Baubau
Home / Sultra / Baubau / Benteng Keraton Buton Menuju UNESCO

Benteng Keraton Buton Menuju UNESCO

Benteng Keraton Buton di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, merupakan warisan sejarah Kesultanan Buton yang mencerminkan kejayaan peradaban dan tradisi pertahanan masyarakat Buton. Pemerintah Kota Baubau tengah mempersiapkan pengusulannya sebagai Warisan Dunia UNESCO untuk memperkuat pelestarian warisan budaya sekaligus memperkenalkan sejarah Buton kepada masyarakat internasional. Ist

BAUBAU – Pemerintah Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, bersiap mengusulkan Benteng Keraton Buton sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Upaya ini menjadi langkah strategis untuk mengangkat warisan peradaban Kesultanan Buton ke panggung internasional sekaligus memperkuat posisi Baubau sebagai salah satu pusat kebudayaan bersejarah di Indonesia.

Wali Kota Baubau Yusran Fahim mengatakan, pemerintah daerah tengah mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis untuk mendukung proses pengusulan tersebut. Salah satu agenda penting yang dijadwalkan adalah Simposium Budaya Buton pada 28 Oktober 2026.

Persiapan itu disampaikan dalam upacara peringatan Hari Jadi Baubau ke-485 sekaligus Hari Ulang Tahun ke-25 sebagai daerah otonom, yang berlangsung pada Sabtu (17/10/2026).

Momentum tersebut menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga warisan sejarah dan identitas budaya Buton di tengah tuntutan pembangunan ekonomi dan modernisasi.

TNI AL Gagalkan Penyelundupan Tanduk Rusa dan Senjata ke Sulawesi Tenggara Lewat KM Nggapulu

Warisan Kesultanan Buton yang Bernilai Sejarah

Benteng Keraton Buton, yang juga dikenal sebagai Benteng Wolio, merupakan peninggalan penting Kesultanan Buton. Berdasarkan kajian yang diterbitkan dalam jurnal konservasi cagar budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pembangunan benteng ini berkaitan dengan masa pemerintahan Sultan La Elangi, Sultan Buton IV yang memerintah pada 1597–1631, dan dilanjutkan pada masa pemerintahan Sultan Buton VI.

Benteng yang terletak di Kota Baubau tersebut memiliki nilai sejarah, arsitektur pertahanan tradisional, serta keterkaitan erat dengan perkembangan peradaban dan kehidupan masyarakat Kesultanan Buton.

Data resmi pemerintah melalui basis data cagar budaya nasional mencatat Benteng Wolio, Buton, sebagai kawasan cagar budaya peringkat nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 115/M/2021.

Status tersebut menjadi salah satu landasan penting bagi upaya pelindungan dan pelestarian kawasan bersejarah ini.

Tanpa Dukungan Pemda, Super Air Jet (SAJ) Sulit Terbang ke Baubau, Sulawesi Tenggara

Namun, perjalanan menuju pengakuan UNESCO membutuhkan lebih dari sebatas status cagar budaya nasional. Pengusulan Warisan Dunia memerlukan kajian mendalam mengenai nilai universal luar biasa (Outstanding Universal Value), kelengkapan dokumentasi sejarah, perlindungan kawasan, rencana pengelolaan, serta upaya pelestarian jangka panjang.

Karena itu, persiapan teknis dan penguatan kolaborasi antara pemerintah, ahli kebudayaan, masyarakat adat, serta pemangku kepentingan lainnya akan menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Pembangunan Modern, Identitas Budaya Tetap Terjaga

Dalam amanatnya, Yusran Fahim menegaskan bahwa identitas Baubau tidak dapat dipisahkan dari peradaban Kesultanan Buton dan falsafah leluhur Bolimo Karo Somanamo Lipu, yang mengajarkan pentingnya mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Menurutnya, pembangunan kota harus tetap berjalan meskipun pemerintah daerah menghadapi tantangan fiskal dan tekanan ekonomi yang memengaruhi daya beli masyarakat.

Mitigasi Inflasi, Kendari dan Baubau Gelontorkan Pangan Murah

Peningkatan jalan, drainase, jaringan air bersih, serta mutu pelayanan dasar di bidang kesehatan dan pendidikan tetap menjadi prioritas pemerintah daerah.

Dari sisi pembangunan manusia, Pemerintah Kota Baubau mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 80,29 pada akhir 2025. Capaian tersebut menempatkan Baubau dalam kategori pembangunan manusia sangat tinggi.

Di sektor kesehatan, pemerintah kota juga menyebut Baubau memperoleh peringkat kedua nasional dalam kategori akses dan pelayanan kesehatan untuk Regional Sulawesi dari Kementerian Dalam Negeri.

Sementara itu, realisasi investasi daerah sepanjang 2026 dilaporkan mencapai Rp139 miliar. Sejumlah upaya untuk memperkuat perekonomian lokal dilakukan melalui revitalisasi Pasar Wameo, penyiapan pasar penyangga, penyelenggaraan Baubau Expo, serta dukungan terhadap pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pemerintah kota juga menjalin kerja sama dengan Balai Besar Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital Makassar untuk menyelenggarakan pelatihan kecerdasan buatan (AI) dan memperkuat konektivitas digital di wilayah Baubau.

Modernisasi tersebut berjalan beriringan dengan dukungan terhadap sejumlah program pemerintah pusat, termasuk pengembangan Bandara Betoambari, Makan Bergizi Gratis, Koperasi Kelurahan Merah Putih, Kampung Nelayan Merah Putih, dan Sekolah Rakyat.

Melestarikan Tradisi, Menjaga Warisan Leluhur

Bagi Baubau, upaya mengusulkan Benteng Keraton Buton ke UNESCO tidak hanya berkaitan dengan bangunan bersejarah, tetapi juga dengan keberlanjutan tradisi dan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Pemerintah kota terus mendorong pelestarian tradisi Santiago, karnaval budaya, serta Pekakande-kandea sebagai bagian dari identitas masyarakat Buton.

Dalam peringatan hari jadi kota tersebut, rangkaian upacara dilanjutkan dengan ritual adat Pekakande-kandea, termasuk tradisi memberikan makanan kepada anak-anak yatim piatu.

Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk pewarisan nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Wali Kota Baubau mengajak masyarakat menjaga kerukunan, merawat fasilitas publik, serta memperkuat semangat gotong royong untuk mewujudkan kota yang cerdas, sejahtera, dan bermartabat.

Peringatan tersebut turut dihadiri perwakilan Gubernur Sulawesi Tenggara, sejumlah kepala daerah dari wilayah Sulawesi Tenggara, anggota DPR RI Jaelani, Atase Kebudayaan Timor-Leste Prof. Dr. Tasrifin Tahara, serta Kepala Balai Besar Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital Makassar, Baso Saleh.

Bagi Baubau, langkah menuju UNESCO merupakan kesempatan untuk memperkenalkan sejarah Kesultanan Buton kepada dunia. Namun, pencapaian tersebut juga menuntut konsistensi dalam menjaga keaslian kawasan, memperkuat perlindungan warisan budaya, dan memastikan masyarakat setempat tetap menjadi bagian utama dari upaya pelestarian.

Benteng Keraton Buton tentu bukan hanya peninggalan masa lalu. Ia merupakan bagian dari identitas masyarakat Buton yang memiliki potensi untuk memperkaya khazanah warisan budaya dunia. (MS Network)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *