JAKARTA – Realisasi investasi sektor hilirisasi di Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai Rp147,5 triliun, menegaskan peran dominan industri pengolahan sumber daya alam dalam peta ekonomi nasional. Angka tersebut berkontribusi sebesar 29,6% dari total investasi nasional yang tercatat Rp498,8 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyebut capaian ini menunjukkan posisi strategis hilirisasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
โHilirisasi ini kontribusinya signifikan terhadap total investasi kita,โ ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (23/4/2026).
Dari total tersebut, sektor mineral menjadi tulang punggung dengan nilai investasi mencapai Rp98,3 triliun. Komoditas nikel tampil sebagai penyumbang terbesar dengan nilai Rp41,5 triliun, jauh melampaui komoditas lainnya seperti tembaga Rp20,7 triliun, besi baja Rp17,0 triliun, dan bauksit Rp13,7 triliun.
Dominasi nikel tidak terlepas dari pesatnya pengembangan kawasan industri berbasis smelter, terutama di wilayah timur Indonesia seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara, yang kini menjadi episentrum hilirisasi mineral nasional.
Di luar sektor mineral, investasi hilirisasi juga mengalir ke sektor perkebunan dan kehutanan sebesar Rp29,8 triliun, dengan kelapa sawit sebagai kontributor utama Rp18,3 triliun.
Sementara sektor minyak dan gas bumi mencatatkan Rp17,7 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp1,7 triliun.
Dari sisi wilayah, investasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa dengan porsi mencapai 75,5% atau Rp111,4 triliun. Hal ini menunjukkan pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi ke kawasan berbasis sumber daya alam.
Berdasarkan asal negara, Singapura menjadi investor terbesar dengan nilai Rp35,9 triliun, disusul Hong Kong Rp22,9 triliun dan China Rp17,5 triliun. Sementara Jepang dan Amerika Serikat masing-masing mencatatkan Rp4,6 triliun dan Rp4,3 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi investasi nasional pada triwulan I-2026 mencapai Rp498,8 triliun atau 24,4% dari target tahunan Rp2.041,3 triliun.
Meski tumbuh 7,2% secara tahunan, laju ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 15,9%.
Di sisi lain, investasi tersebut juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang mencapai 706.569 orang, meningkat 18,9% dibandingkan tahun sebelumnya.
Penanaman Modal Asing (PMA) sedikit lebih dominan dengan Rp250 triliun atau 50,1%, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp248,8 triliun.
Dominasi hilirisasi nikel dalam investasi nasional semakin menegaskan arah kebijakan industrialisasi Indonesia, sekaligus memperlihatkan ketergantungan yang kian besar terhadap sektor tambang sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channelย disini


Comment