News Butur Kendari Kolaka Koltim Konawe Sultra
Home / Sultra / Banjir Meluas di Sulawesi Tenggara: Kendari Lumpuh, Kolaka Timur Tetapkan Status Darurat 14 Hari

Banjir Meluas di Sulawesi Tenggara: Kendari Lumpuh, Kolaka Timur Tetapkan Status Darurat 14 Hari

Tim SAR bergerak mengevakuasi korban banjir di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Foto Basarnas

KENDARI – Bencana banjir meluas di berbagai wilayah Sulawesi Tenggara.

Setelah Kota Kendari lumpuh diterjang banjir besar hingga menelan korban jiwa, Pemerintah Kabupaten Kolaka Timur resmi menetapkan status darurat bencana banjir selama 14 hari di 12 kecamatan terdampak.

Status tanggap darurat itu berlaku mulai 8 hingga 22 Mei 2026, menyusul tingginya curah hujan yang menyebabkan sungai meluap dan merendam permukiman warga di sejumlah daerah.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kolaka Timur, Yosep Sahaka, menetapkan status tersebut melalui Surat Keputusan Bupati Nomor 100.3.3.2/128 Tahun 2026 tentang Penetapan Status Keadaan Darurat Bencana Banjir di Kabupaten Kolaka Timur Tahun Anggaran 2026.

Keputusan itu ditandatangani di Tirawuta pada 8 Mei 2026 sebagai langkah percepatan penanganan bencana, evakuasi warga, hingga distribusi bantuan logistik bagi masyarakat terdampak.

UPDATE Banjir di Kendari, Sulawesi Tenggara: Hampir 6 Ribu Warga Terdampak

“Menetapkan Keadaan Darurat Bencana Banjir di Kolaka Timur Tahun Anggaran 2026,” demikian bunyi kutipan dalam SK tersebut dikutip Minggu (10/5/2026).

Sebanyak 12 kecamatan masuk dalam status tanggap darurat, di antaranya Kecamatan Lambandia, Aere, Polipolia, Dangia, dan Ladongi yang mengalami dampak cukup parah akibat banjir.

Bencana hidrometeorologi ini tidak hanya menghantam Kolaka Timur.

Di Kota Kendari, banjir besar melumpuhkan sejumlah kawasan setelah luapan Kali Wanggu merendam jalan utama dan permukiman warga.

Tragedi memilukan terjadi di Kelurahan Punggaloba, Kecamatan Kendari Barat. Seorang bocah berusia 5 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah diduga terseret arus banjir di sekitar kawasan Asrama Dayung.

Korupsi RSUD: Eks Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara Abdul Aziz Divonis 4,3 Tahun Penjara

Selain korban jiwa, ratusan warga terdampak dan terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Basarnas Kendari bersama personel Brimob Polda Sultra diterjunkan untuk mengevakuasi warga menggunakan perahu karet di sejumlah titik banjir terparah.

Pemerintah daerah di Kabupaten Konawe juga telah menetapkan status siaga banjir setelah ratusan rumah warga, fasilitas pendidikan, dan area persawahan terendam banjir akibat tingginya debit air.

Sementara itu, kondisi di Kabupaten Kolaka tak kalah memprihatinkan. Hujan deras menyebabkan sungai meluap dan merendam empat kecamatan sekaligus, yakni Kecamatan Latambaga, Kolaka, Pomalaa, dan Samaturu.

Tak hanya banjir, tanah longsor juga terjadi di Kelurahan Laloeha, Kecamatan Kolaka, sehingga memperparah kondisi masyarakat terdampak.

Data BPBD Kolaka mencatat sebanyak 587 rumah warga terdampak banjir. Sedikitnya 10 fasilitas pendidikan ikut terendam, bersama 23 hektare sawah, 10,5 hektare tambak, dan delapan hektare kebun milik warga.

Kendari, Sulawesi Tenggara Lumpuh Diterjang Banjir: 1 Orang Tewas, Ratusan Warga Dievakuasi

Wilayah terdampak tersebar di Kelurahan Sakuli, Manggolo, Watuliandu, serta sejumlah desa di Kecamatan Pomalaa dan Samaturu seperti Totobo, Pelambua, Latuo, Ulu Konaweha, Wawo Tamboli, dan Konaweha.

Di Kabupaten Buton Utara, banjir juga menerjang empat desa pada Jumat (8/5/2026), masing-masing Desa Wacu Laea di Kecamatan Kulisusu, Desa Lamoahi di Kecamatan Kulisusu Utara, Desa Wantulasi di Kecamatan Wakorumba Utara, dan Desa Lapandewa di Kecamatan Kulisusu Barat.

BPBD mencatat sedikitnya 120 rumah terdampak dengan total 632 jiwa merasakan dampak langsung dari bencana tersebut. Selain itu, satu unit jembatan dilaporkan putus akibat derasnya arus banjir.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan bahwa ancaman cuaca ekstrem belum berakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang masih berpotensi terjadi pada 9 hingga 11 Mei 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Tenggara.

Karena itu, BNPB meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir, tanah longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya.

Warga yang tinggal di bantaran sungai maupun kawasan rawan longsor diminta segera mengungsi apabila hujan deras berlangsung lebih dari satu jam atau debit air mulai meningkat drastis.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan pentingnya mitigasi dini guna meminimalkan risiko korban jiwa dan kerusakan yang lebih besar akibat cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *