JAKARTA – Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral edisi Vol. 26 No. 3 Agustus 2025 mempublikasikan studi penting berjudul History and Future Projections of Indonesian Nickel Utilization.
Riset yang digarap tim peneliti Pusat Survei Geologi dan Ditjen Minerba Kementerian ESDM ini menegaskan satu hal: nikel Indonesia tidak lagi dipandang hanya sebagai komoditas tambang, melainkan senjata strategis dalam peta industri global.
Dengan cadangan terbesar di dunia dan produksi yang melesat sejak 2017, Indonesia kini berdiri di garis depan rantai pasok baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Namun di balik lonjakan produksi dan kebijakan hilirisasi, tersimpan tantangan lingkungan, fluktuasi harga global, hingga perebutan pengaruh geopolitik.
Jejak Panjang Nikel: Dari Kolonial ke Era Hilirisasi
Sejarah nikel Indonesia dimulai pada 1901 saat deposit ditemukan di Soroako. Eksplorasi dilakukan perusahaan kolonial seperti Oost Borneo Maatschappij dan Bone Tole Maatschappij. Pada 1938, sekitar 150.000 ton bijih nikel dikirim ke Jepang karena keterbatasan teknologi pemurnian di dalam negeri.
Pasca kemerdekaan, tonggak baru dimulai ketika PT Vale Indonesia Tbk (dahulu PT INCO) memulai operasi di Sorowako pada 1968. Sementara PT Aneka Tambang Tbk memperkuat eksploitasi di Pomalaa dan Halmahera.
Smelter pertama berdiri di Sorowako pada 1977, disokong PLTA Laronaāsimbol integrasi energi dan tambang. Sejak saat itu, nikel Indonesia masuk pasar Jepang, Eropa, hingga Amerika Serikat.
Nikel Laterit: Kekuatan Geologi Indonesia
Secara geologi, terdapat dua tipe endapan nikel: sulfida dan laterit. Indonesia didominasi tipe laterit, tersebar di Sulawesi, Halmahera, dan Papua.
Nikel laterit terbentuk dari pelapukan intensif batuan ultramafik di iklim tropis. Horizon pelapukannya terdiri dari:
– Bedrock (batuan induk)
– Saprolit (kaya nikel dan magnesium)
– Limonit/laterit (kaya besi dan kobalt)
– Top soil
Keunggulan Indonesia terletak pada kondisi geologi dan iklim tropis yang ideal untuk pembentukan laterit berskala besar. Dengan cadangan mencapai sekitar 5 miliar ton sumber daya dan 55 juta ton cadangan terukur (sekitar 41% cadangan global), Indonesia dijuluki āraja nikel duniaā.
Lonjakan Produksi: Efek Hilirisasi dan Larangan Ekspor
Kebijakan kunci datang dari UU No. 4 Tahun 2009 dan dipertegas lewat Permen ESDM No. 11 Tahun 2019 yang mempercepat larangan ekspor bijih mentah.
Dampaknya? Produksi nikel melonjak drastis.
2016: 199 ribu ton
2019: 853 ribu ton
2021: 1,04 juta ton
2023: 1,8 juta ton
Data United States Geological Survey (USGS) menunjukkan Indonesia konsisten menjadi produsen nikel terbesar dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Kebijakan hilirisasi memaksa investasi besar-besaran smelter. Salah satu proyek strategis adalah pembangunan fasilitas HPAL di Pomalaa oleh PT Vale Indonesia dengan kapasitas 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt per tahun (target operasi 2026).
Harga Global Bergejolak: Siapa Sebenarnya Pengendali Pasar?
Harga nikel global sempat memuncak pada 2022 hingga US$25.833 per ton, dipicu:
– Perang RusiaāUkraina
– Gangguan pasokan
– Lonjakan permintaan baterai EV
Namun pada 2024ā2025 harga melemah ke kisaran US$16.000ā18.000 per ton akibat oversupply dan pergeseran sebagian produsen baterai ke teknologi LFP (tanpa nikel).
Di sinilah tantangan Indonesia muncul.
Apakah volume besar cukup, atau harus fokus nilai tambah dan diversifikasi produk?
Metal Companions: Harta Karun yang Belum Maksimal
Endapan nikel laterit Indonesia juga mengandung logam ikutan (metal companions) seperti: Kobalt, Besi, Magnesium, Kromium, Aluminium, Mangan, Silikon.
Kobalt menjadi sangat strategis dalam industri baterai. Optimalisasi logam ikutan dapat meningkatkan PNBP dan mengurangi ketergantungan pada satu komoditas tunggal.
Tanpa strategi ini, Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok bahan baku dalam rantai nilai global.
Ancaman Lingkungan: Harga yang Harus Dibayar?
Eksploitasi nikel membawa konsekuensi:
– Degradasi lahan luas
– Potensi pencemaran air dan udara
– Gangguan kesehatan akibat paparan logam berat
Paparan nikel berlebih dapat memicu gangguan kulit, paru-paru, hingga bersifat karsinogenik dalam jangka panjang.
Beberapa perusahaan besar mulai menerapkan:
– Sistem pengelolaan limbah zero discharge
– Reklamasi dan revegetasi pascatambang
– Pemantauan kualitas air dan udara
Namun implementasi belum merata, terutama di wilayah pertambangan skala kecil dan kawasan industri baru.
Proyeksi Masa Depan: Raja Nikel atau Korban Oversupply?
Indonesia berada di persimpangan sejarah industri nikel.
Dengan cadangan terbesar dunia dan dominasi produksi global, peluang menjadi pengendali pasar nikel internasional terbuka lebar.
Namun syaratnya jelas: Konsistensi hilirisasi, Diversifikasi produk turunan (prekursor, baterai, stainless steel premium), Optimalisasi logam ikutan, Penguatan standar ESG (Environmental, Social, Governance) hingga Pengendalian dampak lingkungan.
Jika strategi ini berjalan, Indonesia bukan hanya eksportir nikelāmelainkan arsitek utama masa depan energi hijau dunia.
Namun jika tata kelola lemah dan harga global terus ditekan oversupply, gelar āraja nikelā bisa berubah menjadi paradoks sumber daya.
Satu hal pasti: Nikel Indonesia kini tak lagi dipandang hanya sebagai komoditas tambangāia adalah arena pertaruhan geopolitik, ekonomi hijau, dan keberlanjutan bangsa. (Newsroom)
Simak Berita Lainnya di WA ChannelĀ disini


Comment