Ekonomi & Bisnis Kendari
Home / Sultra / Kendari / Inflasi Kota Kendari 2,95 Persen: Stabil, Tapi Rentan

Inflasi Kota Kendari 2,95 Persen: Stabil, Tapi Rentan

Wali Kota Siska Karina Imran saat berbicara dalam Rapat Koordinasi Pangan bersama Bank Indonesia, Rabu (15/4/2026). PPID

KENDARI – Angka inflasi Kota Kendari pada Maret 2026 tercatat sebesar 2,95 persen.

Secara angka, kondisi ini tergolong stabil. Namun di balik itu, tekanan terhadap harga pangan masih membayangi dan berpotensi memicu gejolak baru.

Dalam Rapat Koordinasi Pangan bersama Bank Indonesia, Rabu (15/4/2026), Wali Kota Siska Karina Imran menegaskan bahwa stabilitas inflasi tidak boleh membuat lengah. Sebab, fluktuasi harga komoditas strategis masih sangat dipengaruhi faktor eksternal dan kelemahan struktur distribusi di daerah.

“Tanpa pengendalian yang konsisten, inflasi bisa kembali naik dan langsung dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Tekanan dari Komoditas Pangan

Sejumlah komoditas utama seperti beras dan ikan masih menjadi penyumbang terbesar inflasi di Kendari. Kenaikan harga pada dua sektor ini berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, mengingat perannya sebagai kebutuhan pokok harian.

Hilirisasi Kelapa dan Kakao: Sulawesi Tenggara Jadi Role Model Pembibitan Nasional

Kepala Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, menjelaskan bahwa tekanan inflasi tidak hanya berasal dari dalam daerah, tetapi juga dipicu oleh dinamika global, termasuk gangguan rantai pasok dan perubahan iklim.

Strategi Kendalikan Inflasi

Untuk menjaga stabilitas, Pemerintah Kota Kendari menggelontorkan sejumlah langkah strategis yang menyasar dari hulu hingga hilir.

Pertama, melalui program PKK Kasoami (Keluarga Adaptif, Sehat, Optimal Mengendalikan Inflasi), rumah tangga didorong menjadi garda terdepan pengendalian inflasi lewat pemanfaatan pekarangan dan pola konsumsi berbasis B2SA.

Kedua, program Sekolah HEBAT (Hijau, Edukatif, dan Berkarakter) yang menjadikan sekolah sebagai ruang produktif. Siswa dilibatkan dalam praktik menanam komoditas seperti cabai dan tomat—dua komoditas yang kerap memicu inflasi.

Ketiga, penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan wilayah produsen seperti Konawe, Konawe Selatan, dan Kolaka Timur. Skema ini difokuskan pada distribusi langsung antara produsen dan distributor guna memangkas rantai pasok yang panjang.

Ekonomi Sultra Tumbuh 6,23 Persen, Smelter Nikel Dongkrak Penerimaan Negara

Melalui pola ini, pemerintah berharap pasokan tetap terjaga dan harga lebih terkendali, terutama untuk komoditas strategis.

Perkuat Produksi Lokal

Selain distribusi, penguatan produksi lokal juga menjadi langkah penting.

Pemerintah mulai mengembangkan kawasan pertanian di Baruga dan Amohalo untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar daerah.

Fasilitas pendukung seperti penggilingan padi dan pengeringan gabah juga diaktifkan kembali agar hasil panen memiliki nilai tambah sebelum masuk ke pasar.

Waspada Lonjakan Harga

Meski inflasi saat ini masih dalam batas aman, risiko kenaikan harga tetap terbuka.

KDRT dan Gugatan Cerai: Konflik Rumah Tangga Wali Kota Kendari Masuk Ranah Hukum

Permintaan yang meningkat, gangguan distribusi, atau faktor eksternal bisa dengan cepat mendorong inflasi kembali naik.

Pemerintah menegaskan akan memperketat pengawasan terhadap praktik penimbunan dan spekulasi harga, sekaligus memastikan kerja sama antar daerah berjalan efektif dan berdampak langsung ke pasar.

Dengan kondisi yang masih rentan, Kendari kini berpacu menjaga keseimbangan antara pasokan dan harga—karena sedikit saja gangguan, inflasi bisa kembali melonjak. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *