KENDARI – Nama Kota Kendari kian bersinar. Ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara ini tidak lagi hanya dikenal sebagai “Kota Lulo”, tetapi kini bersiap menjadi pusat perhatian dunia sebagai tuan rumah United Cities and Local Governments Asia-Pacific (UCLG ASPAC) 2026—forum strategis pemerintah daerah se-Asia Pasifik.
Di balik momentum global ini, Kendari menyimpan sejarah panjang, pertumbuhan demografi yang pesat, hingga transformasi sebagai kota modern di kawasan timur Indonesia.
Dari Teluk Dagang ke Kota Global
Sejarah Kota Kendari tidak bisa dilepaskan dari peran strategis Teluk Kendari sebagai jalur perdagangan sejak abad ke-15. Dalam catatan kartografi Portugis kuno, wilayah ini dikenal sebagai Citta dela Baia di teluk Baia du Tivora.
Dalam tradisi lisan suku Tolaki, wilayah ini disebut Lipu I Pambandahi atau Wonua I Pambandokooha, bagian penting dari pesisir timur Kerajaan Konawe.
Transformasi besar dimulai saat Jacques Nicholas Vosmaer tiba pada 1828 dan memetakan teluk pada 9 Mei 1831—tanggal yang kini diperingati sebagai hari jadi Kendari.
Awal Pertumbuhan: Pelabuhan Aman, Magnet Pendatang
Pada abad ke-19, Teluk Kendari dikenal sebagai pelabuhan yang aman. Kondisi ini menarik berbagai suku dan pedagang untuk menetap, menjadikan Kendari sebagai pusat transit perdagangan.
Nama Kendari sendiri berasal dari “Kandai”, alat tradisional untuk mendorong perahu—simbol kuat identitas maritim kota ini.
Suku Tolaki menjadi penduduk asli, yang kemudian berbaur dengan berbagai etnis seperti Bugis, Muna, Buton, Makassar, Jawa, hingga Bali.
Transformasi Administratif: Dari Swapraja ke Kota Modern
Perjalanan panjang Kendari ditandai dengan berbagai perubahan status:
1950: Kerajaan Laiwoi menjadi Swapraja
1959: Ibu kota kabupaten
1964: Resmi jadi ibu kota provinsi
1978: Kota administratif
1995: Kotamadya
1999: Resmi menjadi Kota Kendari
Seiring waktu, luas wilayah berkembang hingga sekitar 271,76 km², dengan struktur pemerintahan yang semakin modern dan otonom.
Kepemimpinan dan Dinamika Politik Lokal
Sejak era kota administratif hingga otonomi daerah, Kendari telah dipimpin oleh berbagai tokoh penting, mulai dari pejabat administratif hingga wali kota hasil pemilihan langsung.
Saat ini, kepemimpinan berada di tangan Siska Karina Imran bersama Wakil Wali Kota Sudirman untuk periode 2025–2030, melanjutkan estafet pembangunan kota menuju era global.
Kota Tumbuh, Tantangan Meningkat
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik terbaru, jumlah penduduk Kendari kini telah mencapai kisaran 370–375 ribu jiwa, dengan kepadatan sekitar 1.350 jiwa per km².
Pertumbuhan ini menegaskan: Kendari sebagai magnet urbanisasi, Pusat ekonomi Sulawesi Tenggara, Kota dengan tekanan tinggi pada infrastruktur dan layanan publik.
UCLG ASPAC 2026: Panggung Baru Kendari
Penunjukan Kendari sebagai tuan rumah UCLG ASPAC 2026 menjadi tonggak sejarah baru. Ajang ini akan menghadirkan pemimpin daerah dari berbagai negara untuk membahas masa depan kota—dari keberlanjutan hingga inovasi.
Momentum ini membuka peluang besar: Investasi internasional, Peningkatan infrastruktur hingga Penguatan citra global kota.
Dari Kota Pesisir ke Kota Dunia
Dengan sejarah panjang, pertumbuhan penduduk yang signifikan, serta transformasi digital yang mulai terlihat, Kendari kini berada di ambang lompatan besar.
Dari pelabuhan transit di tepian teluk, kota ini menjelma menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan kini—menuju panggung dunia.
UCLG ASPAC 2026 adalah sinyal kuat: Kendari tidak lagi di pinggiran, tapi sedang menuju pusat perhatian global. (MS)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini


Comment