KONAWE – Gelombang investasi nikel di Sulawesi Tenggara mulai menunjukkan dampak sosial yang lebih luas.
Tidak hanya menghadirkan aktivitas tambang dan pembangunan industri, perusahaan tambang kini mulai masuk ke sektor pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di wilayah lingkar tambang.
PT Sulawesi Cahaya Mineral (PT SCM), perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, menjadi salah satu perusahaan yang mulai fokus membangun sektor pendidikan melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).
Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, PT SCM meresmikan bantuan renovasi sekolah serta menyerahkan berbagai fasilitas pendidikan bagi masyarakat di wilayah lingkar tambang Routa.
Penyerahan bantuan dilakukan dalam upacara Hardiknas di Lapangan Kantor Bupati Konawe dan diserahkan langsung oleh Kepala Teknik Tambang PT SCM, Didik Fotunadi, kepada perwakilan SDN Wiwirano Atas dan SDN Lalomerui, disaksikan Bupati Konawe bersama jajaran Forkopimda.
Program renovasi tersebut menyasar dua sekolah dasar di kawasan lingkar tambang, yakni SDN Lalomerui di Desa Lalomerui dan SDN Wiwirano Atas di Desa Walandawe.
Di dua sekolah itu, PT SCM membangun rumah dinas guru, ruang komputer, serta kantin sehat guna mendukung proses belajar mengajar sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih layak dan nyaman.
Total anggaran yang dikucurkan perusahaan nikel tersebut untuk program renovasi sekolah periode 2025–2026 mencapai Rp4,1 miliar.
“Program pendidikan ini merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk turut membangun sumber daya manusia di wilayah lingkar tambang PT SCM,” kata Didik Fotunadi, dikutip dari keterangan resmi, Kamis (7/5/2026).
Tak berhenti pada pembangunan fisik sekolah, PT SCM juga menjalankan program insentif bagi guru honorer di Kecamatan Routa. Program yang dimulai sejak 2024 itu awalnya hanya menjangkau empat guru, namun kini meningkat menjadi 45 guru dari berbagai jenjang pendidikan.
Pada 2026, perusahaan kembali melanjutkan program tersebut dengan total anggaran mencapai Rp737 juta.
Komitmen perusahaan tambang nikel itu juga diperluas ke sektor pendidikan tinggi melalui program beasiswa bagi mahasiswa asal Routa.
Program Beasiswa Prestasi SCM yang pertama kali dijalankan pada 2024 berhasil menjangkau 53 mahasiswa.
Selanjutnya pada 2025, program dikembangkan menjadi beberapa kategori, yakni Beasiswa Prestasi SCM, Bantuan Dana Pendidikan SCM, dan Beasiswa Kerja Sama SCM bersama Universitas Lakidende (Unilaki).
Hingga 2026, jumlah penerima manfaat meningkat menjadi 136 mahasiswa yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Tenggara, Makassar, hingga sejumlah daerah lain di Indonesia.
Total anggaran program beasiswa PT SCM selama 2024–2026 tercatat telah melampaui Rp1,5 miliar.
Kepala Desa Lalomerui, Taksir Unggahi, mengakui program pendidikan yang dijalankan perusahaan mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar tambang.
“Sekolah sudah dibangun lebih baik, ada rumah guru, laboratorium, kantin, dan program beasiswa untuk masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Routa, Darmon, menilai kehadiran investasi tambang telah membuka peluang pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda di wilayah tersebut.
“Kami mendukung investasi karena manfaatnya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
Di tengah pesatnya ekspansi industri nikel dan pembangunan smelter di Sulawesi Tenggara, langkah PT SCM dinilai menjadi gambaran bagaimana investasi tambang mulai diarahkan tidak hanya pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga pembangunan manusia.
Pendidikan, beasiswa, hingga peningkatan kesejahteraan guru menjadi bagian penting agar masyarakat lokal dapat ikut terlibat dalam rantai industri nikel masa depan, bukan sekadar menjadi penonton di daerahnya sendiri. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment