KENDARI – Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali dilanda banjir besar. Hujan deras yang mengguyur selama dua hari terakhir membuat ribuan warga terdampak dan sejumlah kawasan strategis kota lumpuh akibat genangan air, Minggu (10/5/2026).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari mencatat sedikitnya 1.314 rumah terendam dengan total 5.970 jiwa terdampak banjir yang menyebar di berbagai kecamatan.
Kepala BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, mengatakan data tersebut masih bersifat sementara dan kemungkinan bertambah seiring proses pendataan yang terus dilakukan di lapangan.
“Data sementara yang kami himpun berdasarkan laporan lapangan dan informasi dari kelurahan akan terus kami update perkembangannya besok. Beberapa titik airnya sudah mulai surut seperti di kawasan Tunggala, Kelurahan Anduonohu, bundaran tank dan sejumlah lokasi lainnya,” ujarnya.
Banjir kali ini tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga memicu longsor, pohon tumbang, hingga kerusakan infrastruktur.
BPBD mencatat 14 rumah terdampak tanah longsor, dua rumah tertimpa pohon tumbang, serta kerusakan pada dua ruas jalan dan dua fasilitas umum akibat cuaca ekstrem.
Sejumlah titik yang mengalami banjir cukup parah berada di bantaran Sungai Wanggu dan kawasan padat permukiman di Kecamatan Baruga. Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Lepo-Lepo, Wua-Wua, Anduonohu, Wowanggu, Kambu hingga Tobimeita.
Beberapa lokasi yang dilaporkan terendam di antaranya kawasan Transito/Tunggala, BTN Findayani, Jalan Terong Anduonohu, Jalan Durian Anduonohu, Bundaran Pesawat dekat SPBU Ade, Lorong Bangau, Jalan Veteran, kawasan Hidayatullah Kambu, hingga area sekitar Poltekkes Kendari.
Dari seluruh wilayah terdampak, Kelurahan Lepo-Lepo menjadi salah satu kawasan dengan dampak paling besar. Ratusan rumah warga di bantaran Kali Wanggu dilaporkan terendam setelah debit air meningkat cepat akibat tingginya curah hujan.
Kondisi ini kembali memperlihatkan rapuhnya sistem drainase dan tata ruang Kota Kendari yang dalam beberapa tahun terakhir terus mendapat sorotan.
Alih fungsi lahan di kawasan resapan air, sedimentasi sungai, serta penyempitan daerah aliran sungai dinilai menjadi faktor yang memperparah banjir ketika hujan berintensitas tinggi mengguyur kota.
Di sejumlah titik, warga terpaksa dievakuasi menggunakan perahu karet karena air masuk hingga ke dalam rumah. Aktivitas lalu lintas di beberapa ruas jalan utama juga sempat lumpuh akibat genangan yang cukup tinggi.
BPBD bersama aparat gabungan masih bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan jika hujan kembali turun dalam intensitas tinggi.
Warga yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan rawan longsor diminta tetap meningkatkan kewaspadaan.
“Kita memantau sampai besok, semoga situasi membaik dan hujan sudah berangsur surut. Semoga Kota Kendari dijauhkan dari segala musibah bencana yang lebih besar,” tutup Cornelius. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment