KENDARI – Tepuk tangan bergema di ruang sidang paripurna DPRD dalam rangka peringatan HUT ke-62 Sulawesi Tenggara yang digelar Kamis (23/4/2026).
Namun di balik seremoni dan optimisme pembangunan, satu pertanyaan besar tak bisa dihindari: benarkah kesejahteraan sudah dirasakan semua?
Di forum tersebut, Gubernur Andi Sumangerukka (ASR) menyampaikan pesan tegas—masa depan Sultra ditentukan oleh produktivititas.
“Tema ‘Produktif untuk Sultra Sejahtera’ bukanlah slogan. Ini adalah arah pembangunan kita,” ujarnya.
Produktivitas, kata dia, bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana: sumber daya dikelola bernilai tambah, investasi berdampak luas, UMKM tumbuh dan birokrasi bekerja responsif.
Pesan itu terdengar kuat. Tapi ketika angka-angka dibuka, realitasnya jauh lebih kompleks.
2,83 Juta Penduduk, Tapi 321 Ribu Masih Miskin
Di usia ke-62 ini, Sultra menghadapi realitas yang tak bisa ditutupi angka: daerah ini kaya sumber daya, tapi kesejahteraan belum sepenuhnya merata.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik dalam laporan Sulawesi Tenggara Dalam Angka 2025 mengungkap kontras yang mencolok antara pertumbuhan ekonomi dan kondisi sosial masyarakat.
Jumlah penduduk Sultra pada 2025 mencapai 2,83 juta jiwa. Namun, di balik angka itu, masih ada sekitar 321,53 ribu jiwa hidup di bawah garis kemiskinan atau 11,43 persen dari total penduduk.
Bahkan, garis kemiskinan tercatat sebesar Rp443.980 per kapita per bulan.
Artinya, ratusan ribu warga Sultra hidup dengan pengeluaran tak sampai Rp15 ribu per hari.
Ekonomi Tumbuh 5,40 Persen, Tapi Belum Merata
Secara makro, ekonomi Sultra sebenarnya bergerak. Pada 2024, pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 5,40 persen.
Hilirisasi nikel dan investasi industri menjadi motor utama. Namun pertumbuhan ini belum sepenuhnya inklusif.
Ketimpangan masih terlihat, terutama antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
IPM Naik, Tapi Masih di Level Menengah Atas
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sultra pada 2024 berada di angka 72,94, naik 0,56 poin dari tahun sebelumnya.
Meski sudah masuk kategori “tinggi”, posisi ini masih menunjukkan bahwa kualitas pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat belum optimal.
Bonus Demografi: 1,47 Juta Angkatan Kerja
Dari sisi tenaga kerja, jumlah angkatan kerja mencapai 1.476.461 orang.
Namun, sebanyak 45.572 orang masih menganggur, terdiri dari: 16.106 pernah bekerja dan 29.466 belum pernah bekerja.
Ini menunjukkan bahwa peluang kerja belum mampu mengimbangi pertumbuhan tenaga kerja.
Potret Pendidikan: Sekolah Banyak, Tapi Tantangan Kualitas
Di sektor pendidikan:
SD: 2.352 sekolah, 296.736 siswa, 29.517 guru
SMP: 795 sekolah, 114.968 siswa
SMA/SMK: 488 sekolah, 125.699 siswa
Namun, masih ada: 25,02% anak usia sekolah tidak lagi bersekolah dan 2,21% belum pernah sekolah.
Ini menjadi alarm serius bagi kualitas SDM ke depan.
Fasilitas Kesehatan Ada, Tapi Belum Merata
Data 2024 mencatat: 43 rumah sakit umum, 1 rumah sakit khusus, 111 puskesmas rawat inap dan 196 puskesmas non-rawat inap.
Meski jumlahnya cukup, distribusinya belum merata di semua wilayah.
Pidato dan Kenyataan
Apa yang disampaikan Gubernur Andi Sumangerukka sebenarnya tepat—produktivititas adalah kunci.
Namun data menunjukkan satu hal penting: produktivititas belum otomatis menjadi kesejahteraan.
Masih ada jarak antara pertumbuhan dan keadilan.
Masih ada jurang antara investasi dan kesejahteraan rakyat.
62 Tahun: Titik Balik atau hanya Perayaan?
Selama 62 tahun, Sultra telah berubah dari daerah pinggiran menjadi pusat industri berbasis sumber daya alam. Nikel, investasi, dan kawasan industri terus tumbuh.
Yang menjadi ujian adalah keberpihakan.
Apakah pembangunan benar-benar menyentuh rakyat kecil?
Atau hanya berputar di lingkaran elite dan industri besar?
HUT ke-62 ini idealnya jangan hanya jadi selebrasi saja. Ini adalah momen refleksi paling jujur: Sultra sudah maju dalam angka, tapi belum sepenuhnya adil dalam rasa. (Newsroom)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini


Comment