KENDARI – Genggaman China atas ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra) kian tak terbantahkan.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, hampir seluruh denyut perdagangan luar negeri daerah ini—baik ekspor maupun impor—terkait langsung dengan Negeri Tirai Bambu.
Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, pada Senin (4/5/2026) mengungkapkan bahwa kinerja perdagangan luar negeri Sultra masih menunjukkan pertumbuhan, meski disertai sejumlah ketimpangan struktural.
Pada Maret 2026, nilai ekspor Sulawesi Tenggara tercatat US$347,36 juta, tumbuh 7,05 persen dibanding Maret 2025. Namun di balik kenaikan nilai itu, terdapat sinyal peringatan: volume ekspor justru anjlok 16,19 persen secara tahunan.
Secara kumulatif Januari–Maret 2026, total ekspor mencapai US$953,67 juta, naik dari US$914,09 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Baja Mendominasi, Sektor Lain Terpinggirkan
Struktur ekspor Sultra nyaris tak berubah: sangat bergantung pada satu komoditas. Besi dan baja (HS 72) menjadi tulang punggung dengan kontribusi 98,35 persen dari total ekspor.
Nilai ekspor komoditas ini mencapai US$937,89 juta pada triwulan I 2026, tumbuh 6,63 persen. Namun lagi-lagi, peningkatan ini tidak sejalan dengan volume yang justru turun 10,44 persen, menandakan adanya tekanan produksi atau perubahan harga global.
Sektor lain seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan bahkan mengalami kontraksi tajam, mempertegas ketimpangan struktur ekonomi.
China Serap 95 Persen Ekspor
Ketergantungan terhadap satu pasar terlihat sangat ekstrem.
Sepanjang Januari–Maret 2026, 95,75 persen ekspor Sultra mengalir ke China, dengan nilai mencapai US$913,12 juta.
Hampir seluruh ekspor ke negara tersebut adalah besi dan baja—mencapai 99,87 persen. Negara lain seperti India, Amerika Serikat, dan Korea Selatan hanya menjadi pelengkap dengan porsi sangat kecil.
Impor Meledak, Mesin dari China Membanjir
Di sisi lain, impor Sultra justru melonjak drastis. Pada Maret 2026, nilai impor mencapai US$335,29 juta, meroket 278,24 persen (y-on-y).
Secara kumulatif, impor Januari–Maret 2026 menembus US$846,97 juta, jauh di atas periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$286,25 juta.
Lonjakan ini didorong oleh kebutuhan industri, terutama bahan baku/penolong yang naik 160,02 persen, serta impor mesin dan peralatan.
Komoditas impor utama meliputi:
– Mesin-mesin/pesawat mekanik (HS 84): naik 2.503,69 persen
– Mesin/peralatan listrik (HS 85): naik 431,70 persen
– Bahan bakar mineral (HS 27): naik 31,52 persen
Ironisnya, China kembali menjadi pemasok utama, dengan pangsa 65,11 persen atau senilai US$551,43 juta.
Surplus Tipis di Tengah Risiko Besar
Meski impor melonjak, Sultra masih mencatat surplus perdagangan US$12,07 juta pada Maret 2026. Secara kumulatif Januari–Maret, surplus mencapai US$106,73 juta.
Namun, surplus ini sangat rapuh karena bergantung hampir sepenuhnya pada ekspor besi dan baja ke China.
Tekanan Global Tambah Beban
Di tengah dinamika tersebut, tekanan global ikut memperparah situasi. Harga BBM nonsubsidi melonjak tajam pada April 2026, sementara harga avtur naik lebih dari 70 persen.
Kelangkaan chip global juga mendorong kenaikan harga barang elektronik, yang berimbas pada meningkatnya biaya impor.
Risiko Ketergantungan Ekonomi
Data ini mempertegas satu realitas: ekonomi Sulawesi Tenggara sedang berada dalam bayang-bayang ketergantungan tinggi—baik pada komoditas tunggal maupun satu negara tujuan.
Ketika permintaan atau harga dari China terganggu, maka dampaknya bisa langsung mengguncang perekonomian daerah.
Diversifikasi pasar dan penguatan sektor non-industri pengolahan kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa itu, Sultra berisiko terus berada dalam lingkaran ketergantungan yang sulit diputus. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini


Comment