JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan perekonomian Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan pada triwulan III 2026. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan III 2025 sebesar 5,04 persen dan triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen. Nilai produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.741,0 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan tercatat Rp3.633,2 triliun.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud menyampaikan angka tersebut dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/11/2026). “Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2026 bila dibandingkan dengan kuartal III/2025 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,47%,” ujar Edy.
Dibandingkan triwulan sebelumnya, ekonomi tumbuh 1,59 persen, dan secara kumulatif sepanjang Januari hingga September 2026 pertumbuhannya mencapai 5,45 persen. Capaian itu juga melampaui proyeksi Bloomberg di sekitar 5,20 persen.
Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang Utama
Dari sisi pengeluaran, belanja rumah tangga tetap menjadi mesin utama perekonomian. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen secara tahunan dan menyumbang 51,97 persen terhadap PDB, dengan andil 2,62 poin persentase terhadap pertumbuhan. Kenaikan konsumsi restoran dan hotel sebesar 6,59 persen serta kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 5,83 persen ikut menggerakkan belanja masyarakat. Mobilitas yang meningkat tercermin dari perjalanan wisatawan nusantara yang tumbuh 7,05 persen dan kunjungan wisatawan mancanegara lewat pintu masuk utama yang naik 3,89 persen.
Investasi juga menguat pada periode ini. Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 6,06 persen dan berkontribusi 30,81 persen terhadap PDB, sehingga bersama konsumsi rumah tangga keduanya menyumbang 82,78 persen struktur perekonomian. Subkomponen kendaraan dalam PMTB melonjak 12,96 persen, sejalan dengan realisasi investasi di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang naik 7,59 persen. Konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran, yakni 8,95 persen, didorong realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa, termasuk program Makan Bergizi Gratis.
Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor barang dan jasa tumbuh 4,59 persen dengan andil 1,16 poin persentase, sedangkan impor tumbuh 7,31 persen. Konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) naik 5,02 persen dengan andil 0,06 poin persentase. Sementara itu, nilai transaksi barang dan jasa secara daring tumbuh 22,02 persen, penjualan sepeda motor naik 8,92 persen, penjualan mobil penumpang melonjak 25,95 persen, dan nilai transaksi uang elektronik meningkat 29,23 persen.
Industri Pengolahan Pimpin Sisi Produksi
Dari sisi lapangan usaha, seluruh sektor membukukan pertumbuhan positif pada triwulan III 2026. Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan andil 1,20 poin persentase, setelah tumbuh 5,87 persen dan menguasai 19,22 persen PDB. Industri makanan dan minuman tumbuh 7,09 persen, ditopang peningkatan ekspor minyak inti sawit mentah (CPKO) dan produk turunan minyak sawit (CPO) serta pemanfaatan CPO di dalam negeri untuk biodiesel. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional naik 8,10 persen seiring peningkatan produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) setelah mandatori biodiesel B50 berlaku sejak 1 Juli 2026, ditambah kenaikan produksi pupuk.
Industri logam dasar mencatat pertumbuhan 9,94 persen, didorong peningkatan ekspor logam dasar bukan besi dan baja seperti nikel, tembaga, nikel matte, dan aluminium. Perdagangan besar dan eceran tumbuh 7,14 persen dengan andil 0,94 poin persentase, didukung kenaikan penjualan kendaraan bermotor, terutama kendaraan niaga dan kendaraan listrik, serta meningkatnya pasokan barang domestik. Konstruksi tumbuh 6,42 persen dengan andil 0,62 poin persentase, didorong pembangunan proyek infrastruktur pemerintah dan swasta, sementara lapangan usaha informasi dan komunikasi menyumbang 0,49 poin persentase.
Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah penyediaan akomodasi dan makan minum, yang melonjak 11,22 persen seiring meningkatnya hunian kamar hotel dan konsumsi di rumah makan serta restoran. Jasa keuangan tumbuh 8,47 persen karena meningkatnya intermediasi perbankan, sedangkan jasa lainnya naik 8,32 persen didorong bertambahnya wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara. Sebaliknya, pertanian hanya tumbuh 0,46 persen dan pertambangan 0,91 persen. Lima lapangan usaha terbesar, yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan, mencakup 65,31 persen dari total PDB nasional.
Bali dan Nusa Tenggara Tumbuh Tertinggi
Secara kewilayahan, Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi, yakni 6,08 persen secara tahunan. Jawa tumbuh 5,84 persen dan tetap mendominasi perekonomian nasional dengan kontribusi 56,05 persen terhadap PDB. Sulawesi tumbuh 5,68 persen, sehingga ketiga wilayah tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan nasional.
Dari sisi kuartalan, industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 5,44 persen dibandingkan triwulan II 2026, sedangkan dari sisi pengeluaran ekspor barang dan jasa tumbuh 7,49 persen. Secara kumulatif hingga triwulan III 2026, akomodasi dan makan minum tumbuh 11,62 persen, sementara konsumsi pemerintah naik 15,09 persen. Angka-angka tersebut menggambarkan perekonomian yang tetap bergerak di berbagai sisi, baik produksi maupun pengeluaran.
Melampaui Sejumlah Negara Tetangga
Dibandingkan negara lain di kawasan, laju pertumbuhan Indonesia pada triwulan III 2026 melampaui Malaysia yang tumbuh 5,3 persen dan Singapura 5,4 persen. Amerika Serikat tumbuh 2,1 persen dan Korea Selatan 3,4 persen pada periode yang sama, sedangkan Vietnam mencatat pertumbuhan hingga 10 persen. Deputi BPS Moh. Edy Mahmud menilai capaian Indonesia menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah perlambatan ekonomi global.
BPS menilai pengendalian inflasi turut menopang kinerja perekonomian, dengan inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan. Penetapan BI-Rate sepanjang triwulan III 2026 pada level 5,75 persen juga disebut sebagai upaya mendukung pertumbuhan ekonomi. Menteri Keuangan Suahasil Nazara memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 tetap kuat di sekitar 5,5 persen, dengan aktivitas ekonomi domestik sebagai penopang utama dan APBN yang tetap stabil.

Comment