Seputar Nikel Konsel Lingkungan
Home / Lingkungan / SAVE PANTAI KARTIKA Menggema: Surga Wisata Sulawesi Tenggara Kini di Ambang Kehancuran

SAVE PANTAI KARTIKA Menggema: Surga Wisata Sulawesi Tenggara Kini di Ambang Kehancuran

Seruan “Save Pantai Kartika” di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara menggema di jagad maya. Ist

KONAWE SELATAN — Di pesisir Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, hamparan biru laut yang dulu menjadi kebanggaan wisata Sulawesi Tenggara kini menyisakan kepiluan.

Pantai Kartika—yang juga dikenal sebagai Tanjung Kartika—bersama gugusan Pulau Senja dan Pulau Lara, dilaporkan mengalami tekanan ekologis serius akibat ekspansi aktivitas pertambangan batu gamping yang semakin mendekat ke kawasan pesisir.

Dari kejernihan laut yang pernah viral di media sosial sebagai hidden gem, kini kawasan tersebut berubah menjadi lanskap yang memunculkan perdebatan tajam antara kepentingan pariwisata, investasi industri, dan keberlanjutan lingkungan.

Eksotisme Pantai Kartika dan Pulau Senja di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara sebelum ada pertambangan. Arsip

Zona Konflik Lingkungan

Pantai Kartika selama bertahun-tahun dikenal sebagai destinasi wisata bahari dengan daya tarik utama berupa pasir putih, air laut jernih, serta panorama tebing karst Formasi Laonti yang menjulang di sepanjang pesisir.

UGM Ungkap 17 Spesies Jamur Hutan di Konawe Selatan, Bukti Kekayaan Hayati Sultra

Kawasan ini bukan hanya menjadi lokasi favorit wisatawan lokal, tetapi juga menyimpan potensi ekowisata kelas dunia—mulai dari snorkeling, diving, hingga wisata pulau kecil yang masih alami.

Namun perubahan mulai terjadi ketika aktivitas ekspansi tambang batu gamping di sekitar wilayah Moramo Utara meningkat pesat. Bukit-bukit karst yang sebelumnya menjadi benteng alami pesisir dilaporkan mulai dikeruk menggunakan alat berat untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan nikel.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa aktivitas ini berdampak pada perubahan bentang alam serta meningkatkan risiko sedimentasi di wilayah pesisir.

Dampak Ekologis: Dari Karst ke Laut yang Terganggu

Kerusakan paling dikhawatirkan terjadi ketika material hasil pengerukan terbawa air hujan menuju laut. Lumpur dan partikel sedimen kemudian mengendap di wilayah pesisir dan berpotensi menutup terumbu karang.

Mahasiswa Kepung DPRD Sultra, Desak Reformasi Polri hingga Tolak Tambang Pesisir

Padahal, ekosistem laut di kawasan ini selama ini menjadi salah satu daya tarik utama wisata bahari Konawe Selatan.

Dalam sejumlah dokumentasi lapangan dan laporan warga, kondisi perairan yang dulunya jernih kini mulai mengalami perubahan warna saat musim hujan. Aktivitas wisata bahari pun ikut terdampak, karena wisatawan enggan melakukan snorkeling maupun diving di area yang mengalami penurunan kualitas air.

Degradasi bentang alam Pantai Kartika dan Pulau Senja di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara setelah ada pertambangan. Arsip

Pulau Senja dan Pantai Kartika: Zona Wisata yang Tertekan Tambang

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Konawe Selatan, kawasan Pantai Kartika dan Pulau Senja telah ditetapkan sebagai zona pariwisata alam bahari.

Namun dalam praktiknya, sejumlah wilayah di sekitar kawasan tersebut juga memiliki izin usaha pertambangan (IUP) yang memunculkan tumpang tindih pemanfaatan ruang.

Konawe Gandeng SMI Bangun RSUD Modern, Lokasinya Aman dari Polusi Industri Nikel Morosi

Beberapa perusahaan yang disebut memiliki konsesi di wilayah sekitar Moramo Utara antara lain: PT Citra Khusuma Sultra, CV Ramadhan Moramo, PT Hoffmen Energi Perkasa serta beberapa entitas usaha lokal lainnya di sektor galian batu gamping.

Izin-izin tersebut sebagian disebut memiliki wilayah yang berdekatan dengan kawasan wisata, bahkan dalam beberapa evaluasi pemerintah ditemukan adanya area yang masuk dalam zona pariwisata.

Ekonomi Warga: Antara Harapan Wisata dan Realitas Tambang

Sebelum isu tambang mengemuka, masyarakat Desa Wawatu dan sekitarnya sempat merasakan manfaat ekonomi dari sektor wisata.

Sejak 2017, kawasan ini berkembang menjadi ekowisata berbasis komunitas. Warga menggantungkan pendapatan dari: penyewaan perahu wisata, jasa snorkeling, warung kuliner pesisir, serta hasil tangkapan laut.

Namun, seiring menurunnya kunjungan wisata akibat perubahan lingkungan, aktivitas ekonomi berbasis pariwisata ikut melambat.

Sebagian warga menyebut bahwa lapangan kerja dari sektor tambang memang ada, tetapi cenderung terbatas pada pekerjaan kasar dengan nilai ekonomi yang tidak sebanding dengan potensi jangka panjang pariwisata.

Pemerintah: Ada Tumpang Tindih, Zona Wisata Harus Dilindungi

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara bersama Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan telah melakukan klarifikasi terkait status kawasan tersebut.

Dalam sejumlah pernyataan resmi, pemerintah menegaskan bahwa:

– Pantai Kartika dan Pulau Senja tetap merupakan kawasan wisata berdasarkan RTRW
– Aktivitas tambang tidak boleh mengganggu zona wisata
– Jika terjadi tumpang tindih, maka area tersebut harus ditata ulang

Pemerintah juga mengakui adanya sebagian wilayah IUP yang masuk ke area wisata dan menyatakan akan melakukan evaluasi serta penyesuaian batas operasional tambang.

Langkah korektif tersebut termasuk rencana pengurangan atau penyesuaian area konsesi agar tidak mengganggu kawasan pariwisata.

Tambang vs Pariwisata: Dua Sektor yang Berbenturan

Di satu sisi, industri batu gamping di Moramo Utara berkembang karena tingginya permintaan bahan baku untuk industri smelter nikel di Sulawesi Tenggara.

Batu gamping digunakan sebagai material penunjang dalam proses peleburan logam, menjadikan kawasan ini strategis secara ekonomi.

Namun di sisi lain, keberadaan tambang di dekat kawasan pesisir yang sensitif ekologis menimbulkan kekhawatiran serius dari berbagai pihak, termasuk pemerhati lingkungan.

Sejumlah aktivis lingkungan menilai kawasan karst di pesisir Moramo memiliki fungsi ekologis penting sebagai penyangga ekosistem laut dan tidak seharusnya dieksploitasi secara masif.

Status Terkini: Wisata Masih Ada, Tapi Tertekan

Meski mengalami tekanan, Pantai Kartika belum sepenuhnya kehilangan daya tariknya. Sebagian wisatawan masih datang, terutama untuk menikmati pemandangan alam dari kejauhan.

Namun citra kawasan ini sebagai hidden gem Sulawesi Tenggara mulai tergeser oleh isu lingkungan dan konflik tata ruang.

Kondisi ini membuat masa depan kawasan berada di persimpangan: apakah akan dipulihkan sebagai destinasi wisata unggulan atau terus terdorong menjadi kawasan industri ekstraktif.

Seruan Save Pantai Kartika

Pantai Kartika kini menjadi sorotan nasional khususnya terkait tarik-menarik antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan di Sulawesi Tenggara.

Di tengah ekspansi industri dan kebutuhan ekonomi, pertanyaan besar muncul: apakah keindahan alam yang terbentuk ribuan tahun ini masih bisa diselamatkan?

Seruan “Save Pantai Kartika” di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara menggema di jagad maya. Ist

Seruan “Save Pantai Kartika” bukan hanya slogan, tetapi alarm bagi masa depan pesisir Konawe Selatan—agar pembangunan tidak menghapus jejak alam yang tak tergantikan. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *