KENDARI – Langit Sulawesi Tenggara seperti sedang mengirim pesan tegas bahwa pembangunan tak boleh lagi mengabaikan risiko alam.
Di tengah ambisi besar menjadikan wilayah ini sebagai simpul logistik Indonesia timur, ancaman cuaca ekstrem justru datang menguji kesiapan infrastruktur yang ada.
Peringatan dini kembali dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu (6/5/2026). Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat dan angin kencang, diperkirakan melanda Kota Kendari dan sejumlah wilayah lain di Sulawesi Tenggara sejak siang hingga sore hari.
Wilayah terdampak bukan kawasan kecil. Konawe, Muna, Konawe Selatan, Konawe Utara, hingga Buton dan sekitarnya masuk dalam peta potensi cuaca ekstrem. Bahkan, hampir seluruh Kota Kendari diprediksi tak luput dari hujan deras yang berpotensi menimbulkan genangan, pohon tumbang, hingga gangguan transportasi.
Situasi ini bukan dinamika cuaca biasa. Ia datang di momen krusial—saat pemerintah pusat tengah mendorong percepatan pembangunan infrastruktur strategis di daerah ini.
Dalam kunjungan kerja Komisi V DPR RI beberapa waktu lalu, isu ini sudah mengemuka.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menegaskan bahwa pembangunan tanpa berbasis data meteorologi, klimatologi, dan geofisika (MKG) berisiko tinggi terhadap gangguan bahkan kegagalan.
Menurutnya, integrasi informasi cuaca bukan lagi pelengkap, melainkan fondasi utama dalam perencanaan infrastruktur modern—terutama di wilayah dengan dinamika cuaca tinggi seperti Sulawesi Tenggara.
Peninjauan lapangan yang dilakukan bersama DPR menyoroti sejumlah titik vital: jalan, pelabuhan, hingga sistem pengelolaan air. Di sektor-sektor inilah ketahanan infrastruktur diuji paling keras ketika cuaca ekstrem datang.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, bahkan mengakui bahwa pertumbuhan pesat Sultra belum sepenuhnya diimbangi kesiapan infrastruktur dasar. Persoalan drainase, tata ruang, hingga konektivitas masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Kini, peringatan BMKG seperti menemukan pembuktiannya di lapangan. Hujan lebat yang mengguyur wilayah ini bukan hanya menguji daya tahan fisik infrastruktur, tetapi juga menguji kualitas perencanaan di baliknya.
Apakah jalan-jalan mampu menahan limpasan air?
Apakah sistem drainase siap menampung curah hujan tinggi?
Dan apakah transportasi tetap bisa berjalan normal di tengah tekanan cuaca?
Pertanyaan-pertanyaan itu kini tidak lagi bersifat teoritis. Cuaca ekstrem telah menjadi realitas yang berulang. Dan di Sulawesi Tenggara, realitas itu kini berhadapan langsung dengan ambisi besar pembangunan.
Tanpa integrasi data, mitigasi risiko yang matang, serta keberanian memperbaiki kelemahan lama, infrastruktur strategis yang dibangun hari ini bisa berubah menjadi titik rawan di masa depan.
Sultra sedang diuji. Bukan hanya oleh hujan dan angin, tetapi oleh seberapa siap ia menghadapi masa depan. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment