JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional menilai potensi kelautan di Sulawesi Utara dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama ekspor perikanan di kawasan Pasifik.
Wilayah yang dikenal sebagai gerbang Pasifik itu dinilai memiliki kekayaan sumber daya laut melimpah dan posisi strategis untuk mendorong lahirnya industri perikanan modern berbasis ekspor.
Namun, di balik potensi besar tersebut, sektor kelautan Sulawesi Utara masih dibayangi berbagai persoalan serius mulai dari lemahnya hilirisasi, infrastruktur logistik, teknologi produksi, hingga ancaman overfishing.
Ketua Tim Kajian BRIN, Asep Saepudin, mengungkapkan hasil analisis BRIN menunjukkan sektor perikanan tangkap dan budidaya di Sulawesi Utara berpotensi menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi daerah.
“Sulawesi Utara memiliki potensi pasar ekspor perikanan yang besar, tetapi masih menghadapi tantangan pada aspek teknologi, infrastruktur, akses pasar, dan dinamika regulasi,” ujar Asep dalam road show kajian pengembangan industri perikanan di Sulawesi Utara, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, sebagian besar hasil perikanan Sulawesi Utara masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah ekonomi yang dinikmati daerah belum maksimal.
Karena itu, BRIN mendorong percepatan hilirisasi industri perikanan agar produk laut tidak hanya diekspor sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tinggi.
BRIN juga menyoroti meningkatnya tekanan terhadap ekosistem laut akibat praktik penangkapan berlebih. Pengelolaan sumber daya laut berbasis sains dan teknologi dinilai menjadi syarat mutlak agar pertumbuhan ekonomi tidak merusak keberlanjutan lingkungan pesisir.
Kepala Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Taufik Hidayat, menegaskan transformasi industri perikanan harus dilakukan melalui inovasi teknologi, diversifikasi produk, dan penguatan akses pasar global.
Menurutnya, langkah tersebut berpotensi meningkatkan kontribusi sektor perikanan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat pesisir.
“Kita membutuhkan transformasi industri berbasis inovasi, penguatan hilirisasi, pengelolaan sumber daya berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir,” katanya.
Selain itu, BRIN menilai kepastian regulasi menjadi faktor penting dalam menarik investasi sektor perikanan. Perubahan aturan yang terlalu cepat disebut dapat menghambat akselerasi industri meski bertujuan menjaga kelestarian sumber daya laut.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Utara, Salman Mokoginta, meminta sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah agar pengembangan industri perikanan berjalan lebih efektif dan cepat.
Di sisi lain, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sulawesi Utara, Jani Niclas Lukas, berharap BRIN memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media untuk mempercepat transformasi ekonomi kelautan di Bumi Nyiur Melambai.
Dukungan terhadap pengembangan industri perikanan Sulawesi Utara juga datang dari Bank Indonesia Perwakilan Sulut, Universitas Sam Ratulangi, Bappeda, serta sejumlah organisasi perangkat daerah lainnya.
Dengan dorongan riset, inovasi, dan hilirisasi industri, Sulawesi Utara dinilai berpeluang besar menjelma menjadi pusat ekonomi kelautan baru Indonesia Timur yang modern, kompetitif, dan ramah lingkungan. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment