KENDARI – Di balik lonjakan ekspor yang tampak menjanjikan, ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra) justru menyimpan sinyal bahaya.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir, neraca perdagangan provinsi berbasis nikel ini jatuh ke jurang defisit.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip pada Jumat (10/4/2026), menunjukkan, pada Februari 2026 nilai ekspor Sulawesi Tenggara mencapai US$291,74 juta, naik 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, di saat yang sama, impor melonjak tajam hingga US$293,49 juta, atau meroket 167,02 persen secara tahunan.
Akibatnya, neraca perdagangan Sultra resmi mengalami defisit sebesar US$1,74 juta, berbalik arah drastis dari surplus US$170,62 juta pada Februari 2025.
Dominasi Nikel: Berkah Sekaligus Ketergantungan
Ekspor Sulawesi Tenggara masih sangat bergantung pada industri pengolahan berbasis nikel, khususnya besi dan baja. Komoditas ini menyumbang hampir seluruh ekspor dengan nilai mencapai US$595,72 juta sepanjang Januari–Februari 2026 atau sekitar 98,25 persen dari total ekspor.
Lonjakan ekspor juga didorong oleh meningkatnya permintaan dari China yang menyerap 96,28 persen total ekspor Sultra, dengan nilai mencapai US$583,78 juta.
Ketergantungan ekstrem pada satu komoditas dan satu pasar ini menjadi sorotan. Di satu sisi, nikel menjadi mesin utama pertumbuhan. Namun di sisi lain, struktur ekonomi menjadi rapuh terhadap fluktuasi global.
Impor Meledak: Sinyal Ekspansi Industri atau Alarm Bahaya?
Ledakan impor menjadi faktor utama penyebab defisit. Kenaikan terbesar terjadi pada komoditas mesin dan peralatan mekanik yang melonjak hingga 2.491,81 persen, dengan nilai mencapai US$275,82 juta dalam dua bulan pertama 2026.
Tak hanya itu, impor barang modal secara keseluruhan juga naik drastis hingga lebih dari 2.000 persen, menandakan adanya ekspansi besar-besaran sektor industri, khususnya smelter dan hilirisasi.
China kembali menjadi aktor dominan, menyuplai hampir 75 persen impor Sultra.
Ekspor Naik, Volume Turun: Ada Apa?
Menariknya, meski nilai ekspor meningkat, volume ekspor justru turun 3,10 persen menjadi 199,07 ribu ton.
Fenomena ini mengindikasikan adanya kenaikan harga komoditas atau pergeseran ke produk bernilai tambah lebih tinggi, namun juga bisa mencerminkan tekanan produksi atau efisiensi yang belum optimal.
Industri Pengolahan Menguasai, Sektor Lain Tertinggal
Struktur ekspor Sultra semakin terkonsentrasi. Sektor industri pengolahan menyumbang hampir 100 persen ekspor (99,82 persen), sementara sektor pertanian hanya berkontribusi 0,18 persen dan bahkan mengalami penurunan tajam.
Kondisi ini mempertegas bahwa ekonomi Sultra kini sepenuhnya bertumpu pada hilirisasi sumber daya alam, khususnya nikel.
Alarm Dini untuk Ekonomi Sultra
Lonjakan impor memang bisa dibaca sebagai tanda ekspansi industri dan investasi. Namun, defisit perdagangan yang muncul di saat ekspor masih tumbuh menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang perlu diwaspadai.
Jika ketergantungan pada impor barang modal terus berlanjut tanpa diimbangi penguatan industri domestik dan diversifikasi ekspor, Sulawesi Tenggara berisiko terjebak dalam paradoks: kaya sumber daya, tetapi rentan secara ekonomi. (MS)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini


Comment