Lingkungan
Home / Lingkungan / KLH Ungkap Pelanggaran Serius Pengolahan Nikel di Kawasan Industri Morowali

KLH Ungkap Pelanggaran Serius Pengolahan Nikel di Kawasan Industri Morowali

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, saat meninjau kawasan industri pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kecamatan Bahodopi, Sulawesi Tengah, pada Jumat (30/5/2025). Foto KLH

MOROWALI – Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) menemukan sejumlah pelanggaran serius dalam pengelolaan lingkungan di kawasan industri pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kecamatan Bahodopi, Sulawesi Tengah. Temuan ini terungkap dalam kunjungan kerja Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, pada Jumat (30/5/2025).

Dalam inspeksi tersebut, Hanif menyasar titik-titik rawan pencemaran dan risiko keselamatan, seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bahomakmur milik PT IMIP, area banjir di sekitar PT ONI, serta unit smelter PT ITSS yang sebelumnya mengalami insiden ledakan mematikan.

Salah satu temuan krusial adalah praktik open dumping di TPA Bahomakmur, yang berpotensi mencemari tanah dan sumber air.

“Ini bukan hanya pelanggaran administratif. Ini soal nyawa, soal masa depan lingkungan, dan soal tanggung jawab. Negara akan hadir lebih kuat dan lebih tegas,” tegas Hanif dikutip dari siaran KLH, Senin (2/6/2025).

Di kawasan PT ONI, ditemukan bahwa air banjir langsung dialirkan ke laut tanpa sistem pengendalian limbah yang memadai. Aktivitas pembuangan slag nikel dan tailing di beberapa lokasi juga berlangsung tanpa pengawasan teknis yang ketat. Hal ini menimbulkan ancaman serius terhadap ekosistem laut akibat kemungkinan kandungan logam berat.

Nikel Indonesia Mengguncang Dunia: Dari Soroako 1901 ke Ambisi Kendalikan Pasar Global

Smelter PT ITSS, yang menjadi sorotan akibat ledakan tungku tahun 2023 yang menewaskan 21 pekerja, ternyata memiliki 26 titik sumber emisi tak bergerak, namun hanya sebagian yang diawasi dengan sistem Continuous Emission Monitoring System (CEMS). Kondisi ini menunjukkan lemahnya sistem pengendalian emisi di kawasan industri nikel tersebut.

Menteri Hanif menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap tata kelola industri nikel, terutama yang beroperasi di kawasan strategis seperti Morowali.

“Kami hadir untuk memastikan bahwa keselamatan manusia dan lingkungan hidup menjadi prioritas utama. Tidak boleh lagi ada tragedi akibat kelalaian industri terhadap aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan,” katanya. (MS)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Teror Agraria di Angata, Konawe Selatan: 50 Rumah Dibakar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top News

01

Inovasi Pengembangan Lahan Urban di Kendari Layak Jadi Inspirasi

02

194 Pelaku UMKM di Kendari Resmi Terima Bantuan Modal Rp5 Juta

03

Bukan Sultra, Ini Alasan Sulut Jadi Primadona Hilirisasi Perikanan di Kawasan Indonesia Timur

04

Polda Sultra Ringkus 4 IRT Kurir Sabu Jaringan Internasional dari Malaysia

05

Antisipasi Ancaman Terorisme, Polsatwa K9 Polda Sultra Sterilisasi 2 Gereja di Kendari

Berita Terbaru






Iklan Promosi Mediasultra.com

Media Politik






Kendari Hits