Seputar Korupsi
Home / Seputar Korupsi / Efek Domino Korupsi Nikel: Ombudsman Daerah Berpotensi Diselidiki Kejagung

Efek Domino Korupsi Nikel: Ombudsman Daerah Berpotensi Diselidiki Kejagung

Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) Republik Indonesia. Dok

JAKARTA – Skandal dugaan korupsi tata kelola tambang nikel di Sulawesi Tenggara tidak hanya mengguncang pusat kekuasaan, tetapi juga berpotensi merembet hingga ke daerah.

Kejaksaan Agung (Kejagung) membuka peluang memperluas penyidikan, termasuk menelusuri kemungkinan keterlibatan Ombudsman di wilayah tambang.

Kasus ini mencuat setelah Ketua Ombudsman RI Hery Susanto (HS) ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM PIDSUS). HS diduga menerima suap sebesar Rp1,5 miliar dari pihak perusahaan tambang PT Toshida Indonesia (TSHI) untuk memengaruhi hasil pengawasan lembaga tersebut.

Direktur Penyidikan JAM PIDSUS, Syarief Sulaeman Nahdi, menegaskan bahwa penyidikan tidak akan berhenti pada satu individu.

“Pendalaman terus dilakukan, termasuk membuka kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam rantai kasus ini,” ujarnya di Kejagung, Kamis, 16 April 2026.

Alarm Keuangan Negara di Sulawesi Tenggara: Data Amburadul, Rekonsiliasi Lambat

Skema Terstruktur, Bukan Kasus Tunggal

Berdasarkan konstruksi perkara, dugaan korupsi ini bukanlah transaksi suap biasa, melainkan bagian dari skema yang terstruktur.

Kasus bermula dari sengketa kewajiban Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) antara perusahaan tambang dan pemerintah.

Alih-alih menempuh jalur hukum yang sah, pihak perusahaan diduga memanfaatkan jalur pengawasan Ombudsman untuk “mengoreksi” kebijakan negara. Proses pemeriksaan bahkan disebut direkayasa melalui laporan masyarakat yang hanya formalitas.

Dalam praktiknya, hasil pemeriksaan Ombudsman diarahkan untuk menyimpulkan bahwa kebijakan pemerintah keliru, sehingga perusahaan mendapatkan keuntungan berupa pengurangan beban kewajiban kepada negara.

Fiskal Sultra Mulai Goyah: Surplus Anjlok, Restitusi Pajak Membengkak

Potensi Rambatan ke Daerah Tambang

Pengamat menilai, pola yang terungkap dalam kasus ini membuka kemungkinan adanya praktik serupa di daerah-daerah tambang lain.

Mengingat struktur Ombudsman yang memiliki perwakilan di berbagai provinsi, potensi intervensi terhadap kebijakan daerah menjadi celah yang rawan disalahgunakan.

Jika di tingkat pusat saja mekanisme pengawasan bisa dimanipulasi, maka di daerah—yang seringkali memiliki pengawasan lebih lemah—risikonya bisa lebih besar.

Apalagi, wilayah seperti Sulawesi Tenggara dikenal sebagai episentrum industri nikel nasional, dengan aktivitas pertambangan yang masif dan kompleks. Interaksi antara perusahaan, pemerintah daerah, dan lembaga pengawas membuka ruang terjadinya konflik kepentingan.

Menuju Kota Masa Depan: Kendari Jangan Sampai Salah Arah

Peringatan Keras bagi Tata Kelola Nikel

Kasus ini menjadi peringatan serius bahwa persoalan di sektor nikel bukan hanya soal lingkungan atau ketimpangan ekonomi, tetapi juga menyentuh integritas lembaga negara.

Praktik dugaan kolusi antara korporasi dan pejabat pengawas berpotensi: Menggerus penerimaan negara dari sektor PNBP, Melemahkan fungsi kontrol terhadap kebijakan publik, dan Menciptakan preseden buruk dalam tata kelola sumber daya alam.

Dalam konteks ini, langkah Kejagung membuka peluang penyidikan lebih luas dapat menjadi momentum penting untuk membongkar pola sistemik, bukan sekadar menghukum pelaku individual.

Ujian Integritas Ombudsman

Lebih jauh, kasus ini menjadi ujian besar bagi Ombudsman sebagai lembaga pengawas pelayanan publik. Independensi yang selama ini menjadi fondasi utama kini dipertanyakan.

Jika dugaan ini terbukti melibatkan jaringan yang lebih luas, maka reformasi internal dan penguatan mekanisme pengawasan eksternal terhadap lembaga tersebut menjadi keniscayaan.

Kejagung sendiri menegaskan bahwa proses hukum akan terus dikembangkan. Fokusnya tidak hanya pada aliran dana, tetapi juga pada pola hubungan antara korporasi dan pejabat publik—baik di pusat maupun daerah.

Dengan demikian, skandal ini berpotensi menjadi pintu masuk untuk mengungkap praktik-praktik tersembunyi di balik industri nikel nasional—yang selama ini berjalan di antara kepentingan ekonomi besar dan lemahnya pengawasan. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top News

01

Janji Smelter Nikel di Routa Menguap, Tanah Adat Terus Dikeruk

02

Satgas PKH Sita Lahan Tambang Emas PT Panca Logam Makmur di Bombana

03

Investasi Rp181,58 Triliun di Pomalaa, IPIP akan Serap 10.000 Tenaga Kerja

04

Sultra Industrial Park (SIP) akan Dibangun di Bombana, Siapa Investornya?

05

Breaking News: Gempa M5,1 Guncang Wakatobi, Tidak Berpotensi Tsunami

Berita Terbaru






Iklan Promosi Mediasultra.com

Media Politik






Kendari Hits