JAKARTA — Pemerintah Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara menunjukkan keseriusannya mendorong hilirisasi Aspal Buton (Asbuton) sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN).
Di bawah kepemimpinan Bupati Muhammad Adios, daerah itu mulai bergerak agresif menjemput investasi demi mewujudkan target swasembada aspal nasional tahun 2030.
Langkah konkret tersebut ditandai melalui pertemuan antara Pemkab Buton Selatan dan PT Jaya Trade Indonesia pada Senin, 11 Mei 2026 di Jakarta. Pertemuan itu membahas rencana investasi pembangunan industri pengolahan Aspal Buton di wilayah Buton Selatan.
Pertemuan tersebut turut diinisiasi oleh Basiran yang dinilai memiliki peran strategis dalam membangun komunikasi antara pemerintah daerah dan investor nasional. Kehadirannya disebut menjadi bagian penting dalam mempercepat realisasi investasi industri Asbuton di Pulau Buton.
Langkah ini sekaligus menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Buton Selatan terhadap agenda hilirisasi nasional yang kini mulai diperkuat melalui pengembangan ekosistem produksi Aspal Buton bersama Danantara serta dukungan PT Wijaya Karya Tbk dan PT Jasa Marga Tbk.
Bupati Buton Selatan, Adios menegaskan pemerintah daerah siap mengawal seluruh proses investasi, termasuk penyiapan lahan tambang dan kawasan industri agar pembangunan industri pengolahan Asbuton dapat segera terealisasi.
“Pemerintah daerah siap mengawal proses investasi ini, termasuk terkait penyiapan lahan tambang dan kawasan industri agar pembangunan industri pengolahan Aspal Buton dapat segera terealisasi,” ujarnya, dikutip dari laman Facebook Basiran.
Dalam pemaparannya, pihak PT Jaya Trade Indonesia menjelaskan bahwa perusahaan tersebut merupakan anak usaha PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk yang telah bergerak di bidang perdagangan aspal minyak sejak 1971.
Selama lebih dari lima dekade, perusahaan itu membangun jaringan distribusi nasional melalui 19 Terminal Aspal Curah (TAC) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Tak hanya fokus pada perdagangan aspal minyak, perusahaan juga telah mengembangkan studi teknologi ekstraksi Aspal Buton sejak 2010 melalui mini plant.
Melalui anak usahanya, PT Sarana Sumber Daya Utama, perusahaan kini bersiap meningkatkan kapasitas produksi menuju skala industri dengan target awal sekitar 25.000 hingga 30.000 metric ton per tahun.
Kapasitas produksi tersebut direncanakan terus meningkat seiring tersedianya data cadangan terukur Aspal Buton di wilayah Pulau Buton yang dikenal memiliki deposit aspal alam terbesar di Indonesia.
Perusahaan juga mengungkapkan bahwa sejak 2017 pihaknya telah melakukan uji penggunaan Aspal Buton ekstraksi pada proyek pengaspalan jalan di kawasan Bintaro, Tangerang.
Hingga kini, ruas jalan tersebut diklaim masih dalam kondisi baik dan belum mengalami kerusakan berarti.
Sebaliknya, penggunaan aspal minyak pada beberapa ruas jalan lain disebut membutuhkan perbaikan berulang karena daya tahannya dinilai lebih rendah.
Meski demikian, pengembangan industri pengolahan Asbuton masih menghadapi tantangan, terutama terkait proses perolehan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang belum sepenuhnya terealisasi.
Pemerintah Kabupaten Buton Selatan berharap dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, kementerian terkait, serta masyarakat dapat mempercepat proses groundbreaking industri pengolahan Aspal Buton pada 2026.
Hadirnya investasi industri Asbuton di Buton Selatan diharapkan menjadi tonggak penting menuju kemandirian aspal nasional, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Pulau Buton dan Sulawesi Tenggara secara umum. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment