JAKARTA – Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), kian mengukuhkan posisinya sebagai barometer industri nikel hijau nasional.
Hal ini ditandai dengan capaian dua perusahaan besar sektor nikel yang beroperasi di daerah itu—PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria Corp) dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam)—yang sama-sama meraih penghargaan PROPER Hijau (beyond compliance) dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) untuk periode 2024–2025.
Pengakuan tersebut menjadi indikator kuat bahwa transformasi industri nikel di Kolaka tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG).
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) kini telah berevolusi menjadi instrumen strategis dalam mendorong transformasi industri nasional.
“PROPER tidak lagi sekadar alat ukur kepatuhan administratif. Ini adalah motor perubahan menuju praktik industri yang inovatif, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya melalui keterangan resmi dikutip Kamis (16/4/2026).
Pada periode penilaian 2024–2025, sebanyak 5.476 perusahaan mengikuti PROPER—meningkat 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, hanya 282 perusahaan yang berhasil masuk kategori beyond compliance, terdiri dari 39 peringkat Emas dan 243 peringkat Hijau, termasuk Ceria Corp dan Antam.
Mayoritas perusahaan lainnya masih berada pada peringkat Biru, bahkan sebagian masih dalam kategori Merah dan Hitam, menunjukkan bahwa standar keberlanjutan masih menjadi tantangan besar bagi industri nasional.
Transformasi Ceria: Dari Kepatuhan Menuju Kepemimpinan Hijau
Bagi Ceria Corp, capaian PROPER Hijau menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi perusahaan. Setelah enam tahun berturut-turut berada di peringkat Biru (2018–2023), perusahaan kini berhasil naik kelas ke level beyond compliance.
Direktur Utama Ceria, Abdul Haris Tatang, menyebut pencapaian ini sebagai hasil dari komitmen kolektif perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara operasional tambang dan kelestarian lingkungan.
“Ini bukan akhir, melainkan pijakan untuk terus meningkatkan kontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Ceria menjalankan berbagai inisiatif strategis, mulai dari efisiensi energi dan air, penurunan emisi gas rumah kaca, hingga pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular serta perlindungan keanekaragaman hayati.
Kepala Teknik Tambang Ceria, Alpi Cekdin, menambahkan bahwa perusahaan secara konsisten mengintegrasikan prinsip ESG dan Health, Safety, and Environment (HSE) dalam seluruh lini operasional melalui Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP).
Antam Perkuat Konsistensi di Kolaka
Capaian serupa juga diraih PT Aneka Tambang Tbk (Antam), khususnya melalui Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Nikel Kolaka di Pomalaa. Penghargaan PROPER Hijau ini menjadi bukti konsistensi Antam dalam menerapkan praktik pertambangan berkelanjutan.
Direktur Operasi dan Produksi Antam, Hartono, menegaskan bahwa perusahaan terus menjalankan berbagai inisiatif lingkungan, mulai dari pengelolaan limbah, efisiensi energi, hingga pengurangan emisi.
“Pencapaian ini mencerminkan komitmen kami dalam menjalankan operasional yang tidak hanya berorientasi pada kinerja bisnis, tetapi juga perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
UBP Nikel Kolaka sendiri memainkan peran penting dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik, melalui pengolahan bijih nikel menjadi feronikel (FeNi) dengan teknologi pirometalurgi.
Selain aspek produksi, Antam juga mengembangkan program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan di sekitar wilayah tambang, guna menciptakan dampak sosial-ekonomi yang berkelanjutan.
Investasi Besar Perkuat Ekosistem Nikel Hijau
Transformasi Kolaka sebagai pusat industri nikel hijau tidak terlepas dari masuknya investasi strategis berskala besar.
Saat ini, proyek Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) tengah dikembangkan sebagai kawasan industri terpadu berbasis nikel yang akan memperkuat hilirisasi nasional.
Di saat yang sama, proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa yang dikembangkan oleh PT Vale Indonesia Tbk juga sedang berjalan. Proyek ini difokuskan pada pengembangan fasilitas pengolahan nikel berkelanjutan yang mendukung produksi bahan baku baterai kendaraan listrik.
Kehadiran dua proyek raksasa ini semakin mempertegas posisi Kolaka sebagai simpul penting dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik berbasis nikel.
PROPER dan Arah Baru Industri Nasional
Ketua Dewan Pertimbangan PROPER, Sudharto P. Hadi, menjelaskan bahwa sistem penilaian PROPER kini menggunakan pendekatan life cycle assessment (LCA), yang menilai dampak lingkungan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Sepanjang periode penilaian, tercatat 1.806 inovasi lingkungan dan sosial dihasilkan oleh perusahaan peserta.
Program pemberdayaan masyarakat bahkan mencapai nilai sekitar Rp1,01 triliun—menunjukkan bahwa praktik keberlanjutan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Penetapan Ceria Corp dan Antam sebagai peraih PROPER Hijau 2024–2025 menjadi sinyal kuat bahwa arah kebijakan industri Indonesia tengah bergerak menuju transformasi sistemik.
Di Kolaka, arah itu kini terlihat semakin nyata: dari tambang konvensional menuju ekosistem industri nikel hijau yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berdaya saing global. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini


Comment