WELLINGTON – Partai National yang berkuasa unggul sangat tipis atas Partai Buruh (Labour) dalam penghitungan awal pemilu umum Selandia Baru 2026, dengan 29,4 persen suara partai berbanding 29,3 persen ketika 60 persen suara sudah terhitung pada Sabtu malam, 7 November. Proyeksi kursi Komisi Pemilihan menempatkan koalisi tiga partai pimpinan National pada 67 kursi, berbanding 63 kursi bagi blok oposisi yang didukung Partai Opportunity. Namun angka-angka itu masih sangat awal dan dapat berubah, sehingga belum ada pihak yang dapat dinyatakan sebagai pemenang.
Kedua partai besar itu bertukar posisi di puncak penghitungan sepanjang malam. Pada tahap sangat awal, ketika baru 5,7 persen hasil masuk, National memimpin dengan 31,58 persen berbanding 28,37 persen bagi Labour. Labour kemudian menyalip ketika hampir 40 persen suara terhitung, dengan 29,88 persen berbanding 29,35 persen, sebelum National kembali merebut keunggulan tipis pada penghitungan 60 persen. Selisih kedua partai tidak pernah lebih dari satu poin persentase, dan urutan mereka dapat berubah lagi sebelum penghitungan malam ini selesai.
Koalisi Diproyeksikan Bertahan Tipis
Meski perolehan suara partai hampir seimbang, perhitungan kursi justru lebih menguntungkan kubu pemerintah. National memimpin di 42 dari 71 daerah pemilihan pada penghitungan 40 persen, jauh lebih banyak daripada yang biasanya diperoleh dari porsi suara partainya. Kelebihan kursi daerah pemilihan itu menciptakan apa yang disebut overhang, yakni kursi tambahan yang tetap dipertahankan partai meski melampaui jatah proporsionalnya.
Overhang dari National, ditambah overhang dari Te Pāti Māori yang memimpin di lima dari tujuh daerah pemilihan Māori meski hanya meraih 0,6 persen suara partai, membuat parlemen membengkak menjadi 131 kursi pada proyeksi penghitungan 40 persen, sehingga 66 kursi dibutuhkan untuk memerintah. Pada angka itu National memperoleh 42 kursi, ACT 13 kursi, dan New Zealand First 11 kursi, dengan total 66 kursi, tepat di garis mayoritas. Labour memperoleh 36 kursi, Partai Hijau 17 kursi, dan Te Pāti Māori lima kursi, dengan total 58 kursi, sementara Opportunity meraih tujuh kursi.
Proyeksi terbaru pada penghitungan 60 persen sedikit lebih longgar bagi pemerintah, dengan 67 kursi bagi National, ACT, dan New Zealand First, berbanding 63 kursi bagi Labour, Partai Hijau, Te Pāti Māori, dan Opportunity. Angka itu pun masih bergerak sepanjang malam, karena hasil dari daerah pemilihan yang ketat dapat mengubah perhitungan kursi secara keseluruhan.
Partai Kecil Menjadi Penentu
Pemilu kali ini ditandai oleh menguatnya partai-partai kecil, yang kini memegang kunci pembentukan pemerintahan. ACT mencatat hasil tertinggi dalam sejarahnya dengan 10,9 persen suara, sementara Partai Hijau juga mencatat rekor dengan 13,7 persen pada penghitungan 60 persen, setelah sempat menyentuh 14,06 persen pada penghitungan 40 persen. New Zealand First, mitra koalisi National lainnya, meraih sekitar 9,4 persen suara.
Kejutan terbesar datang dari Partai Opportunity, partai tengah yang untuk pertama kalinya berpotensi masuk parlemen setelah melewati ambang batas lima persen. Partai itu meraih 5,7 persen suara pada penghitungan 60 persen, setelah sempat berada di 5,42 persen pada penghitungan 40 persen, dan diproyeksikan memperoleh tujuh kursi. Dengan tidak satu pun blok meraih mayoritas yang nyaman, sikap Opportunity dalam perundingan koalisi dapat menentukan siapa yang akhirnya memerintah.
Posisi Opportunity menjadi rumit bagi National, karena Perdana Menteri Christopher Luxon berulang kali menyatakan tidak akan bekerja sama dengan partai tersebut. Bila Opportunity memegang keseimbangan kekuasaan, Luxon menghadapi pilihan sulit antara melanggar janjinya atau gagal membentuk pemerintahan. Di sisi lain, kubu oposisi pimpinan Labour juga membutuhkan dukungan Opportunity untuk mencapai mayoritas, sehingga partai pendatang baru itu berada di tengah tarik-menarik kedua blok.
Dua Menteri Senior Terancam Kehilangan Kursi
Penghitungan awal juga membawa kabar buruk bagi sejumlah tokoh senior pemerintahan. Menteri Keuangan Nicola Willis dan Menteri Pertahanan Paul Goldsmith hampir dipastikan kehilangan kursi mereka, seiring merosotnya suara National dari 38 persen pada pemilu 2023. Ketua Parlemen Gerry Brownlee juga disebut berada dalam situasi serupa.
Willis mengakui peluangnya untuk kembali ke parlemen sangat kecil. “Kelihatannya sangat tidak mungkin saya akan kembali,” kata Willis, seraya menyebut proses pembaruan sedang berlangsung di partainya. Goldsmith tertinggal 1.204 suara dari pemimpin ACT David Seymour dalam perebutan kursi daerah pemilihan Epsom, dan karena National diproyeksikan tidak memperoleh kursi daftar, kekalahan di daerah pemilihan berarti kehilangan kursi parlemen.
Seymour sendiri menyambut hasil ACT dengan gembira, meski belum tahu apakah partainya akan kembali memerintah. “Masih perlu waktu sebelum semuanya menjadi jelas,” kata Seymour. “Yang saya tahu, ini adalah hasil rekor bagi ACT malam ini dan kami sangat senang.”
Hasil Resmi Baru Diumumkan 27 November
Siapa pun yang akhirnya memerintah, kepastiannya masih jauh. Lebih dari 172.000 suara khusus belum dihitung, termasuk suara pemilih di luar negeri, pemilih yang mendaftar terlambat, dan pemilih yang mencoblos di luar daerah pemilihannya. Suara-suara itu baru akan dimasukkan dalam penghitungan resmi yang diumumkan pada 27 November, dan dalam pemilu-pemilu sebelumnya suara khusus cenderung menguntungkan kubu kiri.
Penghitungan malam ini didominasi suara awal, dengan hampir 1,67 juta orang telah mencoblos sebelum hari pemungutan suara. Komisi Pemilihan memperkirakan hasil awal dari separuh tempat pemungutan suara tersedia pada pukul 22.00 waktu setempat. Namun komisi memperingatkan bahwa hasil awal kemungkinan berubah dan tidak dapat dibandingkan langsung dengan hasil resmi.
Kampanye selama enam pekan didominasi isu biaya hidup, di tengah ekonomi yang lesu dan pengangguran yang naik menjadi 5,7 persen pada kuartal ketiga, tertinggi dalam 11 tahun. Layanan kesehatan dan keterjangkauan perumahan juga menjadi perhatian utama pemilih, sementara pemilih Māori menyoroti upaya pemerintah memangkas kebijakan yang selama ini ditujukan memperbaiki kondisi masyarakat adat. Labour menargetkan menjadikan koalisi National sebagai pemerintahan satu periode pertama dalam hampir 50 tahun, tetapi penghitungan awal menunjukkan target itu masih jauh dari pasti.
Hingga penghitungan resmi selesai dan perundingan koalisi rampung, Selandia Baru menghadapi pekan-pekan ketidakpastian politik. Kedua blok masih sama-sama berpeluang memerintah, dan nasib pemerintahan berikutnya dapat ditentukan oleh segelintir kursi daerah pemilihan serta ratusan ribu suara khusus yang belum dibuka.

Comment