Lingkungan Kendari
Home / Sultra / Kendari / Teluk Kendari Ternyata Simpan Harta Karbon Bernilai Fantastis, Aset Masa Depan Sultra

Teluk Kendari Ternyata Simpan Harta Karbon Bernilai Fantastis, Aset Masa Depan Sultra

Ekosistem mangrove di Teluk Kendari, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Ist
Table of Contents

KENDARI – Ekosistem mangrove di Teluk Kendari, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) ternyata bukan hanya benteng alami pesisir, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi karbon bernilai tinggi.

Penelitian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap bahwa kawasan mangrove di Teluk Kendari mampu menyerap emisi karbon dalam jumlah besar dan berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga ratusan juta rupiah.

Hasil riset bertajuk “Simpanan dan Nilai Ekonomi Karbon Mangrove di Teluk Kendari, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara” dilakukan oleh Surya Insani Milna dari Program Studi Kehutanan UGM pada 2021 lalu. Penelitian tersebut menyoroti pentingnya hutan mangrove sebagai penyangga perubahan iklim sekaligus aset ekologis strategis bagi Kendari.

Penelitian menemukan terdapat tujuh jenis mangrove utama yang tumbuh di Teluk Kendari, yakni Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, Avicennia alba, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, dan Xylocarpus sp.

Dari seluruh jenis tersebut, Sonneratia alba tercatat sebagai penyimpan karbon terbesar. Total simpanan karbon mangrove di Teluk Kendari mencapai 45,57 ton karbon per hektare dengan total serapan CO2 sebesar 167,23 ton CO2 per hektare.

TNI AL Gagalkan Penyelundupan Tanduk Rusa dan Senjata ke Sulawesi Tenggara Lewat KM Nggapulu

Penelitian itu juga menghitung nilai ekonomi karbon berdasarkan harga pasar karbon internasional. Dengan asumsi harga minimal 4 euro per ton CO2, nilai ekonomi karbon mangrove Teluk Kendari mencapai sekitar Rp11,2 juta. Sementara pada harga maksimal 53 euro per ton CO2, nilainya melonjak hingga sekitar Rp149,5 juta.

Selain menjadi penyerap karbon alami, mangrove memiliki fungsi penting menjaga keseimbangan ekosistem Teluk Kendari yang saat ini menghadapi ancaman sedimentasi serius.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menyebut mangrove mampu menahan abrasi, memperlambat arus sedimen, serta menjadi pelindung alami kawasan pesisir dari gelombang dan banjir rob.

Mangrove juga menjadi habitat berkembang biak berbagai biota laut seperti ikan, kepiting, dan udang.

Sedimentasi Meningkat

Ancaman sedimentasi di Teluk Kendari sendiri terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Data penelitian menunjukkan sedimentasi menyebabkan pendangkalan besar-besaran akibat suplai lumpur dari sungai-sungai yang bermuara ke teluk, terutama Sungai Wanggu.

Hilirisasi Kakao dan Kelapa Menggeliat, Investor Mulai Masuk Kolaka Utara

Dalam beberapa penelitian, sedimentasi di Teluk Kendari disebut telah mencapai puluhan juta meter kubik dan terus menggerus kawasan teluk dari tahun ke tahun.

Peneliti BRIN juga mengungkap kedalaman Teluk Kendari mengalami penyusutan signifikan.

Jika pada 2003 kedalaman maksimal teluk mencapai 23 meter, maka pada 2021 tersisa sekitar 5 hingga 10 meter akibat sedimentasi yang terus berlangsung.

Kondisi ini membuat keberadaan mangrove menjadi sangat penting sebagai benteng ekologis alami.

Akar mangrove mampu menangkap lumpur dan material sedimen sebelum menyebar lebih jauh ke kawasan teluk.

Jalur Sabu Malaysia Tembus Sulawesi Tenggara: Polisi Sita 860 Gram Narkoba di Bombana

Jika ekosistem mangrove terus berkurang, maka laju pendangkalan Teluk Kendari dikhawatirkan akan semakin cepat dan mengancam ekosistem pesisir maupun aktivitas ekonomi masyarakat.

Metode penelitian UGM dilakukan menggunakan pendekatan non destructive sampling atau tanpa penebangan pohon.

Peneliti mengukur diameter batang dan tinggi pohon, kemudian menghitung biomasa menggunakan model allometrik Komiyama et al. (2005).

Perhitungan simpanan karbon mengacu pada standar Intergovernmental Panel on Climate Change yang menetapkan kandungan karbon sebesar 50 persen dari biomasa pohon.

Temuan ini memperkuat posisi mangrove Teluk Kendari sebagai salah satu ekosistem penting dalam mitigasi pemanasan global di Sulawesi Tenggara.

Selain melindungi pesisir dari abrasi dan sedimentasi, mangrove juga berpotensi menjadi sumber ekonomi baru melalui perdagangan karbon dan program lingkungan berkelanjutan. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *