KENDARI – Kota Kendari hari ini berdiri di titik yang menentukan. Ia tumbuh cepat, dilirik secara nasional, bahkan mulai disentuh agenda global. Semua tanda menuju โkota masa depanโ ada di depan mata. Namun di balik itu, satu pertanyaan besar belum juga terjawab: Kendari sebenarnya ingin menjadi apa?
Sebagai kota teluk, Kendari sejak awal memiliki fondasi kuat sebagai kota maritim. Laut bukan sekadar lanskap, tetapi sumber hidupโjalur perdagangan, perikanan, hingga konektivitas antarpulau.
Namun dibandingkan dengan Makassar yang telah mapan sebagai pusat logistik Indonesia Timur, Kendari masih tampak seperti pemain yang ragu mengambil peran utama.
Alih-alih memimpin, ia kerap berada di posisi antaraโhidup, tapi belum dominan.
Di saat yang sama, wilayah di sekelilingnya justru mengalami lonjakan luar biasa. Kawasan Kolaka, Konawe, hingga Konawe Utara kini menjelma sebagai pusat industri nikel nasional. Smelter berdiri, investasi mengalir, dan Indonesia mengunci posisi strategis dalam rantai pasok global kendaraan listrik.
Ironinya, Kendari belum sepenuhnya mengambil posisi sebagai pusat kendali dari geliat besar ini.
Ia berada di tengah pusaran, tapi belum menjadi poros.
Padahal, jika mampu memainkan peran strategisโsebagai pusat jasa, logistik, hingga pengambilan kebijakanโKendari bisa menjelma menjadi ibu kota nikel hijau Indonesia. Bukan sekadar kota penyangga, tetapi kota yang menentukan arah.
Di sisi lain, tekanan ekologis juga tidak bisa diabaikan. Apa yang terjadi di Pulau Kabaena, Pulau Wawonii menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa kendali bisa berujung pada krisis lingkungan.
Dalam konteks ini, Kendari seharusnya menjadi pusat keseimbanganโtempat di mana industri dan keberlanjutan bertemu, bukan saling meniadakan.
Momentum global pun mulai mengetuk pintu. Penunjukan sebagai tuan rumah UCLG ASPAC 2026 memberi peluang langka bagi Kendari untuk tampil di panggung internasional. Dunia akan datang, melihat, dan menilai kota ini sebagai representasi wajah Indonesia Timur.
Namun peluang itu juga mengandung risiko.
Tanpa strategi yang jelas, event hanya akan menjadi seremoni sesaatโramai di permukaan, tapi minim dampak jangka panjang.
Kendari bisa belajar dari Bali, yang mampu menjadikan event internasional sebagai mesin ekonomi berkelanjutan.
Kendari punya potensi serupa, tetapi belum sepenuhnya memiliki arah yang terintegrasi.
Di tengah kebingungan arah itu, satu hal sebenarnya sedang disiapkan secara serius: fondasi jangka panjang kota.
Pemerintah Kota Kendari kini tengah mematangkan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebagai dokumen strategis pembangunan 20 tahun ke depan.
Revisi RTRW ini bukan hanya berupa dokumen teknis. Ia adalah โpeta masa depanโ yang akan menentukan ke mana kota ini bergerakโbagaimana ruang diatur, investasi diarahkan, infrastruktur dibangun, hingga bagaimana lingkungan dilindungi.
Prosesnya pun tidak sederhana. Dokumen ini sedang disiapkan untuk masuk pembahasan lintas sektoral bersama pemerintah pusat melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, sebelum nantinya ditetapkan menjadi Peraturan Daerah untuk periode 2025โ2045.
Artinya, untuk pertama kalinya, Kendari sedang mencoba memastikan bahwa pertumbuhan tidak lagi berjalan liarโtetapi terarah, terukur, dan memiliki kepastian hukum.
Secara substansi, arah yang ingin dibangun sebenarnya sudah jelas.
Pemerintah Kota Kendari menetapkan visi:
โTerwujudnya Kota Kendari Tahun 2029 sebagai Kota Layak Huni yang Semakin Maju, Berdaya Saing, Adil, Sejahtera, dan Berkelanjutan.โ
Visi ini ditopang oleh tujuh misi utamaโmulai dari penyediaan fasilitas publik yang layak, tata kelola pemerintahan yang baik, pembangunan infrastruktur terintegrasi dan ramah lingkungan, hingga penguatan ekonomi yang berkeadilan serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Jika diterjemahkan ke dalam konteks hari ini, visi dan RTRW itu seharusnya menjadi jawaban atas semua kegelisahan: bagaimana Kendari menyikapi ledakan industri nikel, bagaimana kota ini memanfaatkan momentum global, dan bagaimana pertumbuhan tidak merusak ruang hidup warganya.
Namun tantangannya tetap sama: eksekusi.
Apakah RTRW benar-benar akan menjadi kompas pembangunan, atau hanya berhenti sebagai dokumen formal?
Apakah visi kota layak huni akan terasa di kehidupan warga, atau hanya menjadi jargon administratif?
Apakah arah pembangunan benar-benar dikendalikan dari dalam kota, atau tetap ditarik oleh kepentingan di luar?
Kendari hari ini tidak kekurangan potensi. Ia juga tidak kekurangan visi, bahkan tidak kekurangan perencanaan.
Yang masih diuji adalah konsistensi dan keberanian.
Karena pada akhirnya, kota masa depan tidak ditentukan oleh seberapa banyak rencana yang dibuat, tetapi seberapa tegas arah itu dijalankan.
Dan jika Kendari gagal menjahit semua iniโlautnya, industrinya, event globalnya, hingga tata ruangnyaโmaka kota ini akan terus berada dalam satu ironi yang sama: tumbuh sebagai kota masa depan, tetapi tanpa pernah benar-benar mengendalikan masa depannya sendiri. (Newsroom)
Simak Berita Lainnya di WA Channelย disini


Comment