KENDARI – Kawasan Anjungan Teluk Kendari di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara dipenuhi ribuan aparatur sipil negara (ASN), unsur TNI-Polri, hingga masyarakat dalam aksi bersih lingkungan Gerakan Indonesia Asri, Jumat (29/5/2026).
Kegiatan yang dipimpin langsung Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus itu menjadi pengingat bahwa Teluk Kendari sedang menghadapi ancaman ekologis serius.
Di balik ancaman sedimentasi dan pencemaran sampah yang terus meningkat, Teluk Kendari ternyata menyimpan “harta hijau” bernilai besar melalui ekosistem mangrove yang mampu menyerap karbon dalam jumlah besar.
Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap kawasan mangrove Teluk Kendari memiliki potensi ekonomi karbon hingga ratusan juta rupiah.
Riset bertajuk “Simpanan dan Nilai Ekonomi Karbon Mangrove di Teluk Kendari, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara” yang dilakukan Surya Insani Milna dari Program Studi Kehutanan UGM pada 2021 menemukan total simpanan karbon mangrove Teluk Kendari mencapai 45,57 ton karbon per hektare.
Sementara total serapan karbon dioksida (CO2) mencapai 167,23 ton CO2 per hektare. Jenis mangrove Sonneratia alba tercatat menjadi penyerap karbon terbesar dibanding vegetasi lainnya.
Penelitian itu juga menghitung nilai ekonomi karbon berdasarkan harga pasar karbon internasional. Dengan asumsi harga minimal 4 euro per ton CO2, nilai ekonomi karbon mangrove Teluk Kendari mencapai sekitar Rp11,2 juta. Namun pada harga maksimal 53 euro per ton CO2, nilainya melonjak hingga sekitar Rp149,5 juta.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa Teluk Kendari bukan hanya kawasan pesisir biasa, tetapi memiliki aset ekologis dan ekonomi hijau yang sangat strategis bagi Sulawesi Tenggara.
Namun kondisi teluk saat ini menghadapi tekanan berat. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya mengungkap Teluk Kendari mengalami pendangkalan signifikan dalam dua dekade terakhir. Jika pada 2003 kedalaman maksimal teluk mencapai sekitar 23 meter, maka pada 2021 tersisa sekitar 5 hingga 10 meter akibat sedimentasi yang terus berlangsung.
Lumpur yang terbawa dari daerah aliran sungai, terutama Sungai Wanggu, disebut menjadi penyebab utama pendangkalan Teluk Kendari. Kondisi itu diperparah pencemaran sampah rumah tangga dan berkurangnya kawasan vegetasi mangrove di sejumlah titik pesisir.
Mangrove sendiri memiliki fungsi vital sebagai benteng alami teluk. Selain menjadi habitat berbagai biota laut seperti ikan, kepiting dan udang, akar mangrove mampu menangkap lumpur dan memperlambat laju sedimentasi sebelum menyebar ke kawasan perairan lebih luas.
Mangrove juga berfungsi menahan abrasi, mengurangi dampak gelombang besar, serta menjadi penyerap emisi karbon alami yang sangat efektif dalam mitigasi perubahan iklim.
Karena itu, aksi bersih lingkungan yang dipimpin Wamendagri Akhmad Wiyagus dinilai menjadi momentum penting penyelamatan Teluk Kendari.
Dalam sambutannya, Akhmad Wiyagus mengatakan Gerakan Indonesia Asri merupakan program nasional yang dicanangkan Presiden RI Prabowo Subianto untuk membangun kesadaran kolektif menjaga kebersihan lingkungan.
“Tujuan utama gerakan ini adalah bagaimana kita mengelola sampah secara terpadu dan membangun budaya bersih di tengah masyarakat,” ujar Akhmad Wiyagus.
Ia menegaskan persoalan sampah kini menjadi tantangan serius yang harus ditangani bersama melalui budaya gotong royong dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Usai apel bersama, Wamendagri bersama Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Hugua dan Wakil Wali Kota Kendari Sudirman terlihat menyusuri kawasan pesisir Teluk Kendari sambil memungut sampah dan memantau proses pembersihan.
Sekitar 3.000 peserta diterjunkan dalam aksi tersebut, mayoritas berasal dari ASN lingkup Pemerintah Kota Kendari, termasuk unsur TNI dan Polri.
Wakil Wali Kota Kendari Sudirman mengatakan persoalan sampah yang terbawa ke sungai dan drainase menjadi salah satu penyebab banjir di sejumlah wilayah Kota Kendari.
“Selama ini yang sering menjadi masalah adalah sampah di pinggir jalan kemudian terbawa ke sungai dan drainase. Itu yang menyebabkan banjir di beberapa wilayah Kota Kendari,” ujarnya.
Pemerintah Kota Kendari kini mulai memperkuat pengawasan kebersihan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan serta mendorong kerja bakti rutin masyarakat.
Aksi bersih tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan untuk menyelamatkan Teluk Kendari dari ancaman sedimentasi, pencemaran, dan kerusakan ekosistem pesisir.
Jika ekosistem mangrove terus terjaga, Teluk Kendari bukan hanya dapat diselamatkan dari ancaman pendangkalan, tetapi juga berpotensi menjadi pusat ekonomi hijau berbasis karbon di Sulawesi Tenggara. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment