Ekonomi & Bisnis
Home / Ekonomi & Bisnis / Pekerjaan AS Melonjak 165 Ribu, The Fed Diprediksi Naik

Pekerjaan AS Melonjak 165 Ribu, The Fed Diprediksi Naik

Gedung Federal Reserve di Washington DC
Gedung Federal Reserve di Washington DC, Amerika Serikat. Sumber: Tony Webster/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

WASHINGTON – Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) melaporkan perekonomian Amerika Serikat menambah 165.000 lapangan kerja pada Oktober 2026, jauh melampaui perkiraan para ekonom, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,1 persen dari 4,2 persen pada September.

Laporan yang dirilis pada Jumat, 6 November 2026, itu juga merevisi naik data dua bulan sebelumnya. Penambahan lapangan kerja pada Agustus direvisi dari 133.000 menjadi 186.000, sedangkan pada September direvisi dari 29.000 menjadi 60.000, sehingga total revisi mencapai 84.000 pekerjaan.

Angka Melampaui Perkiraan Ekonom

Hasil Oktober jauh di atas konsensus ekonom yang disurvei Reuters sebesar 65.000 pekerjaan, dengan kisaran perkiraan 35.000 hingga 125.000 pekerjaan. Survei Dow Jones bahkan hanya memperkirakan 59.000 pekerjaan baru. BLS menyebut perekonomian hanya membutuhkan sekitar 40.000 pekerjaan baru per bulan untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk usia kerja.

Upah rata-rata per jam naik 14 sen atau 0,4 persen menjadi 38 dolar AS, dan naik 3,1 persen dibandingkan setahun lalu. Tingkat partisipasi angkatan kerja tercatat 61,9 persen, sementara rasio penduduk yang bekerja mencapai 59,3 persen. Jumlah penganggur tercatat 7,1 juta orang, relatif tidak berubah dari bulan sebelumnya.

Namun, di balik angka utama yang kuat, terdapat catatan yang kurang menggembirakan. Jumlah pekerja paruh waktu karena alasan ekonomi melonjak 339.000 orang menjadi 4,8 juta orang. Penganggur jangka panjang, yaitu mereka yang sudah menganggur 27 minggu atau lebih, mencapai 2 juta orang atau 27,6 persen dari seluruh penganggur.

Danantara Siapkan 12 Smart City, Groundbreaking Desember

Sektor Jasa Pimpin Penambahan Pekerjaan

Penambahan pekerjaan pada Oktober dipimpin sektor jasa profesional dan bisnis yang bertambah 70.000 pekerjaan, jauh di atas rata-rata 12 bulan terakhir sebesar 15.000 pekerjaan. Layanan kesehatan menambah 42.000 pekerjaan, transportasi dan pergudangan bertambah 25.000 pekerjaan, dan manufaktur bertambah 19.000 pekerjaan.

Di sektor transportasi, pekerjaan kurir bertambah 17.000 dan angkutan udara bertambah 4.000. Sektor swasta secara keseluruhan menambah 159.000 pekerjaan, sedangkan pemerintah menambah 6.000 pekerjaan. Konstruksi, perdagangan ritel, informasi, keuangan, dan pemerintahan relatif tidak berubah.

Rata-rata penambahan pekerjaan dalam tiga bulan terakhir mencapai sekitar 137.000 pekerjaan per bulan, laju terkuat sejak Mei. Seema Shah, kepala strategi global Principal Asset Management, menilai laporan ini membantah kekhawatiran akan perlambatan. “Laporan pekerjaan hari ini menjadi bantahan kuat terhadap kekhawatiran bahwa perekonomian sedang menuju perlambatan yang berarti,” kata Shah.

Pasar Bertaruh The Fed Naikkan Bunga Desember

Laporan pekerjaan yang kuat memperkuat perkiraan bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada rapat 8-9 Desember 2026. Probabilitas kenaikan itu menurut CME FedWatch naik menjadi sekitar 77 hingga 78 persen setelah laporan dirilis, dari sekitar 67 persen pada hari sebelumnya.

Suku bunga acuan The Fed saat ini berada di kisaran 3,75 hingga 4,00 persen setelah ditahan pada rapat 27-28 Oktober 2026. Laporan ini datang setelah produk domestik bruto kuartal III tumbuh 3,4 persen. Olu Sonola, kepala ekonomi Amerika Serikat di Fitch Ratings, menilai laporan ini sangat kuat setelah data produk domestik bruto dan belanja konsumen yang solid, sehingga menjaga fokus The Fed pada inflasi dan mendorong perdebatan kebijakan ke arah kenaikan suku bunga pada Desember.

Ekonomi RI Tumbuh 5,47 Persen pada Triwulan III 2026

Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya mengatakan para pembuat kebijakan akan mencermati akumulasi data sebelum memutuskan apakah pengetatan moneter lebih lanjut diperlukan. Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem menegaskan bahwa inflasi adalah pajak yang regresif dan distorsif. “Hal terbaik yang dapat kami lakukan untuk pertumbuhan dan lapangan kerja adalah membawa inflasi kembali turun tepat waktu,” kata Musalem.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik ke sekitar 4,87 persen, sedangkan tenor dua tahun berada di sekitar 4,52 persen. Laporan pekerjaan November dijadwalkan rilis pada Jumat, 4 Desember 2026, lima hari sebelum keputusan suku bunga, sedangkan data inflasi Oktober dijadwalkan rilis pada Selasa, 10 November 2026.

Rupiah dan IHSG Menguat

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,40 persen ke level 5.050,43 pada Jumat, 6 November 2026, setelah sempat jatuh hingga 4.925,10 pada awal perdagangan. Saham Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Central Asia menjadi penopang utama penguatan indeks.

Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 0,32 persen ke level Rp18.089 per dolar AS dari Rp18.147 sepekan sebelumnya, sedangkan kurs acuan Bank Indonesia (JISDOR) tercatat Rp18.130 per dolar AS. Cadangan devisa Indonesia pada Oktober naik menjadi 146,8 miliar dolar AS dari 146,3 miliar dolar AS, level tertinggi sejak Maret 2026.

Pasar saham Amerika Serikat menguat pada Jumat setelah laporan dirilis, memulihkan sebagian penurunan pada Kamis ketika indeks Nasdaq jatuh paling dalam dalam 19 bulan karena kekhawatiran atas belanja kecerdasan buatan dan pusat data.

Tak Hanya Nikel, Laut Sultra Punya Ikan Melimpah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *