai sejak 1 Agustus 2024, ketika Pengadilan Xiangshui menerima permohonan restrukturisasi akibat tekanan finansial yang dialami grup tersebut.
Tahapan krusial berlangsung pada 30 Januari 2026 melalui rapat kreditur yang membahas rencana restrukturisasi, dilanjutkan dengan proses pemungutan suara hingga 20 Maret 2026. Rencana tersebut akhirnya disetujui mayoritas kreditur dan pemegang saham.
“Berdasarkan rencana restrukturisasi Jiangsu Delong, Zheshang Development (000906.SZ) atau entitas yang ditunjuknya akan mengakuisisi 75% dari porsi 99,84% saham GNI yang secara tidak langsung dimiliki Delong melalui investasi restrukturisasi ini,” demikian keterangan resmi yang disampaikan, Senin (20/4/2026).
Zheshang Development merupakan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Shenzhen dan bergerak di bidang layanan integrasi rantai pasok komoditas logam ferrous dan non-ferrous. Dalam tiga tahun terakhir, perusahaan ini mencatat pendapatan operasional lebih dari USD 25 miliar.
Dalam ekspansi ke GNI, Zheshang juga menggandeng Jinhai Stainless Steel, perusahaan berpengalaman lebih dari 27 tahun di industri peleburan baja tahan karat.
Seiring proses restrukturisasi berjalan, GNI telah memasuki tahap transisi operasional, termasuk penguatan koordinasi dengan sejumlah perusahaan nikel berbasis modal China seperti Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan Nusantara Nickel Industry.
Langkah akuisisi ini diharapkan tidak hanya menstabilkan operasional GNI, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri nikel yang terus berkembang pesat.
1.200 Karyawan Terdampak PHK
Di tengah proses restrukturisasi tersebut, PT GNI sebelumnya juga menghadapi tekanan berat yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.200 karyawan.
Dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama DPRD Sulawesi Tengah, manajemen perusahaan mengungkapkan bahwa langkah tersebut diambil akibat krisis finansial yang memengaruhi operasional perusahaan.
Selain pekerja lokal, perusahaan juga dilaporkan mengalami keterlambatan pembayaran gaji terhadap sejumlah tenaga kerja asing asal China.
Meski demikian, DPRD mencatat proses PHK telah dilakukan sesuai ketentuan hukum, termasuk pemenuhan hak normatif pekerja seperti pesangon dan kompensasi lainnya.
Pihak perusahaan juga menyampaikan komitmen untuk mempekerjakan kembali para karyawan setelah proses perbaikan smelter selesai dalam waktu sekitar enam bulan.
DPRD Sulawesi Tengah meminta pemerintah daerah dan pusat untuk aktif mengawal proses tersebut guna memastikan perlindungan tenaga kerja sekaligus menjaga stabilitas investasi di sektor industri nikel. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini


Comment