KENDARI – Pengaruh China terhadap Sulawesi Tenggara (Sultra) kini tak lagi sebatas perdagangan nikel dan baja.
Di tengah dominasi China atas ekspor dan impor daerah, Pemerintah Kota Kendari mulai membidik hubungan sister city dengan pemerintah daerah di Negeri Tirai Bambu.
Langkah itu mengemuka dalam forum internasional UCLG ASPAC 2026 melalui pertemuan bilateral antara Pemerintah Kota Kendari dan China People’s Association for Friendship with Foreign Countries (CPAFFC), Jumat (8/5/2026).
Wali Kota Kendari Siska Karina Imran mengatakan forum tersebut membuka peluang besar bagi Kendari untuk memperluas kerja sama internasional di bidang perdagangan, investasi, budaya, pariwisata hingga pengembangan UMKM.
“Peluang kerja sama antara Kota Kendari dan CPAFFC mudah-mudahan menjadi momentum yang sangat baik untuk berlanjut sesuai dengan kebutuhan Kota Kendari dan sektor-sektor yang diharapkan bersama,” ujar Siska Karina Imran.
Delegasi CPAFFC, Boming Qing, bahkan menyebut Kendari berpotensi menjadi daerah pertama di Sulawesi yang memiliki hubungan sister city dengan pemerintah daerah di China.
“Di Sulawesi Tenggara belum ada sister city. Kendari bisa menjadi yang pertama,” kata Boming Qing.
Tak hanya itu, pihak China juga membuka peluang koneksi perdagangan dengan Kota Yiwu yang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan internasional terbesar di China.
China Kuasai Ekspor Sultra
Manuver diplomasi daerah ini terjadi di tengah kenyataan bahwa ekonomi Sulawesi Tenggara kini sangat bergantung pada China.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hampir seluruh denyut perdagangan luar negeri Sultra—baik ekspor maupun impor—terhubung langsung dengan negara tersebut.
Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, pada Senin (4/5/2026) mengungkapkan bahwa nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada Maret 2026 mencapai US$347,36 juta, naik 7,05 persen dibanding Maret tahun lalu.
Namun di balik kenaikan itu, volume ekspor justru turun 16,19 persen secara tahunan.
Secara kumulatif Januari–Maret 2026, total ekspor Sultra mencapai US$953,67 juta.
Yang paling mencolok, sebanyak 95,75 persen ekspor Sultra mengalir ke China dengan nilai mencapai US$913,12 juta.
Ekspor itu hampir seluruhnya berasal dari komoditas besi dan baja (HS 72) yang menjadi tulang punggung industri hilirisasi nikel di Sultra.
Komoditas besi dan baja bahkan menguasai 98,35 persen total ekspor Sultra selama triwulan pertama 2026, dengan nilai mencapai US$937,89 juta.
Mesin dari China Membanjir
Di sisi lain, impor Sultra juga dikuasai China. Nilai impor Sultra pada Maret 2026 mencapai US$335,29 juta, melonjak drastis hingga 278,24 persen dibanding tahun lalu.
Secara kumulatif Januari–Maret 2026, impor mencapai US$846,97 juta.
Lonjakan terbesar berasal dari impor mesin-mesin/pesawat mekanik (HS 84) yang naik fantastis hingga 2.503,69 persen.
Dan lagi-lagi, China menjadi pemasok utama dengan pangsa impor mencapai 65,11 persen atau senilai US$551,43 juta.
Mesin industri, peralatan listrik hingga bahan bakar mineral menjadi komoditas utama yang masuk ke Sultra.
Ketergantungan Kian Dalam
Meski neraca perdagangan Sultra masih mencatat surplus US$106,73 juta sepanjang Januari–Maret 2026, kondisi ini dinilai menyimpan risiko besar.
Sebab, surplus tersebut sangat bergantung pada ekspor besi dan baja ke China.
Kini, hubungan Sultra dengan China bukan hanya soal ekspor nikel dan baja, tetapi mulai meluas ke kerja sama investasi, perdagangan kota, budaya hingga diplomasi daerah melalui skema sister city.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana pengaruh ekonomi dan jaringan kerja sama China terhadap Sulawesi Tenggara semakin dalam dan menyentuh hampir seluruh sektor strategis daerah. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment