Seputar Nikel Industri
Home / Industri / Harta Karun Nikel Pomalaa Terungkap: Begini Isi Perut Bumi Kolaka yang Jadi Incaran Industri Dunia

Harta Karun Nikel Pomalaa Terungkap: Begini Isi Perut Bumi Kolaka yang Jadi Incaran Industri Dunia

Jejak penambangan nikel di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra). Ist

KOLAKA — Di balik bentang perbukitan hijau Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara tersembunyi kisah geologi purba yang kini menjadikan wilayah itu sebagai salah satu pusat nikel terpenting di Indonesia.

Sebuah penelitian ilmiah mengungkap bagaimana batuan dasar dari kerak samudra purba mengalami pelapukan selama jutaan tahun hingga membentuk endapan nikel laterit berkadar tinggi yang kini menopang industri hilirisasi nasional.

Makalah berjudul Profil Endapan Laterit Nikel di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara yang disusun Hashari Kamaruddin bersama tim peneliti dari PT ANTAM dan Universitas Padjadjaran itu menjadi salah satu kajian paling lengkap tentang karakter nikel Pomalaa.

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kawasan Pomalaa merupakan bagian dari Ofiolit Sulawesi Timur, yakni kumpulan batuan ultramafik yang dahulu berasal dari dasar samudra purba sebelum terangkat ke permukaan akibat tumbukan lempeng tektonik.

Secara geologi, wilayah Sulawesi memang dikenal sebagai salah satu kawasan paling kompleks di dunia karena berada di pertemuan tiga lempeng besar: Indo-Australia, Pasifik, dan Asia. Tumbukan lempeng-lempeng itu membentuk struktur Pulau Sulawesi yang unik menyerupai huruf “K”, sekaligus mengangkat batuan ultramafik kaya logam ke permukaan bumi.

Kawasan Industri Nikel Pomalaa Kian Melesat, Pelabuhan IPK Operasikan 4 Crane Baru

Di Pomalaa, batuan ultramafik tersebut didominasi harzburgit dan dunit yang telah mengalami serpentinisasi. Batuan ini kaya mineral olivin dan piroksen—komponen penting pembentuk nikel laterit. Ketika terkena hujan tropis selama jutaan tahun, unsur-unsur ringan seperti magnesium dan silika perlahan larut, sementara unsur besi, nikel, dan kobalt tertinggal dan terkonsentrasi membentuk lapisan bijih.

Para peneliti menyebut proses pembentukan laterit di Pomalaa sangat dipengaruhi topografi. Daerah dengan kemiringan lereng 10 hingga 15 derajat menjadi lokasi paling ideal bagi pembentukan lapisan nikel tebal. Pada lereng yang terlalu curam, air hujan langsung mengalir ke bawah sehingga proses pelapukan kimia tidak berkembang optimal. Sebaliknya, pada lereng yang lebih landai, air mampu meresap ke dalam tanah dan melarutkan unsur nikel menuju lapisan bawah.

Penelitian itu membagi geomorfologi Pomalaa menjadi tiga wilayah utama, yakni dataran aluvial, perbukitan bergelombang rendah, dan perbukitan bergelombang tinggi. Perbukitan bergelombang rendah mendominasi sekitar 70 persen kawasan penelitian dan menjadi lokasi utama berkembangnya endapan nikel.

Menariknya, struktur geologi Pomalaa ternyata tidak seragam. Para peneliti membagi endapan nikel Pomalaa ke dalam tiga blok utama: Blok Utara, Blok Tengah, dan Blok Selatan. Masing-masing memiliki karakter unik yang menunjukkan sejarah pembentukan berbeda.

Blok Utara memiliki struktur paling lengkap karena terdiri dari lima lapisan utama, yakni tanah penutup (top soil), limonit, zona transisi, saprolit, dan batuan dasar. Ciri khas wilayah ini adalah keberadaan yellow limonite atau zona transisi berwarna kuning kemerahan yang berada di antara limonit dan saprolit. Zona ini tidak ditemukan di wilayah lainnya di Pomalaa.

Pemerintah Ubah Strategi Hilirisasi Nikel: Smelter Hulu Dibatasi demi Industri Hijau

Sementara itu, Blok Tengah dikenal karena banyaknya urat-urat silika yang membentuk tekstur boxwork pada batuan saprolit. Struktur tersebut menunjukkan intensitas rekahan batuan yang sangat tinggi dan menjadi jalur penting perpindahan mineral saat proses lateritisasi berlangsung.

Adapun Blok Selatan memiliki karakter paling ekstrem. Pada wilayah ini ditemukan bongkahan batuan ultramafik raksasa berupa serpentinit dan harzburgit dengan diameter lebih dari dua meter yang tersebar di zona saprolit. Kelimpahan boulder raksasa itu menjadi pembeda utama dibanding blok lain di Pomalaa.

Secara vertikal, endapan nikel Pomalaa tersusun atas beberapa lapisan yang masing-masing memiliki karakter berbeda.

Lapisan paling atas adalah tanah penutup dengan ketebalan 1 hingga 2 meter. Lapisan ini kaya material organik namun tidak mengandung nikel signifikan. Di bawahnya terdapat zona limonit yang berwarna coklat kemerahan hingga kehitaman akibat dominasi oksida besi terhidrasi.

Zona limonit memiliki kadar nikel sekitar 0,4 hingga 1,2 persen dengan ketebalan rata-rata 3 sampai 7 meter. Namun di beberapa titik Pomalaa Selatan, ketebalannya bisa mencapai sekitar 25 meter. Pada zona inilah unsur besi mendominasi akibat proses pelindian mineral ringan selama jutaan tahun.

SAVE PANTAI KARTIKA Menggema: Surga Wisata Sulawesi Tenggara Kini di Ambang Kehancuran

Di bawah limonit terdapat zona saprolit yang menjadi lapisan paling diburu industri tambang karena mengandung kadar nikel lebih tinggi. Zona ini masih mempertahankan tekstur batuan asal sehingga sering disebut rocky saprolite. Banyak rekahan batuan pada zona ini terisi oleh garnierit, krisopras, dan silika yang menjadi indikator pengayaan nikel.

Penelitian mikroskopis menunjukkan batuan harzburgit di Pomalaa mengalami serpentinisasi intensif. Rekahan-rekahan mineral olivin diisi mineral serpentin hingga membentuk tekstur mesh. Seiring proses pelapukan, magnetit dan silika juga muncul mengisi retakan batuan.

Fenomena tersebut menjelaskan mengapa Pomalaa memiliki karakter bijih yang sangat kompleks namun kaya kandungan logam strategis.

Dari sisi geokimia, penelitian itu menemukan pola yang menarik. Kandungan magnesium (MgO) dan silika (SiO2) meningkat tajam ketika memasuki zona saprolit, sementara kandungan besi (Fe) justru turun drastis. Hal ini menjadi penanda penting dalam eksplorasi bijih nikel berkadar tinggi.

Di Blok Utara misalnya, kandungan MgO meningkat dari sekitar 2–4 persen di zona limonit menjadi 20–24 persen di zona saprolit. Pada saat bersamaan, kandungan besi turun dari kisaran 35–40 persen menjadi sekitar 9–12 persen.

Para peneliti menyebut proses tersebut dipengaruhi oleh interaksi air tanah dengan batuan ultramafik selama waktu yang sangat panjang. Air hujan yang masuk melalui rekahan batuan melarutkan unsur-unsur tertentu dan membawa nikel ke lapisan bawah. Di situlah terjadi proses pengayaan supergen yang membentuk bijih saprolit berkadar tinggi.

Makalah itu juga memuat estimasi sumber daya dan cadangan nikel Pomalaa. Total sumber daya saprolit tercatat sekitar 4,7 juta ton dengan kadar rata-rata nikel 2,05 persen. Sedangkan total cadangan saprolit mencapai sekitar 4,1 juta ton dengan kadar rata-rata 2,07 persen Ni.

Angka tersebut menunjukkan Pomalaa masih menjadi salah satu kawasan strategis bagi masa depan industri nikel Indonesia, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan bahan baku baterai kendaraan listrik dunia.

Namun penelitian ini juga memberi pesan penting bahwa nikel tidak terbentuk dalam waktu singkat. Endapan yang kini ditambang industri sesungguhnya merupakan hasil kerja alam selama jutaan tahun, dipengaruhi iklim tropis, pergerakan tektonik, struktur batuan, hingga sistem air tanah purba yang sangat kompleks.

Karena itu, eksploitasi nikel tidak hanya soal ekonomi dan hilirisasi industri, tetapi juga menyangkut keberlanjutan lingkungan dan pengelolaan sumber daya yang bijak. Di balik gemerlap “emas hijau” Sulawesi Tenggara, tersimpan sejarah panjang bumi yang tak tergantikan. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *