Ekonomi & Bisnis Seputar Nikel Sultra
Home / Sultra / Tak Hanya Nikel, Laut Sultra Punya Ikan Melimpah

Tak Hanya Nikel, Laut Sultra Punya Ikan Melimpah

Kawanan ikan berenang di perairan Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Kekayaan keanekaragaman hayati laut kawasan ini menjadi bagian penting dari potensi ekonomi maritim dan pariwisata bahari Indonesia. Dok

KONAWE — Sulawesi Tenggara selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri nikel Indonesia. Namun, di balik ekspansi pertambangan dan hilirisasi mineral, provinsi ini juga memiliki kekayaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berpotensi memperkuat perekonomian daerah.

Dengan wilayah perairan yang luas, aktivitas perikanan tangkap, serta budidaya yang tersebar di sejumlah kabupaten, sektor perikanan menawarkan peluang untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Potensi tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara 2026 di Kampung Nelayan Merah Putih, Desa Sorue Jaya, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka mengajak masyarakat membiasakan konsumsi ikan sebagai sumber pangan bergizi sekaligus menjaga kelestarian laut untuk mendukung keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan.

Menurut Gubernur, sekitar 70 persen wilayah Sulawesi Tenggara merupakan lautan. Ia juga menyebut sektor agro-maritim sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah.

Pabrik Aspal Buton akan Dibangun di Jawa, Sultra Dapat Apa?

Besarnya wilayah perairan tersebut memberikan modal geografis bagi pengembangan perikanan. Namun, potensi itu perlu ditopang pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, infrastruktur memadai, dan industri pengolahan yang mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil laut.

Produksi Perikanan Mencapai Ratusan Ribu Ton

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang bersumber dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat produksi perikanan tangkap laut Sulawesi Tenggara mencapai 270.452 ton pada 2024.

Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas penangkapan ikan di perairan Sulawesi Tenggara. Meski demikian, provinsi ini bukan penghasil perikanan tangkap laut terbesar di Indonesia. Produksi sejumlah provinsi, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, masih lebih tinggi.

Selain perikanan tangkap, Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar di sektor budidaya.

Nikel, Alat Berat, dan Jejak Kejahatan Tambang di Sultra

BPS mencatat produksi perikanan budidaya kategori pembesaran di Sulawesi Tenggara mencapai sekitar 420.309 ton pada 2024.

Produksi budidaya tersebut tersebar di berbagai kabupaten. Muna, Konawe Selatan, Kolaka, Buton Tengah, dan Wakatobi termasuk wilayah yang memberikan kontribusi terhadap kegiatan budidaya perikanan.

Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi perikanan Sulawesi Tenggara tidak hanya bertumpu pada nelayan yang menangkap ikan di laut, tetapi juga pada pembudidaya dan pelaku usaha di wilayah pesisir.

Angka produksi perikanan tangkap dan budidaya harus dibaca berdasarkan kategori statistik masing-masing. Keduanya tidak serta-merta dapat dijumlahkan menjadi satu angka produksi tanpa memeriksa cakupan komoditas dan metodologi pencatatannya.

Meski demikian, data tersebut memperlihatkan bahwa perikanan merupakan sektor yang layak mendapat perhatian lebih besar dalam agenda pembangunan ekonomi Sulawesi Tenggara.

Bisnis BRILink Diduga Jadi Kedok Penipuan Rp3,8 Miliar

Tantangan Mengolah Kekayaan Laut Menjadi Nilai Ekonomi

Produksi yang besar belum otomatis menjamin tingginya pendapatan nelayan dan pembudidaya. Nilai ekonomi yang diterima masyarakat juga dipengaruhi harga jual, kualitas hasil tangkapan, biaya operasional, akses pasar, dan panjangnya rantai distribusi.

Salah satu tantangan utama adalah memperkuat pengolahan hasil perikanan agar komoditas yang dipasarkan tidak hanya berupa ikan segar atau bahan mentah.

Pengembangan industri pengolahan, fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage, pabrik es, pengemasan, dan sistem distribusi berpotensi membantu menjaga kualitas hasil laut sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Peluang ekonomi juga terbuka bagi usaha mikro, kecil, dan menengah yang memproduksi ikan beku, ikan asap, produk olahan siap saji, serta berbagai pangan berbasis hasil laut.

Di sisi investasi, rantai nilai perikanan menawarkan peluang usaha mulai dari fasilitas pascapanen, pengolahan, logistik berpendingin, hingga pemasaran produk ke pasar antardaerah dan ekspor.

Namun, realisasi peluang tersebut memerlukan kajian pasokan bahan baku, permintaan pasar, infrastruktur, pembiayaan, dan kelayakan operasional. Ketersediaan sumber daya ikan saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan suatu investasi.

Kampung Nelayan Perkuat Ekonomi Pesisir

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara juga mendorong penguatan ekonomi pesisir melalui program Kampung Nelayan Merah Putih.

Dalam laporan kegiatan GEMARIKAN, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tenggara, Hikmawaty, menyampaikan bahwa daerah tersebut memperoleh alokasi 60 titik pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih pada 2026, dengan progres sekitar 50 persen saat laporan disampaikan.

Program ini diharapkan mendukung peningkatan produktivitas nelayan, memperkuat fasilitas pendukung kegiatan perikanan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.

Dalam kegiatan GEMARIKAN di Soropia, panitia membagikan 50 paket produk olahan hasil perikanan kepada perwakilan nelayan, ibu hamil atau menyusui, serta remaja pranikah.

Bazar UMKM menampilkan sedikitnya 30 jenis produk olahan hasil perikanan. Sementara itu, kegiatan Harmoni Bakar Ikan melibatkan 24 perwakilan nelayan dan masyarakat.

Gubernur bersama sejumlah pejabat daerah juga meninjau fasilitas cold storage Koperasi Cahaya Alam Bokori di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih Sorue Jaya.

Fasilitas penyimpanan dingin memiliki peran penting dalam menjaga mutu ikan setelah ditangkap atau dipanen. Dengan penanganan yang tepat, hasil perikanan dapat disimpan lebih baik sebelum dipasarkan, sehingga membantu mengurangi risiko kerusakan produk.

Namun, manfaat fasilitas tersebut bergantung pada pengelolaan profesional, ketersediaan energi, biaya operasional, kapasitas penyimpanan, dan kepastian akses terhadap pembeli.

Konsumsi Ikan dan Ketahanan Pangan

Selain bernilai ekonomi, ikan merupakan sumber pangan yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Dalam kegiatan GEMARIKAN yang dirangkaikan dengan Lomba Masak Serba Ikan untuk memperingati Hari Ikan Nasional 2026, Gubernur mengajak masyarakat menjadikan ikan sebagai bagian dari menu sehari-hari, terutama untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak.

Ketua TP PKK Sulawesi Tenggara, Arinta Nila Hapsari Andi Sumangerukka, turut mendorong keluarga membiasakan anak mengonsumsi ikan melalui penyajian menu yang beragam.

Peningkatan konsumsi ikan berpotensi memperkuat hubungan antara produksi lokal dan kebutuhan pangan masyarakat. Namun, manfaat ekonominya bagi nelayan dan pembudidaya juga bergantung pada keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan kemampuan pasokan lokal memenuhi permintaan.

Upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem laut. Pencemaran, kerusakan habitat, dan praktik penangkapan yang tidak berkelanjutan dapat mengancam produktivitas perikanan dalam jangka panjang.

Menjaga laut tetap sehat bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga upaya mempertahankan sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Diversifikasi Ekonomi di Luar Nikel

Di tengah pentingnya industri nikel bagi perekonomian Sulawesi Tenggara, sektor perikanan dapat menjadi salah satu pilar diversifikasi ekonomi daerah.

Keduanya memiliki karakteristik berbeda. Industri pertambangan dan pengolahan mineral beroperasi melalui rantai nilai berbasis sumber daya mineral, sedangkan perikanan melibatkan nelayan, pembudidaya, pedagang, pengolah hasil laut, penyedia logistik, hingga pelaku usaha pangan.

Pengembangan perikanan yang terintegrasi berpotensi memperluas kesempatan ekonomi, terutama bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

Tantangannya adalah mengubah produksi menjadi nilai tambah yang lebih besar melalui peningkatan produktivitas, kualitas, teknologi pengolahan, akses pembiayaan, dan kepastian pasar.

Sulawesi Tenggara memiliki modal sumber daya untuk mengembangkan sektor ini. Data produksi perikanan tangkap dan budidaya menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi yang telah berlangsung, meskipun kontribusi perikanan terhadap perekonomian daerah tetap perlu dinilai melalui indikator seperti nilai tambah, kontribusi terhadap produk domestik regional bruto (PDRB), tenaga kerja, dan pendapatan masyarakat.

Pada akhirnya, kekayaan laut tidak cukup diukur dari banyaknya ikan yang ditangkap atau dibudidayakan. Hal yang lebih menentukan adalah kemampuan mengelola sumber daya tersebut secara berkelanjutan, memperkuat industri pengolahan, memperluas akses pasar, dan memastikan manfaat ekonominya dirasakan masyarakat.

Di tengah dominasi nikel dalam narasi ekonomi Sulawesi Tenggara, perikanan menawarkan peluang lain yang tidak kalah penting: membangun ekonomi pesisir yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan. (MS Network)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *