KENDARI – Fakta mengejutkan terungkap di Sulawesi Tenggara.
Pasalnya, Kota Kendari kini telah menjelma menjadi basis kartel sabu jaringan global.
Hal itu disampaikan Kapolda Sultra Irjen Pol Didik Agung Widjanarko pada kegiatan pemusnahan barang bukti narkoba jenis sabu seberat 8,2 kilogram di halaman Mapolda Sultra, Jumat (29/8/2025).
Pemusnahan yang dipimpin Kapolda Sultra ini turut dihadiri Wakapolda Sultra Kombes Pol Gidion Arief Setyawan, Ketua DPRD Sultra, Kepala Kejaksaan Negeri Kendari, para pejabat utama Polda, serta unsur Forkopimda.
8,2 Kg Sabu Dimusnahkan
Irjen Didik menegaskan bahwa narkoba yang berhasil diamankan jumlahnya sangat besar, sementara tersangka hanya lima orang.
Kondisi ini mengindikasikan adanya jaringan kartel besar yang memanfaatkan Sulawesi Tenggara sebagai pusat peredaran.
“Barang bukti 8,2 Kg sabu ini setara dengan 82 ribu jiwa yang bisa kita selamatkan. Para tersangka ini jelas bukan pengguna, mereka pengedar jaringan global,” tegas Kapolda.
Kendari Jadi Gudang Sabu
Lebih jauh, Kapolda mengungkapkan bahwa peredaran narkoba di Kendari bukan lagi sekadar jalur lintasan. Kota ini telah berubah menjadi gudang penyimpanan sabu bagi jaringan kartel internasional.
“Kendari sudah bukan sekadar tempat lewat. Saat ini menjadi gudang sabu. Situasi ini sangat berbahaya, karena kartel narkoba global mulai menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai basis utama mereka,” ujarnya.
Kapolda bahkan meminta aparat penegak hukum, khususnya hakim, menjatuhkan hukuman mati terhadap para pengedar demi memberi efek jera.
Mengapa Kendari Jadi Basis Kartel?
Pengamat keamanan menyebut ada sejumlah faktor yang membuat Kendari dan Sulawesi Tenggara rawan dijadikan basis peredaran narkoba oleh jaringan global:
1. Letak Geografis Strategis
Sulawesi Tenggara berbatasan langsung dengan jalur laut internasional, termasuk akses menuju Filipina dan Malaysia. Posisi ini menjadikan wilayah ini rawan dimanfaatkan sebagai jalur masuk narkoba lintas negara.
2. Lemahnya Pengawasan Pelabuhan dan Pesisir
Banyaknya pelabuhan kecil dan titik masuk non-resmi di pesisir Sultra membuat sindikat narkoba leluasa menyusupkan barang haram.
3. Jalur Distribusi ke Indonesia Timur
Kendari dianggap strategis sebagai pusat transit sebelum narkoba didistribusikan ke Maluku, Papua, dan wilayah Indonesia Timur lainnya.
4. Tingginya Permintaan Lokal
Data BNN menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba di Sulawesi Tenggara cukup tinggi, sehingga menjadikan daerah ini sekaligus sebagai pasar potensial bagi para pengedar.
Kapolda Sultra Berikan Apresiasi
Dalam kesempatan itu, Irjen Didik juga memberikan apresiasi kepada Ditresnarkoba Polda Sultra dan jajaran Polres atas keberhasilan mereka mengungkap kasus besar ini.
“Terus tingkatkan penindakan. Jangan beri ruang sedikit pun bagi bandar dan kartel narkoba. Sulawesi Tenggara harus kita selamatkan,” pungkasnya. (MS)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini