KENDARI – Kawasan Universitas Halu Oleo (UHO) diam-diam menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa.
Kebun Raya (Botanical Garden) UHO kini terungkap sebagai habitat penting sekaligus “surga tersembunyi” bagi puluhan spesies burung, termasuk jenis endemik khas Sulawesi hingga burung migran lintas benua.
Fakta ini terungkap dalam webinar bertajuk “Mengungkap Kekayaan Burung dan Kelelawar di Kebun Raya UHO” yang digelar Unit Pelaksana Akademik (UPA) Kebun Ilmu Hayati UHO, baru-baru ini.
Kegiatan yang berlangsung secara daring tersebut diikuti 103 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, praktisi lingkungan, hingga instansi pemerintah.
Webinar menghadirkan dua narasumber internal UHO, yakni Adi Karya dari Jurusan Biologi FMIPA dan La Ode Muhammad Erif dari Jurusan Ilmu Lingkungan FHIL. Diskusi dipandu Muhamad Azwar Syah dan dibuka oleh Kepala UPA Kebun Ilmu Hayati UHO, Prof. Faisal Danu Tuheteru.
Dalam pemaparannya, Faisal menegaskan bahwa Kebun Raya UHO memiliki peran strategis sebagai penyedia jasa lingkungan sekaligus habitat penting bagi flora dan fauna Sulawesi.
Ia mengakui, selama ini data keanekaragaman fauna di kawasan kampus belum terdokumentasi secara menyeluruh.
Namun, melalui riset dosen dan dukungan universitas, gambaran kekayaan hayati mulai terkuak.
Hasil penelitian mencatat sedikitnya 44 jenis burung dari 28 famili hidup di kawasan tersebut. Dari jumlah itu, 11 spesies merupakan burung endemik Sulawesi yang memiliki nilai konservasi tinggi.
Temuan menarik lainnya adalah keberadaan Kirik-kirik Australia, burung migran yang menempuh perjalanan jauh dari Australia dan menjadikan Kebun Raya UHO sebagai titik persinggahan.
“Kehadiran spesies ini menegaskan posisi kawasan tersebut sebagai bagian dari jalur migrasi burung internasional,” ujarnya dikutip dari siaran resmi yang dimonitor Kamis (23/4/2026) .
Tak hanya burung, tim peneliti juga mengidentifikasi sembilan jenis kelelawar di kawasan Kebun Raya UHO. Dua di antaranya merupakan spesies endemik Sulawesi yang memiliki nilai penting dalam upaya konservasi.
Faisal berharap temuan ini menjadi pijakan dalam pengelolaan Kebun Raya UHO berbasis ilmiah ke depan.
Ia juga menekankan pentingnya publikasi hasil riset dalam bentuk jurnal dan buku agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan serta pelestarian lingkungan.
Dengan temuan ini, Kebun Raya UHO tak lagi sekadar ruang hijau kampus. Ia menjelma menjadi laboratorium hidup yang menyatukan biodiversitas lokal dan global—dari burung endemik Sulawesi hingga migran dari Australia—dalam satu ekosistem yang kini mulai terpetakan secara ilmiah. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini


Comment