KONAWE – Enam puluh enam tahun Konawe, Sulawesi Tenggara kini telah genap berdiri.
Waktu yang cukup panjang untuk mengukur: apakah sebuah daerah benar-benar maju, atau hanya terlihat tumbuh di atas kertas.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Kabupaten Konawe Dalam Angka 2025 memberi gambaran yang jujurโbahkan cenderung telanjang. Konawe hari ini adalah daerah yang sedang melesat cepat, tapi di saat yang sama menyimpan tekanan sosial yang tidak kecil.
Konawe: Wilayah Agraris yang Kaya Potensi
Konawe adalah wilayah besar, dengan luas mencapai 6.118,72 kilometer persegi. Bentang alamnya didominasi kawasan agraris dengan curah hujan tinggi, mencapai lebih dari 2.300 mm per tahun dan rata-rata 236 hari hujan.
Kondisi ini sejak lama menjadikan Konawe sebagai salah satu basis pertanian penting di Sulawesi Tenggara. Sawah, kebun, dan aktivitas produksi pangan menjadi denyut utama kehidupan masyarakat desa.
Namun, wajah Konawe hari ini tidak lagi sama seperti satu dekade lalu.
Penduduk Konawe pada 2024 tercatat sekitar 267 ribu jiwa, tumbuh stabil dengan laju 1,79 persen. Tingkat partisipasi angkatan kerja juga cukup tinggi, berada di angka 68,03 persen, sementara pengangguran relatif rendah di kisaran 3,04 persen.
Sekilas, ini menunjukkan ekonomi yang bergerak sehat. Tetapi di balik angka-angka itu, ada tekanan yang mulai terasa. Pertumbuhan penduduk dan peningkatan angkatan kerja tidak sepenuhnya diimbangi dengan distribusi peluang yang merata.
Kemiskinan di Konawe Naik Tajam
Bukti paling nyata terlihat pada angka kemiskinan.
Jumlah penduduk miskin justru naik menjadi 33,99 ribu orang, atau sekitar 13,25 persen dari total penduduk. Ini bukan sekadar statistikโini adalah sinyal keras bahwa pertumbuhan ekonomi belum menyentuh semua lapisan masyarakat.
Paradoks mulai terlihat jelas: ekonomi Konawe melesat, tapi sebagian warganya masih tertinggal.
Di sisi lain, angka ekonomi makro Konawe memang mencengangkan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2024 telah menembus Rp20,75 triliun.
Pertumbuhan ekonominya bahkan sempat melesat di atas 20 persen pada 2023, sebelum berada di angka 11,82 persen pada 2024โmasih sangat tinggi untuk ukuran daerah.
Pendapatan per kapita pun mencapai sekitar Rp77,67 juta per tahun.
Namun pertanyaan pentingnya bukan seberapa besar angka itu, melainkan: dari mana sumbernya?
Jawabannya mengarah pada satu sektor yang kini mendominasi Konaweโindustri nikel.
Transformasi Konawe: Dari Pertanian ke Industri Ekstraktif
Dalam beberapa tahun terakhir, Konawe mengalami transformasi besar. Industri pengolahan, terutama yang berkaitan dengan nikel, kini menyumbang sekitar setengah dari total PDRB.
Kawasan industri seperti Morosi menjadi pusat pertumbuhan baru, menarik investasi besar dan mendorong laju ekonomi secara signifikan.
Konawe, secara perlahan tapi pasti, telah bergeser dari daerah agraris menjadi kawasan industri berbasis sumber daya alam.
Di sinilah titik baliknya.
Sektor pertanian yang dulu menjadi tulang punggung, kini kontribusinya menyusut ke kisaran 15โ16 persen. Pertumbuhannya pun relatif stagnan, hanya sekitar satu persen. Padahal sektor ini masih menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat desa.
Produksi padi, palawija, hingga aktivitas perkebunan dan perikanan memang masih berjalan. Tapi ia tidak lagi menjadi penentu arah ekonomi.
Pertanian bertahan, tapi bukan lagi penggerak utama.
Sebaliknya, sektor industri nikel tumbuh agresif, menciptakan nilai ekonomi besarโnamun dengan karakter yang berbeda. Ia padat modal, terpusat di wilayah tertentu, dan tidak selalu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.
Akibatnya, muncul dua wajah Konawe yang berjalan berdampingan, tapi tidak selalu terhubung.
Di satu sisi, ada Konawe industriโmodern, tumbuh cepat, dipenuhi investasi dan aktivitas produksi berskala besar.
Di sisi lain, ada Konawe desaโyang masih bergantung pada sawah, kebun, dan ekonomi tradisional dengan pertumbuhan yang jauh lebih lambat.
Kesenjangan ini perlahan tapi pasti mulai terasa.
Pembangunan Manusia: Tertinggal dari Laju Ekonomi
Pembangunan sosial juga menunjukkan pola serupa. Fasilitas pendidikan dan kesehatan memang tersedia, dari sekolah hingga puskesmas dan rumah sakit. Namun distribusinya belum merata, dan akses di beberapa wilayah masih menjadi tantangan.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Konawe memang meningkat ke angka 74,50โkategori menengah atas. Tapi kenaikannya tidak secepat pertumbuhan ekonomi.
Artinya sederhana: ekonomi berlari, kualitas hidup berjalan.
Sementara itu, di level rumah tangga, tekanan lain mulai muncul. Pengeluaran per kapita meningkat, terutama untuk kebutuhan dasar. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi juga diiringi dengan kenaikan biaya hidupโsesuatu yang sering luput dari euforia angka makro.
Di titik ini, Konawe sedang berdiri di persimpangan.
Di satu sisi, daerah ini memiliki semua syarat untuk menjadi kekuatan ekonomi baru: sumber daya alam, industri yang berkembang pesat, serta pertumbuhan yang tinggi.
Namun di sisi lain, ada risiko nyata yang mengintaiโketimpangan sosial, tekanan pada sektor tradisional, dan ketergantungan pada ekonomi ekstraktif.
Transformasi dari sawah ke smelter memang membawa lonjakan ekonomi. Tapi tanpa keseimbangan, ia juga bisa meninggalkan sebagian masyarakat di belakang.
Enam puluh enam tahun Konawe bukan lagi hanya sebatas perayaan usia. Ini adalah momen untuk bertanya dengan jujur:
Apakah pertumbuhan ini sudah adil?
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa persen pertumbuhan ekonomi sebuah daerah.
Sejarah hanya akan mencatat: apakah rakyatnya ikut sejahtera, atau hanya menjadi penonton dari ledakan ekonomi di tanahnya sendiri. (Newsroom)
Simak Berita Lainnya di WA Channelย disini


Comment