KENDARI – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Ir. Hugua, M.Ling, mengungkap adanya alokasi dana senilai Rp170 triliun yang akan disalurkan hingga ke tingkat kecamatan dan desa pada periode September–Desember 2025.
Dana ini disebut harus dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkuat potensi lokal, khususnya dalam mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Pernyataan tersebut disampaikan Hugua saat menggelar audiensi bersama Himpunan Ilmuwan Peternakan Indonesia (HILPI) Sultra dengan tema “Optimalisasi Penyediaan Bahan Pangan Lokal Sumber Protein Hewani dan Nabati dalam Rangka Menyukseskan Program Makanan Bergizi Gratis” di Swiss-Belhotel Kendari, Kamis (28/8/2025).
Audiensi ini turut dihadiri Ketua DPRD Sultra, staf ahli gubernur, sejumlah kepala OPD, akademisi dari Universitas Halu Oleo dan Universitas Sulawesi Tenggara, serta perwakilan HILPI.
Pangan Lokal Jadi Kunci Sukses Program MBG
Dalam arahannya, Wagub Hugua menegaskan bahwa Sultra memiliki potensi besar di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Potensi tersebut jika dikelola dengan baik akan mampu memenuhi kebutuhan protein hewani dan nabati tanpa harus bergantung dari luar daerah.
“APBD Sultra akan diarahkan untuk memastikan rantai penyediaan pangan, dari hulu hingga hilir berjalan lancar. Termasuk penguatan infrastruktur jalan, pelabuhan, dan pasar yang mendukung distribusi bahan pangan lokal.
Selain itu, kerja sama dengan perguruan tinggi dan HILPI akan menghadirkan riset berbasis kebutuhan masyarakat,” jelas Hugua.
Fokus Pembangunan Tiga Sektor Strategis
Pemerintah Provinsi Sultra menetapkan tiga arah strategis pembangunan pangan daerah, yaitu:
1. Optimalisasi pertanian dan peternakan untuk menjaga stabilitas suplai pangan.
2. Hilirisasi produk pertanian dan peternakan agar memberi nilai tambah ekonomi.
3. Penguatan sektor pariwisata yang terintegrasi dengan potensi pangan lokal.
Kebutuhan Program MBG Jadi Peluang Ekonomi
Wagub juga menyoroti besarnya kebutuhan harian dalam program MBG yang mencakup lebih dari 960 butir telur, 8.000 ayam, ikan, beras, hingga 300 dapur.
Menurutnya, skala kebutuhan yang masif ini bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang besar bagi petani, nelayan, peternak, hingga lulusan perguruan tinggi untuk terlibat langsung.
“Ini saatnya semua pihak berkolaborasi agar program makanan bergizi gratis tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah,” tegasnya.
Hugua Galang Kolaborasi Semua Elemen
Dalam kesempatan itu, Hugua mengajak seluruh pihak untuk membangun sinergi. Pemerintah daerah berperan sebagai fasilitator, akademisi dan peneliti sebagai penyedia inovasi, sementara petani, peternak, dan nelayan menjadi ujung tombak produksi pangan.
“Jika semua elemen bekerja sama, maka program makanan bergizi gratis bukan hanya bisa diwujudkan, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Sultra,” pungkasnya.
Melalui audiensi bersama HILPI ini, diharapkan lahir rekomendasi konkret strategi penyediaan pangan lokal berkelanjutan yang akan menjadi masukan penting bagi kebijakan daerah, khususnya dalam mendukung keberhasilan program nasional Makanan Bergizi Gratis di Sulawesi Tenggara. (MS)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini