Ekonomi & Bisnis
Home / Ekonomi & Bisnis / 1.000 Master dan Doktor Siap Bangun Kawasan Transmigrasi Indonesia

1.000 Master dan Doktor Siap Bangun Kawasan Transmigrasi Indonesia

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi. Ist

JAKARTA – Kementerian Transmigrasi meluncurkan terobosan besar untuk mempercepat pengembangan kawasan transmigrasi di Indonesia.

Bukan lagi sekadar memindahkan penduduk, kini transmigrasi menghadirkan ribuan transmigran berpendidikan tinggi, mulai dari magister hingga doktor, yang siap menjadikan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengungkapkan bahwa program ini akan dimulai tahun 2026 melalui skema Transmigrasi Patriot.

Sebanyak 1.000 transmigran berpendidikan S2 dan S3 dari perguruan tinggi ternama, seperti UGM, ITB, UI, IPB, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, ITS, hingga kampus luar negeri, akan dikirim ke berbagai kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.

“Mereka tidak hanya menetap, tetapi juga mengembangkan potensi kawasan, baik ekonomi, sosial, maupun budaya. Tujuannya agar kawasan transmigrasi tumbuh cepat, kompetitif, dan mampu menghasilkan produk unggulan berorientasi ekspor,” jelas Viva Yoga, Senin (8/9/2025).

Nikel Indonesia Mengguncang Dunia: Dari Soroako 1901 ke Ambisi Kendalikan Pasar Global

2.000 Peneliti Dikirim Lebih Dulu

Sebelum transmigran berpendidikan tinggi dikirim, Kementerian Transmigrasi telah menggerakkan Tim Ekspedisi Patriot berjumlah 2.000 peneliti dari berbagai kampus top. Tim tersebut terdiri dari 42 guru besar, 358 doktor, 846 sarjana dan magister, serta 754 mahasiswa.

Mereka disebar ke 154 kawasan transmigrasi untuk melakukan riset dan pemetaan potensi daerah mulai Agustus hingga Desember 2025. Hasil penelitian inilah yang akan menjadi dasar kebijakan pengembangan transmigrasi berbasis riset.

“Transmigran patriot nantinya bekerja dengan landasan hasil penelitian yang sudah disusun tim ekspedisi. Dengan begitu, kawasan transmigrasi bisa menjadi pusat pertumbuhan baru yang modern,” tambahnya.

Paradigma Baru Transmigrasi

Kementerian Transmigrasi juga menegaskan bahwa paradigma lama sudah ditinggalkan. Jika dulu transmigrasi dilakukan secara sentralistik dan top down, kini pendekatannya desentralistik dan bottom up.

Pemerintah daerah yang membutuhkan tenaga transmigran bisa langsung mengajukan permintaan dengan menyiapkan lahan khusus.

25 Tahun Otonomi Daerah: Resentralisasi Ancam Desentralisasi

Menurut Viva Yoga, banyak pemerintah kabupaten sudah menyatakan kebutuhan akan transmigran. Namun, ia menekankan bahwa transmigrasi masa kini tidak lagi hanya soal pemindahan penduduk, melainkan pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal.

Transmigrasi Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

Dengan hadirnya transmigran berpendidikan tinggi, pemerintah menargetkan kawasan transmigrasi mampu berkembang menjadi pusat produksi, pusat inovasi, sekaligus mencetak komoditas unggulan ekspor.

Langkah ini juga diharapkan dapat mendorong pemerataan pembangunan, mengurangi ketimpangan wilayah, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di daerah-daerah transmigrasi. (MS)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

RKAB Dipangkas: Stop Obral Nikel Sekarang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top News

01

Sultra Industrial Park (SIP) akan Dibangun di Bombana, Siapa Investornya?

02

Besaran Gaji PPPK Paruh Waktu di 16 Daerah Sulawesi Tenggara: Cek Daftar Lengkapnya!

03

Profil Laode Sulaeman, Putra Baubau Sulawesi Tenggara yang Resmi Jadi Dirjen Migas ESDM

04

Kendari Butuh Terobosan Besar untuk Genjot Investasi di Tahun 2025

05

Wakatobi: Benteng Terakhir Biodiversitas Laut Sultra di Tengah Ekspansi Tambang Nikel

Berita Terbaru






Iklan Promosi Mediasultra.com

Media Politik






Kendari Hits