JAKARTA — PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk. (PACK), emiten yang terafiliasi dengan pengusaha asal Kalimantan Selatan, Haji Samsudin Andi Arsyad alias Haji Isam, bersiap memperluas bisnisnya di sektor pertambangan nikel melalui rencana akuisisi perusahaan yang memiliki entitas usaha di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, PACK merencanakan aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II atau rights issue senilai maksimal US$463 juta, setara Rp8,19 triliun dengan asumsi kurs Rp17.703 per dolar AS.
Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung transformasi bisnis perseroan menjadi perusahaan induk (holding company) yang berfokus pada pertambangan mineral, khususnya nikel. Rencana ekspansi ini mencakup akuisisi dua perusahaan, yakni PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama (Bumanik) dan Denway Development Limited (DDL).
Rencana aksi korporasi tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 30 November 2026.
Akuisisi Perusahaan Nikel di Sulawesi Tenggara
Salah satu transaksi utama yang direncanakan PACK adalah akuisisi 100% saham Denway Development Limited dengan nilai mencapai US$324 juta atau sekitar Rp5,73 triliun.
Melalui entitas anak DDL, yakni PT Karayatama Konawe Utara (KKU), PT Konutara Sejati (KS), dan PT Hanking Makmur Nickelsment (HMN), akuisisi tersebut ditujukan untuk memperkuat posisi PACK dalam bisnis pertambangan nikel.
Keberadaan PT Karayatama Konawe Utara dan PT Konutara Sejati menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai salah satu wilayah strategis dalam rencana ekspansi bisnis perseroan.
Meski demikian, rincian lokasi konsesi, luas wilayah pertambangan, dan status operasional masing-masing entitas masih perlu ditelusuri lebih lanjut.
Akuisisi DDL menjadi bagian dari strategi diversifikasi PACK menuju bisnis pertambangan mineral, khususnya nikel. Transaksi tersebut masih berupa rencana korporasi yang harus diselesaikan sesuai tahapan dan persetujuan yang berlaku.
Akuisisi Bumanik Senilai US$79 Juta
Selain DDL, PACK juga berencana mengakuisisi 100% saham PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama melalui anak usahanya, PT Daya Unggul Raya dan PT Gemilang Padma Raya.
Nilai transaksi akuisisi Bumanik mencapai US$79 juta atau sekitar Rp1,39 triliun.
Bumanik merupakan perusahaan pertambangan bijih nikel yang berlokasi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dengan luas wilayah konsesi mencapai 4.778 hektare.
Berdasarkan penilaian KJPP Kusnanto & Rekan, nilai pasar Bumanik diperkirakan mencapai Rp1,43 triliun. Penilaian tersebut menjadi salah satu dasar dalam mengevaluasi kewajaran transaksi dari sisi finansial.
Jika kedua transaksi terealisasi sesuai rencana, nilai akuisisi DDL dan Bumanik akan mencapai US$403 juta atau sekitar Rp7,12 triliun berdasarkan asumsi kurs yang digunakan.
Rights Issue Maksimal Rp8,19 Triliun
Untuk mendukung ekspansi tersebut, PACK berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 100 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp10 per saham melalui rights issue.
Dana bersih yang diperoleh setelah dikurangi biaya emisi akan dialokasikan untuk sejumlah kebutuhan, termasuk pelunasan pinjaman, modal kerja, serta pembiayaan akuisisi perusahaan di sektor nikel.
Dalam dokumen keterbukaan informasi yang disampaikan pada Kamis (22/10/2026), manajemen PACK menjelaskan bahwa rangkaian rencana strategis tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 30 November 2026.
Pelaksanaan rights issue menjadi salah satu instrumen pendanaan utama untuk mendukung perubahan fokus bisnis perseroan menuju sektor pertambangan mineral.
Pemegang Saham Pengendali Siap Menjadi Pembeli Siaga
Pemegang saham pengendali PACK, PT Eco Energi Perkasa, menyatakan komitmennya untuk melaksanakan haknya dalam rights issue tersebut.
PT Eco Energi Perkasa juga bersedia bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer) untuk menyerap saham baru yang tidak diambil oleh pemegang saham lainnya, dengan nilai maksimum mencapai US$418 juta atau sekitar Rp7,39 triliun.
Di sisi lain, pemegang saham lama yang tidak melaksanakan haknya berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga sekitar 74,6%.
Sejalan dengan transformasi bisnis tersebut, PACK juga berencana mengubah kegiatan usaha utama serta menambahkan klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI) untuk perdagangan besar bijih dan konsentrat logam serta aktivitas konsultasi manajemen dan bisnis lainnya.
Perubahan tersebut diarahkan untuk mendukung integrasi dan efisiensi operasional entitas anak dalam struktur bisnis perseroan.
Struktur Kepemilikan PACK
Berdasarkan data perseroan per 30 September 2026, PT Eco Energi Perkasa memiliki 38,51% saham PACK. Sementara itu, Haji Samsudin Andi Arsyad tercatat memiliki 20,05% saham secara langsung.
Adapun 41,44% saham lainnya dimiliki oleh masyarakat dengan kepemilikan masing-masing di bawah 5%.
Struktur tersebut menempatkan PT Eco Energi Perkasa sebagai pemegang saham pengendali PACK, sementara Haji Isam merupakan salah satu pemegang saham langsung perseroan.
Rencana rights issue dan akuisisi ini menjadi langkah ekspansi PACK untuk membangun portofolio bisnis pertambangan nikel melalui pengambilalihan perusahaan yang memiliki keterkaitan usaha dengan wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
Realisasi ekspansi tersebut masih bergantung pada persetujuan pemegang saham, pelaksanaan aksi korporasi, serta penyelesaian transaksi akuisisi sesuai ketentuan yang berlaku. (MS Network)

Comment