Lingkungan Konsel
Home / Sultra / Konsel / UGM Ungkap 17 Spesies Jamur Hutan di Konawe Selatan, Bukti Kekayaan Hayati Sultra

UGM Ungkap 17 Spesies Jamur Hutan di Konawe Selatan, Bukti Kekayaan Hayati Sultra

Potret ekosistem hutan di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Ist

KENDARI – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyoroti besarnya potensi biodiversitas di Sulawesi Tenggara melalui penelitian terbaru mengenai keanekaragaman makrofungi atau jamur makroskopis di Desa Rambu-Rambu Jaya, Konawe Selatan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam forum ilmiah Agriculture, Animal Sciences, Agroforestry, and Agromaritime Innovation 2026 itu mengungkap bahwa kawasan hutan tropis Konawe Selatan menyimpan kekayaan jamur hutan yang selama ini masih minim terdokumentasi.

Makrofungi merupakan organisme heterotrof yang memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Jamur-jamur ini berfungsi sebagai dekomposer, saprotrof, mutualis, hingga patogen yang membantu proses daur ulang unsur hara di alam.

Dalam penelitian tersebut, tim peneliti menggunakan metode eksplorasi lapangan dengan teknik purposive sampling. Hasilnya, sebanyak 17 jenis jamur berhasil diidentifikasi di kawasan Desa Rambu-Rambu Jaya.

Seluruh spesies yang ditemukan berasal dari filum Basidiomycota dan terbagi dalam empat ordo serta 10 famili, yakni Polyporaceae, Agaricaceae, Lyophyllaceae, Pluteaceae, Schizophyllaceae, Amanitaceae, Mycenaceae, Boleteceae, Hygrophoraceae, dan Hydnaceae.

Mahasiswa Kepung DPRD Sultra, Desak Reformasi Polri hingga Tolak Tambang Pesisir

Temuan ini memperkuat posisi Sulawesi Tenggara sebagai salah satu wilayah dengan biodiversitas tropis yang sangat tinggi, tidak hanya pada flora dan fauna, tetapi juga pada kekayaan mikroorganisme dan fungi yang masih jarang diteliti.

Penelitian juga mencatat kondisi lingkungan yang sangat mendukung pertumbuhan makrofungi, dengan suhu udara sekitar 26°C, tingkat kelembapan mencapai 86 persen, pH tanah 6,3, serta intensitas cahaya sekitar 99,7.

Sebanyak 71 persen jamur ditemukan tumbuh di atas tanah, sementara 29 persen lainnya berkembang pada kayu lapuk di kawasan hutan.

Kajian ini menjadi bagian dari penguatan riset bertema Agriculture, Animal Sciences, Agroforestry, and Agromaritime Innovation yang menekankan pentingnya inovasi terpadu antara sektor pertanian, kehutanan, peternakan, dan kelautan dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus keberlanjutan lingkungan tropis.

Konsep tersebut mengusung pendekatan One Health, yakni keterhubungan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam satu sistem ekologi yang saling memengaruhi.

Konawe Gandeng SMI Bangun RSUD Modern, Lokasinya Aman dari Polusi Industri Nikel Morosi

Melalui pendekatan ini, inovasi pertanian cerdas iklim, agroforestri, akuakultur presisi, hingga teknologi bioteknologi dan digital seperti sensor, penginderaan jauh, serta sistem ketertelusuran produksi dinilai menjadi kunci membangun sistem pangan tropis yang tangguh di tengah ancaman perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Penelitian mengenai makrofungi di Konawe Selatan ini pun dinilai penting bukan hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai fondasi konservasi biodiversitas hutan tropis Sulawesi di masa depan.

Di tengah masifnya tekanan terhadap ekosistem akibat pembukaan lahan dan eksploitasi sumber daya alam, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa hutan Sulawesi Tenggara masih menyimpan “harta karun biologis” yang belum sepenuhnya terungkap. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

54 TKP Dibobol, Remaja 18 Tahun Jadi Momok Curanmor di Kendari dan Konawe Selatan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *