Edukasi
Home / Edukasi / UHO Diultimatum: Tinggalkan Pola Lama atau Tertinggal

UHO Diultimatum: Tinggalkan Pola Lama atau Tertinggal

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Badri Munir Sukoco, saat berbicara dalam sarasehan di Universitas Halu Oleo (UHO) di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat (24/4/2026). Ist

KENDARI – Dunia kampus tak lagi bisa berjalan di jalur lama. Jika tak segera berbenah, perguruan tinggi terancam kehilangan relevansi di tengah perubahan cepat dunia kerja dan industri.

Pesan keras ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Badri Munir Sukoco, saat mengunjungi Universitas Halu Oleo (UHO) di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat (24/4/2026).

Dalam sarasehan bertema Arsitektur Pendidikan Tinggi yang digelar di Rektorat UHO, Prof. Badri menegaskan bahwa kampus harus segera menemukan kembali perannya agar benar-benar berdampak bagi masyarakat dan industri.

“Perguruan tinggi tidak boleh berjalan sendiri. Harus terkoneksi dengan kebutuhan nyata di lapangan,” tegasnya di hadapan pimpinan fakultas, lembaga, dan perwakilan mahasiswa.

Menurutnya, salah satu langkah mendesak adalah menjadikan universitas lain sebagai tolok ukur (benchmark) untuk mempercepat pencapaian visi institusi.

Gubernur ASR Sumbang Rp1,8 Miliar Beasiswa untuk Mahasiswa Sulawesi Tenggara

Namun, lebih dari itu, kampus harus mampu melahirkan lulusan dengan keahlian spesifik, bukan sekadar sarjana umum yang tak terserap pasar kerja.

“Sudah saatnya kita berhenti memproduksi lulusan tanpa arah. Kampus harus mencetak future-ready talent—SDM yang punya keterampilan, karakter, dan daya adaptasi tinggi untuk menghadapi perubahan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan potensi ancaman oversupply sarjana jika perguruan tinggi tidak segera menyesuaikan diri dengan kebutuhan masa depan.

Karena itu, sinergi dengan dunia industri dinilai menjadi kunci penting untuk memetakan kebutuhan pasar sekaligus memastikan kurikulum tetap relevan.

Dalam paparannya, Prof. Badri turut mengaitkan arah pendidikan tinggi dengan visi besar Indonesia Emas 2045 sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024.

Alarm Nikel: Cadangan Hanya Bertahan 11 Tahun Lagi

Ia menilai, visi Indonesia sebagai negara maju, berdaulat, dan berkelanjutan masih belum menjadi diskursus utama di banyak kampus.

“Padahal di situlah arah kita. Pendidikan tinggi adalah fondasi utama menuju Indonesia Emas,” katanya.

Peran dosen pun tak luput dari sorotan. Ia menekankan bahwa pengajar harus terus meng-upgrade kompetensi melalui pelatihan dan pengembangan keilmuan agar tetap relevan dengan dinamika zaman.

“Dosen tidak boleh stagnan. Mereka adalah kunci lahirnya talenta masa depan,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Rektor UHO, Dr. Herman, menyambut positif kunjungan tersebut. Ia menyebut kehadiran Sesjen Kemendiktisaintek sebagai momentum strategis untuk memperkuat arah transformasi kampus.

Investasi Meledak di Era Prabowo: Regulasi Dipangkas, Indonesia Kejar Standar Dunia

“Kunjungan ini membuka perspektif baru bagi kami untuk memahami arah kebijakan nasional sekaligus memperkuat sinergi antara UHO dan pemerintah pusat,” ujarnya.

Sarasehan ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi pendidikan tinggi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

UHO—dan kampus lain di Indonesia—kini ditantang untuk bergerak cepat, atau berisiko tertinggal dalam kompetisi global. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top News

01

Janji Smelter Nikel di Routa Menguap, Tanah Adat Terus Dikeruk

02

Satgas PKH Sita Lahan Tambang Emas PT Panca Logam Makmur di Bombana

03

Investasi Rp181,58 Triliun di Pomalaa, IPIP akan Serap 10.000 Tenaga Kerja

04

Sultra Industrial Park (SIP) akan Dibangun di Bombana, Siapa Investornya?

05

Breaking News: Gempa M5,1 Guncang Wakatobi, Tidak Berpotensi Tsunami

Berita Terbaru






Iklan Promosi Mediasultra.com

Media Politik






Kendari Hits