KENDARI – Ruang kreativitas di Kendari kembali menemukan denyutnya.
Melalui pameran Osara Seni bertajuk “Rongai-Siggi”, semangat menghidupkan kembali barang tak terpakai menjelma menjadi karya seni bernilai, sekaligus pesan kuat tentang keberlanjutan.
Digelar untuk pertama kalinya pada 2–3 April 2026 di kawasan Eks MTQ, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga ruang pengalaman—tempat publik diajak memahami cerita di balik setiap karya yang lahir dari sesuatu yang pernah dianggap tak berguna.
“Rongai-Siggi”, yang berasal dari bahasa Tolaki—berarti “kembali” dan “barang tidak terpakai”—menjadi landasan filosofis kegiatan ini. Sebuah refleksi bahwa nilai tidak selalu hilang, melainkan dapat ditemukan kembali melalui kreativitas dan sentuhan imajinasi.
Sekitar 20 seniman lokal ambil bagian, menghadirkan karya-karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga sarat makna ekologis.
Kolaborasi dengan enam tenant UMKM berbasis seni serta komunitas seperti KKPB Bahagia dan Forum Perupa Sultra menjadikan pameran ini sebagai ruang temu lintas gagasan dan energi kreatif di Kendari.
Di balik geliat tersebut, PT ANTAM (Persero) Tbk UBPN Konawe Utara hadir sebagai sponsor utama. Dukungan ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam mendorong pemberdayaan masyarakat sekaligus pelestarian lingkungan melalui pendekatan kreatif.
Tak hanya dalam bentuk pendanaan, ANTAM juga melibatkan Persatuan Wanita Aneka Tambang (PWAT) yang menampilkan produk daur ulang berbahan plastik, serta produk abon ikan dari Desa Tinobu—sebuah wujud nyata penguatan UMKM berbasis potensi lokal.
Keterlibatan ANTAM bahkan dimulai sejak tahap awal.
General Manager UBPN Konawe Utara, Eko Aditya, turut hadir dalam proses persiapan, mulai dari pembangunan instalasi hingga penataan ruang pamer.
“Ini menjadi penegasan bahwa dukungan industri terhadap seni tidak berhenti pada simbol, tetapi hadir dalam kerja nyata,” ujarnya, dikutip Rabu (6/5/2026).
Apresiasi juga datang dari pemerintah daerah. Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara menilai pameran ini sebagai bukti bahwa Kendari mampu menghadirkan ruang seni yang hidup, kreatif, dan relevan dengan isu lingkungan masa kini.
Kehadiran berbagai tokoh dan komunitas semakin memperkuat posisi kegiatan ini sebagai momentum penting dalam membangun ekosistem seni daerah.
Puncak acara ditandai dengan prosesi melukis bersama di atas kanvas—sebuah tanda dimulainya perjalanan kreatif yang diharapkan terus berlanjut.
Antusiasme masyarakat pun terlihat jelas, baik dari kunjungan langsung maupun gaung di media sosial.
Pada akhirnya, Rongai-Siggi tidak hanya dipandang sebagai pameran semata, tetapi pernyataan bahwa kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan industri mampu melahirkan nilai baru.
Dari yang terlupakan, lahir karya; dari yang tersisa, tumbuh harapan. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment