News Kendari Sultra
Home / Sultra / Kota Kendari, Sulawesi Tenggara Tak Berdaya Hadapi Banjir: Status Darurat Diumumkan

Kota Kendari, Sulawesi Tenggara Tak Berdaya Hadapi Banjir: Status Darurat Diumumkan

Potret banjir di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (11/5/2026). PPID

KENDARI — Kota Kendari kembali lumpuh diterjang banjir besar.

Setelah diguyur hujan selama beberapa hari, ibu kota Sulawesi Tenggara itu akhirnya menetapkan status tanggap darurat bencana, menyusul meluasnya genangan yang merendam permukiman, sawah, hingga infrastruktur di delapan kecamatan.

Pemerintah Kota Kendari menetapkan status darurat dalam rapat koordinasi bersama Forkopimda, Senin (11/5/2026), setelah banjir berdampak pada sedikitnya 3.517 jiwa dan merendam 797 rumah warga. Sekitar 100 hektare sawah siap panen juga ikut terendam dan terancam gagal panen. Dan angka-angka ini diprediksi masih akan bertambah.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, mengakui banjir yang terjadi kali ini bukan lagi persoalan biasa.

Menurutnya, dampak banjir semakin luas dan terus berulang setiap tahun.

APBN Sulawesi Tenggara Mulai Tersendat: Dana Desa Dipangkas 62 Persen, Ribuan Desa Terancam

“Dengan melihat kondisi wilayah Kota Kendari saat ini, kita menetapkan status tanggap darurat bencana. Ini harus dibarengi langkah nyata dan koordinasi yang lebih kuat,” tegasnya.

Pernyataan paling mencolok muncul saat Siska menyebut Kendari sebagai daerah “muara” dari sejumlah kabupaten di sekitarnya. Kondisi itu membuat kota ini terus menerima limpahan air dari wilayah hulu setiap kali hujan deras mengguyur Sulawesi Tenggara.

“Kendari ini muara dari beberapa kabupaten. Hujan sedikit saja sudah banjir, apalagi hujan beberapa hari berturut-turut seperti sekarang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan betapa rapuhnya sistem pengendalian banjir di Kota Kendari.

Di tengah pesatnya pembangunan kota, kapasitas drainase, sungai, dan kawasan resapan air dinilai tak lagi mampu menahan volume air yang terus meningkat.

Konawe Utara, Sulawesi Tenggara Diterjang Banjir Parah: Akses Terputus, Desa-Desa Terisolir

Kawasan bantaran Kali Wanggu menjadi salah satu titik paling parah terdampak banjir. Sejumlah warga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka terendam air bercampur lumpur.

Kepala BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, menjelaskan pihaknya sebenarnya telah menetapkan status siaga sejak 6 Mei 2026 usai menerima peringatan cuaca ekstrem dari BMKG. Namun curah hujan tinggi dalam empat hari terakhir membuat situasi memburuk dengan cepat.

“Ada sekitar 15 titik banjir dengan beberapa lokasi terdampak cukup parah. Karena dampaknya luas, kami mengusulkan agar status ditingkatkan menjadi tanggap darurat,” jelasnya.

Di tengah kritik terhadap lemahnya penanganan banjir, Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, mengatakan normalisasi sungai yang sebelumnya dilakukan mulai menunjukkan hasil di beberapa titik seperti Kali Korumba dan Lorong Lasolo.

Namun kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar wilayah Kota Kendari masih sangat rentan. Pendangkalan sungai, penyempitan drainase, alih fungsi lahan, hingga pembangunan di kawasan resapan disebut menjadi faktor yang memperparah banjir dari tahun ke tahun.

SMA Muhammadiyah 1 Umalaoge Mulai Dirintis di Buton, Sulawesi Tenggara

Kini pemerintah mulai menyiapkan dapur umum, layanan kesehatan, bantuan sosial, hingga perbaikan infrastruktur rusak.

Tetapi bagi banyak warga, banjir yang terus berulang membuat status darurat terasa seperti rutinitas tahunan tanpa solusi permanen.

Kendari pun kembali menghadapi kenyataan pahit: setiap hujan deras turun, kota ini seolah tak pernah benar-benar siap menghadapi banjir. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *