KOLAKA – Persaingan antardaerah dalam menekan angka stunting di Sulawesi Tenggara semakin ketat.
Dalam ajang penilaian kinerja aksi konvergensi percepatan penurunan stunting tingkat Provinsi Sultra tahun 2026, Kabupaten Kolaka keluar sebagai daerah terbaik, disusul Konawe di posisi kedua dan Kota Baubau di peringkat ketiga.
Pengumuman tersebut disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2027 yang digelar di Hotel Sutan Raja Kolaka, Selasa (5/5/2026). Penghargaan diserahkan langsung Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, kepada para kepala daerah penerima penghargaan.
Berdasarkan hasil penilaian yang tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 100.3.3.1/16/Tahun 2026, Kabupaten Kolaka meraih skor tertinggi 130 poin. Kabupaten Konawe menempel ketat di posisi kedua dengan skor 128 poin, sementara Kota Baubau berada di peringkat ketiga dengan skor 127 poin. Kabupaten Bombana menyusul di posisi keempat dengan nilai 125 poin, dan Kabupaten Buton Utara di peringkat kelima dengan 124 poin.
Capaian tersebut menjadi indikator kuat meningkatnya komitmen pemerintah daerah di Sulawesi Tenggara dalam menekan prevalensi stunting melalui pendekatan lintas sektor yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Wali Kota Baubau, Yusran Fahim, menerima langsung penghargaan untuk kategori Terbaik III.
Sekretaris Baperida Kota Baubau, Dian Purnamasari, menjelaskan bahwa penghargaan itu merupakan hasil evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan delapan aksi konvergensi percepatan penurunan stunting di seluruh kabupaten dan kota se-Sultra.
“Penilaian dilakukan berdasarkan pemaparan kinerja daerah dalam menjalankan delapan aksi konvergensi percepatan penurunan stunting,” ujarnya.
Menurut Dian, Kota Baubau dinilai berhasil memperkuat berbagai aspek penting penanganan stunting, mulai dari analisis situasi, perencanaan intervensi, rembuk stunting, penyusunan regulasi, pembinaan stakeholder, hingga penguatan sistem data dan evaluasi tahunan.
Sementara itu, keberhasilan Konawe meraih posisi kedua disebut tidak lepas dari optimalisasi intervensi gizi spesifik dan sensitif yang melibatkan tenaga kesehatan, kader posyandu, hingga partisipasi aktif masyarakat desa.
Pemkab Konawe juga dinilai berhasil meningkatkan kualitas pelaksanaan delapan aksi konvergensi, termasuk penguatan regulasi, layanan kesehatan ibu dan anak, serta integrasi data stunting berbasis wilayah.
Di posisi puncak, Kabupaten Kolaka dinobatkan sebagai daerah terbaik penanganan stunting di Sultra.
Bupati Kolaka, Amri, menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen daerah.
“Capaian ini bukan hanya milik pemerintah, tetapi hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat Kolaka. Kami akan terus memperkuat intervensi mulai dari peningkatan gizi, layanan kesehatan ibu dan anak, hingga edukasi masyarakat,” ujar Amri.
Sementara itu, Kabupaten Bombana yang berada di posisi keempat juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.
Bupati Bombana, Burhanuddin, menegaskan bahwa penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk memperkuat program kesehatan masyarakat secara lebih menyeluruh.
Menurut Burhanuddin, persoalan stunting tidak bisa ditangani secara parsial karena berkaitan erat dengan pola hidup, pemenuhan gizi, sanitasi, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat.
“Penanganan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dan stakeholder,” tegasnya.
Dalam forum Musrenbang RKPD tersebut, Gubernur Andi Sumangerukka juga menekankan pentingnya sinkronisasi program pembangunan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota agar penanganan stunting berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Selain isu kesehatan, forum tersebut turut membahas berbagai agenda strategis pembangunan Sultra 2027, mulai dari penguatan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, hingga pengembangan ekonomi berbasis potensi daerah.
Adapun prestasi yang diraih Kolaka, Konawe, Baubau, hingga Bombana menunjukkan bahwa kompetisi penanganan stunting di Sulawesi Tenggara kini tidak lagi hanya bersifat program administratif semata, melainkan menjadi ukuran serius kualitas tata kelola pemerintahan dan keberhasilan daerah dalam menyiapkan generasi masa depan yang sehat dan unggul. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment