Industri Buton
Home / Sultra / Buton / Impor Ditekan, Pemerintah Siap Genjot Aspal Buton

Impor Ditekan, Pemerintah Siap Genjot Aspal Buton

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo. Arsip

JAKARTA – Pemerintah mulai mengambil langkah tegas untuk mengakhiri ketergantungan terhadap aspal impor.

Melalui kebijakan baru, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa Indonesia akan menggenjot penggunaan Aspal Buton (Asbuton) di Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai tulang punggung pembangunan jalan nasional.

Langkah ini menjadi strategi besar menuju kemandirian nasional di sektor infrastruktur sekaligus efisiensi anggaran negara.

“Kami ingin mendorong swasembada aspal nasional melalui pemanfaatan Asbuton,” ujar Dody dalam diskusi media di kantor Kementerian PU, Jakarta, sebagaimana dikutip dari siaran resmi Senin (13/4/2026).

Ketergantungan Impor Masih Dominan

Saat ini, kebutuhan aspal nasional mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dan diproyeksikan melonjak menjadi 1,5 juta ton. Ironisnya, hampir 80 persen masih bergantung pada aspal berbasis minyak bumi impor.

Vale Gelontorkan Rp 24,6 Miliar untuk Eksplorasi Nikel di Sulawesi Tenggara

Di sisi lain, Indonesia menyimpan cadangan aspal alam melimpah di Pulau Buton. Namun pemanfaatannya masih sangat minim—hanya sekitar 4 persen dari total kebutuhan nasional.

Kondisi ini menjadi paradoks: kekayaan alam besar, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.

Target 30 Persen, Hemat Triliunan Rupiah

Pemerintah kini mengarahkan penggunaan Asbuton hingga minimal 30 persen dalam proyek jalan nasional.

Target ini diyakini mampu: Menghemat devisa hingga Rp4 triliun, Menambah penerimaan pajak hampir Rp2 triliun, Memperkuat industri dalam negeri termasuk Menciptakan rantai pasok baru.

Tak hanya itu, pengembangan industri Asbuton diperkirakan menghasilkan nilai tambah ekonomi hingga Rp23 triliun serta membuka ribuan lapangan kerja.

Sultra Kaya Raya, Rakyat Dapat Apa?

Ironi: Diekspor, Tapi Minim Dipakai di Dalam Negeri

Dody juga menyoroti fakta mengejutkan: selama ini Asbuton justru lebih banyak dimanfaatkan oleh negara lain.

“Kalau negara lain bisa pakai, kenapa kita tidak?” tegasnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik terhadap lambannya optimalisasi sumber daya strategis dalam negeri.

Tantangan Teknologi dan Industri

Meski menjanjikan, pemerintah mengakui jalan menuju swasembada aspal tidak mudah.

Tantangan utama terletak pada: Kesiapan teknologi pengolahan, Standarisasi mutu, Adopsi industri yang belum merata.

Sulawesi Tenggara dalam Bayang-Bayang Gempa Besar

Namun, pemerintah memilih jalur yang lebih sulit demi kemandirian jangka panjang.

Agenda Besar: Kedaulatan Infrastruktur

Optimalisasi Asbuton kini menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional dalam RPJMN 2025–2029. Kebijakan ini tidak hanya soal material jalan, tetapi juga menyangkut: Kemandirian ekonomi, Industrialisasi nasional, Efisiensi fiskal dan Ketahanan pasokan strategis.

Dengan langkah ini, Indonesia berupaya berdiri di atas kaki sendiri—mengubah “harta terpendam” menjadi kekuatan nyata bagi masa depan infrastruktur nasional. (MS Network)

Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top News

01

Janji Smelter Nikel di Routa Menguap, Tanah Adat Terus Dikeruk

02

Satgas PKH Sita Lahan Tambang Emas PT Panca Logam Makmur di Bombana

03

Investasi Rp181,58 Triliun di Pomalaa, IPIP akan Serap 10.000 Tenaga Kerja

04

Sultra Industrial Park (SIP) akan Dibangun di Bombana, Siapa Investornya?

05

Breaking News: Gempa M5,1 Guncang Wakatobi, Tidak Berpotensi Tsunami

Berita Terbaru






Iklan Promosi Mediasultra.com

Media Politik






Kendari Hits