SURABAYA — Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, mulai tancap gas memburu investor untuk mempercepat agenda hilirisasi industri dan agribisnis.
Langkah agresif itu ditunjukkan melalui rangkaian forum bisnis dan penjajakan kerja sama investasi di Surabaya, Jawa Timur, yang kini diposisikan sebagai pintu masuk memperluas jejaring industri nasional hingga internasional.
Daerah yang selama ini dikenal sebagai penghasil komoditas mentah mulai mengubah arah pembangunan ekonomi.
Pemerintah daerah tidak lagi ingin sekadar menjadi pemasok bahan baku, melainkan membangun rantai industri hilir yang mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, hingga memperkuat daya saing ekonomi Sulawesi Tenggara.
Salah satu fokus utama yang kini ditawarkan kepada investor ialah hilirisasi sektor agribisnis. Komoditas unggulan seperti kakao, kelapa, cengkeh, gula aren hingga kemiri selama ini sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah ke Makassar maupun Surabaya tanpa proses pengolahan lanjutan.
Konsultan Ekonomi dan Investasi Kolaka Utara dari Tenggara Strategics, Amran Silalahi, menilai kolaborasi dengan dunia usaha menjadi langkah penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
Karena itu, jajaran Pemkab Kolaka Utara menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur guna memperkuat jaringan investasi dan industri.
“Potensi daerah harus didorong melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan pelaku industri agar pertumbuhan ekonomi bisa berjalan lebih cepat,” ujar Amran dalam forum di Surabaya, Sabtu (9/5/2026).
Ia mengungkapkan, produksi kelapa di Kolaka Utara mencapai sekitar 4.500 ton per tahun, sementara produksi kakao menembus sekitar 8.000 ton per tahun. Namun hingga kini, hasil perkebunan tersebut masih minim hilirisasi dan belum memberikan dampak ekonomi maksimal bagi masyarakat.
Padahal, pemerintah daerah tengah menyiapkan konsep kawasan industri hilirisasi kelapa terintegrasi di Sulawesi Tenggara. Nantinya, seluruh bagian kelapa dirancang dapat diolah di dalam daerah, mulai dari daging kelapa, cocopeat, hingga produk turunan seperti briket dan bahan industri lainnya.
Ambisi besar itu juga diperkuat dengan rencana kerja sama investasi luar negeri. Forum Investasi, Perdagangan, dan Industri Kolaka Utara yang digelar di Surabaya disebut akan dihadiri perwakilan konsulat dari 11 negara, termasuk penjajakan kerja sama investasi dengan Korea Selatan dan China.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa Kolaka Utara mulai serius memosisikan diri sebagai calon pusat pertumbuhan industri baru di kawasan timur Indonesia.
Kepala Dinas Perindustrian Kolaka Utara, Andi Khaerul Rijal, mengatakan forum investasi tersebut menjadi momentum strategis karena untuk pertama kalinya digelar di luar Sulawesi Tenggara.
Menurutnya, pemerintah daerah kini mulai mengalihkan fokus promosi investasi dari dominasi sektor tambang menuju agribisnis dan industri pengolahan.
“Fokus kami saat ini di sektor agribisnis, khususnya kelapa dan kakao,” katanya.
Ia juga memastikan pemerintah daerah siap memberikan “karpet merah” bagi investor, mulai dari kemudahan perizinan hingga pendampingan ke pemerintah pusat.
Selain itu, pemerintah mulai menyiapkan dukungan infrastruktur penunjang investasi, termasuk koordinasi kebutuhan listrik industri bersama PLN.
Di tengah persaingan antar daerah merebut investasi nasional, langkah Kolaka Utara ini dinilai sebagai upaya strategis untuk keluar dari ketergantungan ekonomi berbasis bahan mentah.
Jika hilirisasi berhasil dijalankan, Kolaka Utara berpotensi menjelma menjadi episentrum ekonomi baru Sulawesi Tenggara berbasis industri dan agribisnis modern. (MS Network)
Simak Berita Lainnya di WA Channel disini

Comment