Cap Tangan Manusia Berusia 67.800 Tahun Ubah Peta Sejarah Peradaban
JAKARTA ā Indonesia kembali menorehkan sejarah besar dalam peta ilmu pengetahuan dunia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan gambar cadas tertua di dunia berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun yang ditemukan di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
Temuan monumental ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah paling bergengsi, Nature, dan langsung mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting sejarah awal seni simbolik manusia modern.

Gambar cadas tertua di dunia berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun yang ditemukan di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Foto BRIN
Publikasi berjudul āRock Art from at Least 67,800 Years Ago in Sulawesiā bukan hanya mencatat rekor usia seni cadas tertua di dunia, tetapi juga membuka bab baru tentang cara berpikir, berekspresi, dan berinteraksi manusia purba jauh sebelum peradaban besar lain dikenal dunia.
Kolaborasi Riset Internasional Bertahun-tahun
Kepala Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, Marlon Nicolay Ramon Ririmasse, menjelaskan bahwa publikasi di Nature ini merupakan hasil kolaborasi riset jangka panjang antara BRIN dan Griffith University serta Southern Cross University (Australia).
āPublikasi di jurnal Nature ini adalah hasil riset multi-years antara BRIN dan mitra internasional. Hingga kini, kolaborasi tersebut telah menghasilkan sedikitnya 12 publikasi ilmiah internasional bereputasi, termasuk di jurnal Nature,ā ujar Marlon dalam konferensi pers di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (22/1).
Menurutnya, kerja sama ini tidak hanya menghasilkan temuan akademik, tetapi juga memperluas diseminasi pengetahuan global.
Salah satu hasil riset seni cadas Sulawesi bahkan telah dimanfaatkan sebagai materi pameran Museum George Lucas di Amerika Serikat, melalui kerja sama dengan Google Arts & Culture.

Gambar cadas tertua di dunia berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun yang ditemukan di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Foto BRIN
Investasi SDM dan Budaya
Marlon menegaskan, riset ini juga menjadi sarana penguatan kapasitas sumber daya manusia Indonesia.
BRIN menjalankan skema pendanaan pendidikan doktoral dan pengembangan talenta riset, termasuk bagi penulis utama publikasi tersebut.
Ke depan, BRIN bersama mitra internasional dan pemerintah daerah merencanakan ekspansi riset lanjutan di Sulawesi, Maluku, hingga Papua, untuk memperkaya narasi besar prasejarah Nusantara dalam konteks AsiaāPasifik.
Cap Tangan Tertua Dunia dan Jejak Manusia Modern
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara, menegaskan bahwa temuan ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam kajian arkeologi global.
āPublikasi di Nature menunjukkan riset ini telah melewati proses ilmiah yang sangat ketat. Namun ini bukan titik akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk melindungi warisan budaya yang tak tergantikan,ā tegas Herry.
Ia menjelaskan, BRIN berperan di hulu riset, sementara pelestarian dan pemanfaatan situs menjadi domain Kementerian Kebudayaan, pemerintah daerah, serta lembaga terkait lainnya. Kolaborasi lintas institusi dinilai menjadi kunci menjaga situs seni cadas purba di kawasan karst Sulawesi.
Narasi Hidup Manusia Purba: Dari Perahu hingga Perburuan
Lebih jauh, seni cadas di Leang Metanduno tidak hanya menyajikan cap tangan. Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Octavian, mengungkap bahwa situs ini merekam narasi kompleks kehidupan manusia modern.
āDi Metanduno bukan hanya ada cap tangan. Kami menemukan figur manusia, hewan besar seperti kuda atau sapi, gambar perahu, hingga adegan perburuan dan domestikasi,ā jelas Adhi.
Tim peneliti bahkan telah membuat model 3D gua Leang Metanduno untuk merekonstruksi panel gambar secara utuh. Temuan ini menunjukkan fase budaya yang lebih maju, ketika manusia telah mengenal pelayaran, teknologi maritim, dan organisasi sosial.
āIni bukan sekadar seni, tapi arsip sosial tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan alam, hewan, dan sesamanya,ā tambahnya.
Stensil Jari Sempit: Gaya Unik Khas Sulawesi
Salah satu aspek paling menarik dijelaskan oleh Prof. Maxime Aubert, peneliti internasional yang terlibat dalam riset ini. Menurutnya, stensil cap tangan tertua di dunia ini memiliki gaya visual unik yang hanya ditemukan di Sulawesi.
āKami menyebutnya stensil jari sempit. Jari-jari terlihat runcing dan memanjang. Ini bukan cetakan tangan biasa,ā jelas Maxime.
Teknik pembuatannya masih menjadi misteri. Para peneliti menduga manusia purba mungkin memodifikasi posisi jari atau gerakan saat meniup pigmen, bahkan kemungkinan terinspirasi dari cakar hewan.
Yang lebih mengejutkan, gaya visual serupa juga ditemukan pada lukisan berusia 20 ribu tahun di Sulawesi, menandakan tradisi seni yang bertahan puluhan ribu tahun.
Kebanggaan Masyarakat Muna dan Tantangan Pelestarian
Dari daerah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muna, Hadi Wahyudi, menyampaikan rasa bangga atas temuan tersebut.
āIni adalah kebanggaan besar bagi masyarakat Suku Muna. Ini warisan leluhur yang harus kita jaga bersama,ā ujarnya.
Saat ini, lokasi Leang Metanduno telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi. Pemerintah daerah berharap statusnya dapat meningkat menjadi cagar budaya nasional, bahkan warisan dunia UNESCO.
Sejumlah langkah perlindungan awal telah dilakukan, terutama untuk mengantisipasi lonjakan kunjungan pasca publikasi internasional.
Indonesia, Pusat Awal Seni dan Peradaban Manusia
Temuan seni cadas tertua di dunia dari Sulawesi Tenggara ini, selain menjadi pencapaian akademik, ia juga mengubah cara dunia memandang sejarah awal manusia, sekaligus menegaskan bahwa Nusantara adalah ruang kunci lahirnya seni, simbolisme, dan budaya maritim manusia modern.
Dengan publikasi di Nature ini, Indonesia tidak hanya mencatat rekor usia seni tertua dunia, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai pilar penting peradaban manusia globalāsebuah warisan yang kini menuntut perlindungan, riset lanjutan, dan tanggung jawab bersama. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA ChannelĀ disini


