Ekonomi & Bisnis Sultra
Home / Sultra / Desa di Sulawesi Tenggara Mulai Tembus Pasar China: 2.273 Koperasi Siap Jadi Mesin Ekspor Baru

Desa di Sulawesi Tenggara Mulai Tembus Pasar China: 2.273 Koperasi Siap Jadi Mesin Ekspor Baru

Aktivitas ekspor dan impor di Kendari New Port. Photo Pelindo

KENDARI — Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) di Sulawesi Tenggara mulai menunjukkan kekuatan baru sebagai motor ekonomi desa berbasis ekspor.

Di tengah pembentukan 2.273 koperasi berbadan hukum di seluruh desa dan kelurahan Sultra, salah satu koperasi bahkan sudah sukses menembus pasar internasional dengan ekspor perdana ke China.

Capaian itu ditunjukkan oleh Koperasi Desa Merah Putih Awunio, Kabupaten Konawe Selatan, yang pada Februari 2026 berhasil mengekspor 50 ton arang tempurung kelapa ke China melalui Pelindo TPK Kendari.

Nilai transaksi ekspor tersebut dilaporkan mencapai miliaran rupiah dan membuka peluang kerja baru bagi masyarakat desa.

Keberhasilan ini menjadi penanda bahwa koperasi desa di Sulawesi Tenggara tidak lagi dipandang hanya sebagai wadah simpan pinjam, tetapi mulai masuk ke rantai perdagangan global.

Mantan Gubernur Sultra Nur Alam Dilaporkan ke KPK Terkait Dugaan Korupsi Dana Unsultra Rp12 Miliar

Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Sulawesi Tenggara menyebut keberhasilan ekspor tersebut menunjukkan produk desa memiliki daya saing tinggi apabila didukung kualitas produk, kontinuitas pasokan, standardisasi, akses logistik, dan kemitraan pasar yang kuat.

“Ini menjadi bukti koperasi desa punya peluang besar masuk pasar ekspor dan menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” ungkap Kepala Kanwil DJPb Sulawesi Tenggara, Iman Widhiyanto dikutip dalam siaran pers perkembangan Koperasi Merah Putih Sultra, Kamis (7/5/2026).

Selain ekspor, seluruh desa dan kelurahan di Sultra kini telah memiliki Koperasi Merah Putih dengan total 2.273 koperasi berbadan hukum. Capaian itu dinilai menjadi fondasi penting dalam memperkuat ekonomi desa sekaligus membangun ekosistem usaha lokal yang lebih terstruktur.

Pemerintah juga mulai mengintegrasikan koperasi desa dengan berbagai program prioritas nasional.

Di Kota Kendari, misalnya, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diminta memprioritaskan pembelian bahan baku lokal melalui Koperasi Merah Putih untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

China Makin Dalam Masuk ke Sultra: Dari Nikel, Mesin, Kini Bidik Sister City Kendari

Dengan pola tersebut, koperasi desa berpotensi menjadi pusat distribusi hasil pertanian, perikanan, dan produk UMKM lokal yang memiliki pasar tetap dan berkelanjutan.

Di sektor energi, sebanyak 100 Koperasi Merah Putih di Sultra juga telah mengajukan kemitraan dengan Pertamina. Sekitar 30 pengajuan kini sedang dalam tahap tindak lanjut.

Meski memiliki potensi besar, tantangan operasional masih cukup berat. Pemerintah memperkirakan koperasi yang benar-benar aktif menjalankan usaha masih di bawah 21 persen.

Wilayah kepulauan dan daerah terpencil seperti Konawe Kepulauan dan Kolaka Timur juga masih menghadapi persoalan keterbatasan akses pasar serta jaringan internet yang belum stabil.

Karena itu, pemerintah menilai penguatan SDM koperasi menjadi kunci utama. Pelatihan manajemen bisnis, tata kelola keuangan, pencatatan digital, hingga pelatihan ekspor dan sertifikasi internasional dinilai harus dipercepat agar koperasi desa Sultra mampu naik kelas ke pasar global.

BPK RI Berkabung Atas Meninggalnya Haerul Saleh, Jenazahnya Dimakamkan di Kolaka

Pemerintah daerah juga didorong memperkuat kerja sama dengan operator telekomunikasi untuk mendukung digitalisasi koperasi hingga ke pelosok desa.

Dengan keberhasilan ekspor perdana ke China, dukungan APBN, integrasi program nasional, dan ribuan koperasi yang telah berbadan hukum, Sulawesi Tenggara kini mulai mempersiapkan diri menjadi salah satu basis kekuatan ekonomi desa dan ekspor baru di Indonesia timur. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *