Ekonomi & Bisnis Konsel
Home / Sultra / Konsel / Stok Beras Tembus 4,9 Juta Ton, Konawe Selatan Jadi Lumbung Dadakan

Stok Beras Tembus 4,9 Juta Ton, Konawe Selatan Jadi Lumbung Dadakan

Stok beras nasional di gunung Badan Pangan Nasional. Arsip

SURABAYA — Di tengah ancaman krisis global yang meliputi pangan, energi, dan air, Indonesia justru menunjukkan sinyal kuat ketahanan pangan.

Pemerintah mengklaim stok beras nasional kini berada di level tertinggi sepanjang sejarah, bahkan hingga memicu kebutuhan tambahan ruang penyimpanan di daerah.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut dunia saat ini tengah menghadapi tiga krisis besar. Namun Indonesia dinilai berada dalam posisi lebih siap, khususnya menghadapi ancaman El Nino.

“Dunia menghadapi krisis pangan, energi, dan air. Ini harus segera dicarikan solusi,” ujar Amran di Surabaya, Minggu (19/4/2026).

Di sektor pangan, capaian paling mencolok terlihat dari stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog. Angkanya kini telah mencapai 4,9 juta ton dan diproyeksikan segera menembus 5 juta ton dalam waktu dekat—tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Sultra Butuh Percepatan: Gubernur ASR Lantik 112 Pejabat Baru

“Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, stok cadangan beras kita tertinggi sepanjang republik berdiri,” tegasnya.

Lonjakan ini melonjak drastis hingga 221,7 persen dibandingkan saat puncak El Nino 2023, ketika stok hanya berada di kisaran 1,52 juta ton. Pemerintah menyebut capaian ini sebagai bantalan strategis untuk menghadapi potensi krisis akibat perubahan iklim.

“El Nino sudah kita hitung. Kita punya pengalaman 2015, 2023, 2024. Sekarang kita siapkan lebih awal. Insya Allah aman,” ujar Amran optimistis.

Gudang Konawe Selatan Jadi Indikator

Lonjakan produksi beras nasional tidak hanya tercermin dari angka stok, tetapi juga dari kondisi di lapangan. Di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra), pemerintah bahkan harus menyewa gudang tambahan karena kapasitas yang ada tak lagi mencukupi.

Mentan Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa produksi beras nasional meningkat signifikan.

APNI: Pemerintah Ubah Aturan, Penambang Nikel Lokal Siap Panen Besar

“Gudangnya Bupati Konsel dipinjam, disewa oleh Bulog. Sekarang penuh, sebelumnya tidak pernah terjadi,” ujarnya.

Menurutnya, total kapasitas gudang yang dikelola—termasuk tambahan sewa—kini mencapai sekitar 1,8 juta ton. Kondisi ini sangat kontras dibandingkan masa lalu, ketika banyak gudang justru kosong akibat produksi yang belum optimal.

“Selama merdeka pernah nggak sewa gudang? Penuh saja nggak? Tertinggi itu 2,6 juta ton. Sekarang stok CBP sudah 4,8 juta ton,” kata Amran.

Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo, membenarkan kondisi tersebut.

Ia menyebut seluruh gudang beras di wilayahnya kini terisi penuh, termasuk fasilitas milik pemerintah daerah yang sebelumnya jarang dimanfaatkan.

Gerakan Sultra Religi Resmi Diluncurkan, Siap Cetak 100 Ribu Hafiz

“Di tempat saya semua gudang penuh. Gudang pemda yang dulu selalu kosong, sejak tahun lalu dipinjam Bulog sampai sekarang,” ungkap Irham.

Impor Disetop, Dunia Masih Bergantung

Kenaikan produksi dalam negeri juga berdampak besar terhadap kebijakan impor.

Sejak 2025, Indonesia disebut telah menghentikan impor beras, sebuah capaian penting dalam sejarah pangan nasional.

Laporan Rice Outlook April 2026 dari United States Department of Agriculture (USDA) mencatat Indonesia sebagai negara dengan penurunan impor beras paling drastis di dunia, mencapai minus 3,8 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebaliknya, sejumlah negara masih bergantung pada impor. Filipina menjadi importir terbesar, disusul Vietnam yang meski eksportir besar tetap mengimpor jutaan ton beras.

“Pangan kita aman. Beras kita swasembada. Protein juga swasembada. Ayam dan telur bahkan sudah ekspor,” ujar Amran.

Petani Ikut Tersenyum

Dampak positif dari swasembada pangan juga mulai terasa di tingkat petani.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) tanpa perikanan konsisten berada di atas 120 sejak pertengahan 2024.

Rekor tertinggi dalam tujuh tahun terakhir tercapai pada Desember 2025 dan Februari 2026 di level 126,11. Sementara indeks harga yang diterima petani padi pada Maret 2026 mencapai 144,52—lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan stok melimpah, gudang penuh, dan produksi yang melonjak, pemerintah mengirim pesan tegas: Indonesia tidak hanya siap menghadapi El Nino, tetapi juga mulai menunjukkan diri sebagai kekuatan pangan baru di tengah tekanan krisis global. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top News

01

Janji Smelter Nikel di Routa Menguap, Tanah Adat Terus Dikeruk

02

Satgas PKH Sita Lahan Tambang Emas PT Panca Logam Makmur di Bombana

03

Investasi Rp181,58 Triliun di Pomalaa, IPIP akan Serap 10.000 Tenaga Kerja

04

Sultra Industrial Park (SIP) akan Dibangun di Bombana, Siapa Investornya?

05

Breaking News: Gempa M5,1 Guncang Wakatobi, Tidak Berpotensi Tsunami

Berita Terbaru






Iklan Promosi Mediasultra.com

Media Politik






Kendari Hits