Infrastruktur Kendari Lingkungan Sultra
Home / Sultra / Banjir di Kendari, Sulawesi Tenggara Gagal Diatasi dalam 15 Tahun Terakhir

Banjir di Kendari, Sulawesi Tenggara Gagal Diatasi dalam 15 Tahun Terakhir

Potret lumpur sedimentasi yang mengalir ke Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui sungai Wanggu dan sungai-sungai lainnya saat terjadi banjir melanda Kota Kendari pada Minggu (10/5/2026). Ist

KENDARI — Banjir di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, terus berulang dan dinilai gagal diatasi secara menyeluruh dalam 15 tahun terakhir.

Meski berbagai proyek pengendalian banjir telah dibangun, ancaman justru semakin besar dari tahun ke tahun.

Sungai Wanggu terus meluap. Drainase kota berulang kali lumpuh. Permukiman warga terendam hampir setiap musim hujan. Sementara di hilir, Teluk Kendari perlahan mengalami pendangkalan akibat sedimentasi yang terus meningkat.

Potret Banjir di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Minggu (10/5/2026). Ist

Kondisi itu membuat banyak kalangan mulai menilai Kendari sedang menghadapi krisis ekologis serius yang telah berlangsung lama dan belum pernah benar-benar diselesaikan.

Apa yang dulu hanya dianggap sebagai banjir musiman kini berubah menjadi ancaman permanen bagi ibu kota Sulawesi Tenggara tersebut.

APBN Sulawesi Tenggara Mulai Tersendat: Dana Desa Dipangkas 62 Persen, Ribuan Desa Terancam

Kota Tumbuh Cepat, Ruang Resapan Hilang

Awal meningkatnya ancaman banjir mulai terasa sejak awal dekade 2010-an.

Saat itu, Kota Kendari berkembang sangat cepat. Perumahan baru tumbuh di banyak wilayah. Kawasan hijau berubah menjadi area permukiman dan kawasan bisnis. Bukit dibuka. Daerah resapan terus menyusut.

Namun pembangunan kota tidak diikuti penguatan sistem drainase maupun perlindungan lingkungan.

Akibatnya, hujan deras selama beberapa jam saja mulai menyebabkan genangan di berbagai wilayah seperti: Lepo-Lepo, Baruga, Kadia, Wua-Wua, Mandonga, Poasia, hingga kawasan sekitar DAS Wanggu.

Pada masa itu, banjir masih dianggap normal.

Kota Kendari, Sulawesi Tenggara Tak Berdaya Hadapi Banjir: Status Darurat Diumumkan

Padahal sejumlah akademisi sudah memperingatkan bahwa Kendari mulai kehilangan kemampuan alami menyerap air hujan akibat alih fungsi lahan yang terus meningkat.

Ketika ruang resapan hilang, air tidak lagi masuk ke tanah. Air berubah menjadi limpasan permukaan yang langsung membebani drainase dan sungai.

Sungai Wanggu Mulai Kehilangan Kapasitas

Perhatian kemudian tertuju pada Sungai Wanggu.

Sungai sepanjang sekitar 69 kilometer dengan hulu sungai di Kabupaten Konawe Selatan itu merupakan tulang punggung sistem hidrologi Kota Kendari.

Namun selama bertahun-tahun, DAS Wanggu mengalami tekanan berat akibat: pembukaan lahan, sedimentasi, erosi, aktivitas permukiman, penyempitan badan sungai, hingga penumpukan sampah.

Konawe Utara, Sulawesi Tenggara Diterjang Banjir Parah: Akses Terputus, Desa-Desa Terisolir

Berbagai penelitian menyebut kapasitas tampung Sungai Wanggu terus menurun akibat sedimentasi dan penyempitan penampang sungai.

Kondisi itu membuat air jauh lebih mudah meluap ketika hujan deras mengguyur kawasan hulu.

Pada periode 2014 hingga 2019, banjir mulai berulang hampir setiap musim hujan di kawasan Lepo-Lepo dan Baruga.

Warga mulai mengalami banjir berkali-kali dalam setahun.

Banjir Besar 2019 Jadi Alarm Serius

Puncak kekhawatiran publik terjadi pada 2019.

Hujan deras menyebabkan Sungai Wanggu meluap dan merendam banyak wilayah permukiman di Kota Kendari. Warga mengungsi. Jalan terendam. Aktivitas ekonomi terganggu.

Banjir 2019 disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah modern Kota Kendari.

Peristiwa itu memicu sorotan besar terhadap: kerusakan DAS Wanggu, sedimentasi Teluk Kendari, lemahnya tata ruang, serta minimnya pengendalian kawasan hulu.

Pemerintah pusat kemudian mempercepat pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti kolam retensi Wanggu. Namun berbagai kalangan menilai solusi fisik saja tidak cukup menyelesaikan akar persoalan.

Karena masalah utama Kendari berada pada kerusakan ekosistem DAS secara menyeluruh.

Teluk Kendari Jadi Titik Kritis

Persoalan Kendari ternyata tidak hanya berada di Sungai Wanggu. Ancaman serius juga muncul di kawasan hilir: Teluk Kendari.

Teluk yang menjadi ikon Kota Kendari itu kini mengalami sedimentasi berat akibat material lumpur dari kawasan hulu yang terus masuk melalui Sungai Wanggu.

Kajian sedimentasi muara Sungai Wanggu menyebut sedimentasi di Teluk Kendari terus meningkat dan telah membentuk delta lumpur di kawasan muara. Kondisi itu dikhawatirkan mempercepat pendangkalan teluk.

Posisi Teluk Kendari sebenarnya sangat penting bagi sistem hidrologi kota.

Teluk tersebut merupakan tempat akhir aliran sungai dan drainase Kota Kendari sebelum air mengalir ke laut.

Namun ketika teluk mengalami pendangkalan, kemampuan air mengalir keluar menjadi lebih lambat.

Dampaknya sangat besar mulai dari debit sungai lebih cepat tertahan, banjir lebih mudah meluap, air lebih lama surut, dan kawasan rendah kota semakin rentan terendam.

Dalam istilah sederhana, Teluk Kendari kini seperti saluran pembuangan yang mulai tersumbat lumpur.

Semakin dangkal teluk, semakin besar risiko banjir bagi Kota Kendari.

2025–2026: Ancaman Masih Terus Berulang

Meski proyek pengendalian banjir telah dibangun, ancaman tidak pernah benar-benar hilang.

Pada 2025, Sungai Wanggu kembali meluap dan merendam kawasan Lepo-Lepo serta Baruga. Ratusan warga terdampak dan sebagian harus mengungsi.

Ketinggian air di sejumlah titik mencapai lebih dari satu meter.

Memasuki 2026, peringatan dini banjir bandang masih terus muncul akibat cuaca ekstrem di Sulawesi Tenggara.

Hal ini memperlihatkan bahwa persoalan banjir Kendari belum terselesaikan secara mendasar.

Bukan Lagi Bencana Alam Semata

Secara teknis, curah hujan tinggi memang menjadi pemicu banjir.

Namun banyak kalangan menilai banjir Kendari saat ini tidak lagi bisa disebut semata-mata bencana alam.

Krisis yang terjadi merupakan akumulasi panjang dari: kerusakan DAS, sedimentasi sungai, pendangkalan Teluk Kendari, lemahnya tata ruang, buruknya drainase, alih fungsi lahan, pembangunan di kawasan resapan, serta perubahan iklim.

Karena itu, banjir di Kendari dinilai sebagai bentuk krisis ekologis perkotaan yang terus membesar selama bertahun-tahun.

Kendari Berpacu dengan Waktu

Kendari kini menghadapi tantangan berat.

Urbanisasi terus meningkat. Tekanan pembangunan semakin besar. Namun kemampuan lingkungan menampung air justru terus menurun.

Jika sedimentasi Teluk Kendari terus bertambah dan rehabilitasi DAS Wanggu tidak dilakukan secara serius, maka risiko banjir diperkirakan akan semakin besar pada masa depan.

Kota ini membutuhkan langkah yang jauh lebih besar daripada hanya mengandalkan pembangunan drainase atau proyek fisik jangka pendek.

Yang dibutuhkan adalah pemulihan ekologi secara menyeluruh mulai dari rehabilitasi DAS Wanggu, pengendalian sedimentasi, normalisasi sungai, perlindungan kawasan resapan, penguatan tata ruang, serta pengendalian pembangunan di kawasan rawan banjir.

Tanpa langkah besar itu, banjir kemungkinan akan terus menjadi bagian dari masa depan Kota Kendari.

Dan Teluk Kendari yang selama ini menjadi wajah kota, perlahan bisa berubah menjadi tanda paling nyata dari krisis ekologis di jantung Sulawesi Tenggara.

Segeralah bertindak sebelum yang lebih parah terjadi.. ANGKARA MURKA!! (Newsroom)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *