KENDARI — Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) tengah menghadapi salah satu bencana banjir terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Hujan deras yang mengguyur hampir sepanjang malam sejak Sabtu (9/5/2026) membuat sungai dan drainase meluap, merendam belasan kelurahan, melumpuhkan aktivitas warga, hingga menelan korban jiwa.
Di tengah situasi darurat itu, Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, turun langsung meninjau sejumlah titik banjir pada Minggu (10/5/2026). Dengan genangan air yang di beberapa lokasi mencapai setinggi dada orang dewasa, Siska menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada warga karena penanganan banjir dinilai belum maksimal.
“Kami sampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kota Kendari yang terdampak banjir, serta belum maksimal dalam penanganan banjir,” ujar Siska saat berdialog dengan warga di lokasi terdampak.
Banjir besar ini tidak hanya merendam ratusan rumah, tetapi juga memicu kepanikan warga di sejumlah kawasan padat penduduk. Sebagian warga bertahan di rumah masing-masing, sementara lainnya terpaksa mengungsi demi keselamatan. Seorang bocah dilaporkan meninggal dunia setelah terseret arus banjir.
Situasi diperparah dengan lumpuhnya sejumlah ruas jalan akibat tingginya genangan air dan material lumpur yang terbawa arus. Aktivitas ekonomi warga pun terganggu, sementara fasilitas umum ikut terdampak.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Kendari resmi menetapkan status tanggap darurat banjir selama tujuh hari, mulai 11 hingga 17 Mei 2026. Penetapan status ini dilakukan untuk mempercepat penanganan terpadu lintas sektor.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, menjelaskan bahwa status tanggap darurat diperlukan agar penanganan bencana dapat dilakukan lebih terkoordinasi, mulai dari tahap evakuasi, pemulihan hingga rehabilitasi pascabencana.
“Penetapan tanggap darurat dimaksudkan agar penanganan bencana dapat dilakukan lebih maksimal dan terkoordinir, baik saat tanggap darurat, pascabencana maupun pemulihan dengan melibatkan pemerintah provinsi, kementerian PUPR melalui balai teknis serta BNPB,” jelasnya.
Siska mengakui bahwa persoalan banjir di Kendari tidak bisa lagi ditangani secara parsial.
Menurutnya, dibutuhkan solusi besar dan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, hingga dukungan lembaga teknis seperti BMKG dan Balai Sungai.
“Kondisi banjir kali ini cukup besar dan membutuhkan penanganan serius lintas sektor serta dukungan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat,” tegasnya.
Pemerintah Kota Kendari juga telah menggelar rapat koordinasi bersama Wakil Wali Kota, Forkopimda, BMKG, DPRD, TNI-Polri, serta sejumlah OPD teknis guna mempercepat langkah penanganan darurat dan menyusun solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan banjir yang terus berulang di ibu kota Sulawesi Tenggara tersebut.
Dalam rapat itu, BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Karena itu, warga yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah rawan banjir diminta tetap waspada dan segera mengungsi jika debit air kembali meningkat.
Sehari sebelumnya, Wali Kota bersama Wakil Wali Kota, Sekda, unsur Forkopimda, Ketua DPRD Kota Kendari, hingga Kapolresta Kendari juga turun langsung meninjau sejumlah titik terdampak untuk mengevaluasi sistem drainase dan aliran sungai yang dinilai tak lagi mampu menampung debit air saat hujan ekstrem.
Sebagai langkah awal penanganan darurat, Pemerintah Kota Kendari bersama Forkopimda mulai menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak di sejumlah titik, di antaranya Kecamatan Poasia, Kecamatan Kambu, dan Kecamatan Abeli.
Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang rumahnya terendam banjir dan masih bertahan di tengah kondisi cuaca yang belum stabil.
Bencana ini kembali menjadi alarm keras bagi Kota Kendari yang dalam beberapa tahun terakhir terus menghadapi ancaman banjir berulang.
Pertumbuhan kawasan permukiman, penyempitan daerah resapan, sedimentasi sungai, hingga persoalan drainase disebut menjadi faktor yang membuat kota ini semakin rentan terhadap banjir besar setiap musim hujan tiba.
Kini, di tengah duka dan kerusakan yang ditinggalkan banjir, masyarakat menunggu langkah nyata pemerintah untuk menghadirkan solusi permanen agar bencana serupa tidak terus terulang dari tahun ke tahun. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment