News Konawe Sultra
Home / Sultra / 66 Tahun Konawe: Dari Sawah ke Industri Nikel, Kemiskinan Menanjak

66 Tahun Konawe: Dari Sawah ke Industri Nikel, Kemiskinan Menanjak

Kawasan Virtue Dragon Nickel Industrial Park (VDNI) di Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, merupakan salah satu Industri nikel terbesar di Indonesia. Foto: ibrahimtenker

KONAWE – Enam puluh enam tahun Konawe, Sulawesi Tenggara kini telah genap berdiri.

Waktu yang cukup panjang untuk mengukur: apakah sebuah daerah benar-benar maju, atau hanya terlihat tumbuh di atas kertas.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Kabupaten Konawe Dalam Angka 2025 memberi gambaran yang jujurโ€”bahkan cenderung telanjang. Konawe hari ini adalah daerah yang sedang melesat cepat, tapi di saat yang sama menyimpan tekanan sosial yang tidak kecil.

Konawe: Wilayah Agraris yang Kaya Potensi

Konawe adalah wilayah besar, dengan luas mencapai 6.118,72 kilometer persegi. Bentang alamnya didominasi kawasan agraris dengan curah hujan tinggi, mencapai lebih dari 2.300 mm per tahun dan rata-rata 236 hari hujan.

Kondisi ini sejak lama menjadikan Konawe sebagai salah satu basis pertanian penting di Sulawesi Tenggara. Sawah, kebun, dan aktivitas produksi pangan menjadi denyut utama kehidupan masyarakat desa.

Wonderful Indonesia Awards 2026: Saatnya Daerah dan Pelaku Wisata Unjuk Karya

Namun, wajah Konawe hari ini tidak lagi sama seperti satu dekade lalu.

Penduduk Konawe pada 2024 tercatat sekitar 267 ribu jiwa, tumbuh stabil dengan laju 1,79 persen. Tingkat partisipasi angkatan kerja juga cukup tinggi, berada di angka 68,03 persen, sementara pengangguran relatif rendah di kisaran 3,04 persen.

Sekilas, ini menunjukkan ekonomi yang bergerak sehat. Tetapi di balik angka-angka itu, ada tekanan yang mulai terasa. Pertumbuhan penduduk dan peningkatan angkatan kerja tidak sepenuhnya diimbangi dengan distribusi peluang yang merata.

Kemiskinan di Konawe Naik Tajam

Bukti paling nyata terlihat pada angka kemiskinan.

Jumlah penduduk miskin justru naik menjadi 33,99 ribu orang, atau sekitar 13,25 persen dari total penduduk. Ini bukan sekadar statistikโ€”ini adalah sinyal keras bahwa pertumbuhan ekonomi belum menyentuh semua lapisan masyarakat.

Target 2026: Baubau Tekan Stunting hingga 5,6 Persen

Paradoks mulai terlihat jelas: ekonomi Konawe melesat, tapi sebagian warganya masih tertinggal.

Di sisi lain, angka ekonomi makro Konawe memang mencengangkan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2024 telah menembus Rp20,75 triliun.

Pertumbuhan ekonominya bahkan sempat melesat di atas 20 persen pada 2023, sebelum berada di angka 11,82 persen pada 2024โ€”masih sangat tinggi untuk ukuran daerah.

Pendapatan per kapita pun mencapai sekitar Rp77,67 juta per tahun.

Namun pertanyaan pentingnya bukan seberapa besar angka itu, melainkan: dari mana sumbernya?

Pemerintah Siap Tutup Seluruh TPA Open Dumping Tahun ini

Jawabannya mengarah pada satu sektor yang kini mendominasi Konaweโ€”industri nikel.

Transformasi Konawe: Dari Pertanian ke Industri Ekstraktif

Dalam beberapa tahun terakhir, Konawe mengalami transformasi besar. Industri pengolahan, terutama yang berkaitan dengan nikel, kini menyumbang sekitar setengah dari total PDRB.

Kawasan industri seperti Morosi menjadi pusat pertumbuhan baru, menarik investasi besar dan mendorong laju ekonomi secara signifikan.

Konawe, secara perlahan tapi pasti, telah bergeser dari daerah agraris menjadi kawasan industri berbasis sumber daya alam.

Di sinilah titik baliknya.

Sektor pertanian yang dulu menjadi tulang punggung, kini kontribusinya menyusut ke kisaran 15โ€“16 persen. Pertumbuhannya pun relatif stagnan, hanya sekitar satu persen. Padahal sektor ini masih menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat desa.

Produksi padi, palawija, hingga aktivitas perkebunan dan perikanan memang masih berjalan. Tapi ia tidak lagi menjadi penentu arah ekonomi.

Pertanian bertahan, tapi bukan lagi penggerak utama.

Sebaliknya, sektor industri nikel tumbuh agresif, menciptakan nilai ekonomi besarโ€”namun dengan karakter yang berbeda. Ia padat modal, terpusat di wilayah tertentu, dan tidak selalu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.

Akibatnya, muncul dua wajah Konawe yang berjalan berdampingan, tapi tidak selalu terhubung.

Di satu sisi, ada Konawe industriโ€”modern, tumbuh cepat, dipenuhi investasi dan aktivitas produksi berskala besar.

Di sisi lain, ada Konawe desaโ€”yang masih bergantung pada sawah, kebun, dan ekonomi tradisional dengan pertumbuhan yang jauh lebih lambat.

Kesenjangan ini perlahan tapi pasti mulai terasa.

Pembangunan Manusia: Tertinggal dari Laju Ekonomi

Pembangunan sosial juga menunjukkan pola serupa. Fasilitas pendidikan dan kesehatan memang tersedia, dari sekolah hingga puskesmas dan rumah sakit. Namun distribusinya belum merata, dan akses di beberapa wilayah masih menjadi tantangan.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Konawe memang meningkat ke angka 74,50โ€”kategori menengah atas. Tapi kenaikannya tidak secepat pertumbuhan ekonomi.

Artinya sederhana: ekonomi berlari, kualitas hidup berjalan.

Sementara itu, di level rumah tangga, tekanan lain mulai muncul. Pengeluaran per kapita meningkat, terutama untuk kebutuhan dasar. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi juga diiringi dengan kenaikan biaya hidupโ€”sesuatu yang sering luput dari euforia angka makro.

Di titik ini, Konawe sedang berdiri di persimpangan.

Di satu sisi, daerah ini memiliki semua syarat untuk menjadi kekuatan ekonomi baru: sumber daya alam, industri yang berkembang pesat, serta pertumbuhan yang tinggi.

Namun di sisi lain, ada risiko nyata yang mengintaiโ€”ketimpangan sosial, tekanan pada sektor tradisional, dan ketergantungan pada ekonomi ekstraktif.

Transformasi dari sawah ke smelter memang membawa lonjakan ekonomi. Tapi tanpa keseimbangan, ia juga bisa meninggalkan sebagian masyarakat di belakang.

Enam puluh enam tahun Konawe bukan lagi hanya sebatas perayaan usia. Ini adalah momen untuk bertanya dengan jujur:

Apakah pertumbuhan ini sudah adil?

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa persen pertumbuhan ekonomi sebuah daerah.

Sejarah hanya akan mencatat: apakah rakyatnya ikut sejahtera, atau hanya menjadi penonton dari ledakan ekonomi di tanahnya sendiri. (Newsroom)

Simak Berita Lainnya di WA Channelย disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top News

01

Janji Smelter Nikel di Routa Menguap, Tanah Adat Terus Dikeruk

02

Satgas PKH Sita Lahan Tambang Emas PT Panca Logam Makmur di Bombana

03

Investasi Rp181,58 Triliun di Pomalaa, IPIP akan Serap 10.000 Tenaga Kerja

04

Sultra Industrial Park (SIP) akan Dibangun di Bombana, Siapa Investornya?

05

Breaking News: Gempa M5,1 Guncang Wakatobi, Tidak Berpotensi Tsunami

Berita Terbaru






Iklan Promosi Mediasultra.com

Media Politik






Kendari Hits