Bencana Banjir dan Longsor di Sulawesi Tenggara: Kolaka dan Buton Utara Terparah
JAKARTA — Gelombang bencana hidrometeorologi kembali melanda Pulau Sulawesi.
Namun, Sulawesi Tenggara menjadi salah satu wilayah paling terdampak setelah banjir dan tanah longsor menerjang Kabupaten Kolaka dan Buton Utara dalam waktu hampir bersamaan.
Berdasarkan laporan terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 9 Mei 2026, ratusan rumah warga terendam, jembatan putus, lahan pertanian rusak, hingga fasilitas pendidikan terdampak akibat cuaca ekstrem yang terus melanda kawasan tersebut.
Di Kabupaten Buton Utara, banjir menerjang empat desa pada Jumat (8/5), masing-masing Desa Wacu Laea di Kecamatan Kulisusu, Desa Lamoahi di Kecamatan Kulisusu Utara, Desa Wantulasi di Kecamatan Wakorumba Utara, dan Desa Lapandewa di Kecamatan Kulisusu Barat.
BPBD mencatat sedikitnya 120 unit rumah terdampak dengan total 632 jiwa merasakan dampak langsung bencana tersebut. Tak hanya itu, satu unit jembatan dilaporkan putus akibat derasnya arus banjir.
Tim gabungan bersama BPBD Buton Utara langsung turun melakukan peninjauan lapangan dan pembersihan rumah warga. Hingga Sabtu (9/5), banjir di wilayah tersebut dilaporkan mulai surut.
Sementara itu, situasi lebih parah terjadi di Kabupaten Kolaka. Hujan deras memicu luapan sungai yang merendam permukiman di empat kecamatan sekaligus, yakni Kecamatan Latambaga, Kolaka, Pomalaa, dan Samaturu. Selain banjir, tanah longsor juga terjadi di Kelurahan Laloeha, Kecamatan Kolaka.
Data BPBD Kolaka menunjukkan sebanyak 587 rumah terdampak banjir. Selain itu, 10 fasilitas pendidikan ikut terendam, bersama 23 hektare sawah, 10,5 hektare tambak, dan delapan hektare kebun warga.
Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Sakuli, Manggolo, Watuliandu, serta sejumlah desa di Pomalaa dan Samaturu seperti Totobo, Pelambua, Latuo, Ulu Konaweha, Wawo Tamboli, dan Konaweha.
BPBD Kolaka bersama lintas instansi mengerahkan pompa air dan melakukan pembersihan rumah warga yang terdampak banjir maupun longsor.
Secara nasional, BNPB mencatat bencana dalam periode 8–9 Mei 2026 didominasi banjir dan tanah longsor di Pulau Sulawesi.
Selain Sulawesi Tenggara, banjir juga melanda Kabupaten Luwu dan Bone di Sulawesi Selatan. Di Bone, dua warga dilaporkan meninggal dunia akibat banjir yang merendam lima kecamatan.
BNPB mengingatkan bahwa ancaman belum berakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang masih berpotensi terjadi pada 9 hingga 11 Mei 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi.
Karena itu, BNPB meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman banjir, longsor, dan cuaca ekstrem.
Warga yang tinggal di bantaran sungai maupun lereng rawan longsor diminta segera mengungsi apabila hujan deras berlangsung lebih dari satu jam atau debit air mulai meningkat drastis.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan pentingnya langkah mitigasi dini untuk meminimalkan risiko korban dan kerusakan akibat bencana hidrometeorologi yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment